Minggu, 05 Oktober 2014

Curhatan Sang Alam

Alam membuat kita mengerti apa arti dari kata hijau. Alam membuat kita mengerti apa arti dari kata rindang. Dan alam mengajarkan kepada kita  betapa pentingnya mereka dalam kehidupan kita. Pohon tidak pernah mengeluh ketika menusia serakah menebang mereka tanpa izin. Sungai seakan protes dengan sampah yang dibuang oleh tangan-tangan ringan manusia. Langit seakan menahan napas ketika asap dan polusi mulai memenuhi ruangan bagi sang langit. 

"Apakah manusia memang seperti ini?" Pohon membungkuk dan mmenggoyangkan dahannya bertanya pada Angin.

"Ya, manusia akan selamanya seperti ini," Angin menjawab dan berlalu pergi meninggalkan sang Pohon.

"Kita hanya bisa berdiam diri melihat tingkah laku mereka yang tak akan pernah usai, wahai Pohon," Tanah kering mulai mengeluarkan suaranya.

"Jangankan kalian, aku pun harus merasakan asap hitam itu mengotori biruku," Langit mulai terbatuk. 

"Sudahlah, toh kita tak akan bisa membuat mereka jera sebelum kita mengeluarkan kemarahan kita pada mereka," Sungai ikut membaur dengan obrolan mereka. Sungai sudah mulai terlihat hitam dan bau karena tumpukan sampah yang kian menumpuk.

Alam hanya bisa menghela napas pasrah dan menjalankan hidup mereka sesuai keinginan manusia. Jika manusia berhati baja itu menghancurkan mereka, maka jika kemarahan sang alam tak dapat dipendam lagi, segalanya akan terbalik. Alam-lah yang akan memporak porandakan manusia. Dengan banjir, Sungai sudah memberikan peringatan. Dengan kemarau, Tanah sudah memberikan peringatan. Pohon yang terlihat pasrah, tapi sebenarnya tidak. Mereka sudah bekerjasama dengan Tanah dan Sungai untuk memberikan peringatan besar pada manusia.  

"Apakah peringatan itu sudah cukup?" Tanya sang Langit.

"Sudah kubilang bahwa mereka tidak akan jera," Pohon menggoyangkan dahannya.

"Hanya manusia berhati putih saja yang akan memperhatikan kita," ujar Tanah.

"Ya, hanya mereka yang dapat membantu kita," ujar Langit dibalas anggukan oleh seluruh alam.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar