Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Maret 2018

Coffee Latte (1)


Aku meminum kopi latte hangat. Orang bilang, jika aku suka meminum kopi latte, aku akan merasa diriku adalah orang paling menderita di dunia. Ini manis, tapi membuatku frustasi.


Bandung, 11 Mei 2017

Aku mendekam di dalam kosanku yang tidak terlalu besar namun panas. Aku mengusap keringatku dengan perlahan lalu membuka tab Samsung milikku. Sekadar memantau apa yang sedang menjadi perbincangan hangat di sosial media, terutama Instagram. Hei, ada pesan masuk.

"Mohon maaf, kalau boleh tanya. Apakah ilustrasi yang ada di IG Anda, Anda yang buat?"

Belum sempat kubalas, pesan selanjutnya muncul dari si pengirim yang belum kukenal sebelumnya.

"Oh maaf saya baru liat. Memang itu ilustrasi yang Anda buat. Semoga lain kali kita bisa bekerja sama."

Aku tak  tahu siapa dia. Kusempatkan membalas pesan dia dengan "Aamiin." saja, lalu kembali melanjutkn aktifitasku yang sempat tertunda.

Aku tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa keajaiban akan muncul setelah pesan itu datang. Pesan dari si pengirim asing yang tidak kugubris sama sekali. Aku hanya iseng membuka instagramnya dan melihat-lihat fotonya. Tidak ada yang istimewa.Setelah itu aku keluar dari instagram dan kembali menonton drama korea dengan temanku.

Bandung, 16 Mei 2017

Aku, perempuan penyendiri yang susah untuk keluar kosan. Bagiku kosan kecil nan panas ini sudah menjadi tempat ternyaman di Bandung. Aku menghabiskan waktuku di sana. Tak peduli apakah aku kenal dengan teman kosanku atau tidak, aku cukup  nyaman dengan kehidupanku yang kala itu hanya bergelut dengan skripsi dan order gambar. Oh, saat itu skripsi menjadi salah satu benda yang membuatku selalu ingin membantingnya. Aku tidak kuat.

Tring. 

Oh, ada pesan datang di Instagram.

"Assalamualaikum Hon.
Saya punya teman editor di sebuah penerbitan.
Mereka sepertinya tertarik dengan karya-karyamu.

Btw, sekarang kamu sedang TA ya? Kalau boleh tahu
TA-nya tentang apa? Siapa tahu bisa diterbitkan.
Dan bolehkah saya minta kontakmu? 
Terima kasih  sebelumnya."

Aku terdiam. Tidak kubalas pesannya selama beberapa detik. Aku hanya berpikir bahwa apakah ini nyata? Hei, ada satu penerbit yang suka dengan karyaku!

Aku memberikan tabku pada temanku yang kebetulan sedang main di kosanku. Kulihat dia membuka matanya lebar-lebar. Ya, dia tahu keinginanku, dia tahu apa yang sedang kuharapkan, dan dia tahu apa yang sedang kucita-citakan. Dia bilang ini kesempatakanku. Dia pun menyuruhku untuk cepat membalas pesannya.

Aku pun membalas pesannya.

"Waalaikumsallam. 
Maaf baru balas kak. 

Iya ini saya lagi TA. Karena aku jurnalistik,
TA aku judulnya Kebijakan Redaksi pada 
Kanal Seni dan Budaya. Berhubungan sama
keredaksian di salah satu media online. 

Penerbit mana ya kak?

Wah ... alhamdulillah kalo mereka
suka sama karyaku."

 
Aku memberi dia kontakku agar kami bisa dengan santai berkenalan dan membicarakan apa yang dia inginkan dari karyaku. Dia, si pengirim itu mengirim pesan via WhatsApp. Jika berkenan, aku disuruh datang ke Jakarta untuk ikut rapat editor. Kamu tahu? Aku bahagia dengan ajakannya. Aku tidak pernah berpikir negatif tentang si pengirim itu. Aku bahkan tidak pernah berpikir bahwa dia orang jahat yang sedang modus untuk menipuku. Entah kenapa.

Jakarta, 2017

Aku bahagia. Sangat bahagia. Saat itu aku pikir, apa ini jalan yang sudah Allah bukakan untukku?

"Hon, aku mau ngajak kamu buat bikin buku. Aku udah lihat instagram kamu dan lucu-lucu banget gambarnya."

Loh? Aku kira aku hanya akan menjadi ilustrator untuk penulis saja. Ternyata aku diajak untuk menjadi seorang penulis di penerbit besar ini.

"Nah, nanti kita bikin satu tema buat buku kamu dengan memakai tokoh kartun kamu yang ada di instagram itu. Siapa namanya? Honhon dan Damar?"

"Iya," jawabku singkat. Saat itu aku masih malu dan merasa belum pantas untuk masuk ke penerbit besar seperti ini.

Jika orang berpikir, enak sekali rasanya perempuan biasa sepertiku tidak perlu bersusah payah mengirim naskah untuk menerbitkan suatu buku, maka jawaban mereka salah. Aku selalu dihantui rasa bersalah dan kecemasan jika buku yang kuterbitkan tidak laku. Bagaimana jika mereka kecewa dengan hasilnya, bagaimana jika karyaku tidak seperti yang mereka inginkan, bagaimana jika mereka menaruh harapan besar padaku namun semuanya akan sia-sia? Bagimana?

Itu yang kupikirkan. Ketakutan-ketakutan itu yang membuatku frustasi.

Aku menjadi sosok yang berambisi ketika aku memulai hidupku yang baru sebagai seorang penulis pemula. Aku menghabiskan waktuku untuk menggambar, mencari ide, mengejar target dan  sibuk memikirkan apakah gambaranku sudah sesuai  atau belum. Sedikit demi sedikit aku sudah tidak peduli lagi dengan skripsiku. Aku lebih mementingkan karyaku ketimbang skripsiku. Sejenak aku melupakan beban skripsiku.


Menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan dua buku membuatku bahagia. Sangat bahagia. Rasanya seperti dilemparkan ke langit. Melambung tinggi ke atas saat karyaku dipuji oleh editorku. Hah... semoga karyaku menjanjikan. Aku akan sangat malu jika karyaku tidak seperti yang mereka harapkan.

"Hon, kita bakal PO 100 buku kamu. Semoga laku ya. Eh kayaknya bisa lebih nih. Apa lima ratus aja ya Hon?"

"Kalau laku kita nanti bakal cetak buku kamu yang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Kereeenn...."

Berhenti.

"Bener banget, nanti kita buat ide yang baru lagi buat buku kamu."

 Berhenti.

"Semoga ini kejual habis ya Hon. Hebat banget karya kamu. Lucu-lucu gitu. Pasti laku."

Aku mohon berhenti!

Aku mohon berhenti untuk menaruh harapan-harapan itu padaku. Aku tidak bisa menerima itu. Di satu sisi aku bahagia, tapi di satu sisi aku takut untuk menanggung semua beban itu. Aku takut. Aku hanya tersenyum mengangguk dan kembali takut. Aku tahu bahwa ini jalan yang sudah Allah berikan. Tapi entahlah. Aku bahagia dan frustasi dalam waktu yang bersamaan.

Desember, 2017

Dua bukuku sudah terbit. Aku  turut mempromosikan bukuku di instagram ataupun personal ke teman-temanku. Kamu pasti tahu rasanya cita-citamu tercapai dengan baik dan jalan yang tidak berliku. Oh kawan, itu menyenangkan.

Menyenangkan.

Oh, apakah semenyenangkan ini?

Sangat menyenangkan. Kamu harus merasakannya!

Menyenangkan.

Menyenangkan.

Menyenangkan.

Tidak.


Ini tidak lagi menyenangkan.

Jatuh.

Aku jatuh.

Aku frustasi.

Aku ... pesimis.


Ping.

 Aku membuka tabku. pesan via WhatsApp.

Aku terdiam. Ini ... ketakutanku ... menjadi kenyataan.

"Hon, penjualan buku kamu kurang bagus."


Lalu, waktu ini sekan kembali terulang.

"Hon, saya kenal kamu dari Anan. Kamu ... mau buat buku lagi?"

Aku diam. Sedikit takut untuk melangkah maju. Tapi....

"Jangan pesimis, Hon!"






Share:

Minggu, 04 Maret 2018

Hai Dunia Maya, Kamu Hebat!

Senang sekali rasanya berkenalan dan 'berteman lagi' dengan kawan lama. Kami dulu tidak pernah tegur sapa apalagi berbincang lama layaknya kawan seangkatan.

Hei, kamu tau? Betapa hebatnya media sosial yang kembali membuat aku dan dia chatingan panjang tentang suatu hal. Tentang sesuatu yang sebelumnya bahhkan tidak aku ketahui. Dia menyapaku dan bercerita panjang via DM Instagram.

Sekali lagi, aku berterima kasih kepada media sosial yang sudah membuat aku dan dia menjalin hubungan seperti halnya teman seangkatan. Dia menyapaku via DM Instagram, menyapaku ketika aku live instagram, menyarankanku untuk ini dan itu. Banyak sekali kami bercerita panjang lebar di media sosial.

Oh, kukira aku dan dia akan berteman lama. Akan saling mengenal layaknya kami di media sosial. Wahai media sosial, aku bersyukur karena kamu telah membuat tali pertemanan kami yang tadinya tak pernah terikat, kini mulai terikat dengan rapih.

"Hai. Hari ini nggak gambar?'

"Gambar kok."

"Rekam dong. Kamu bikin channel youtube. Lumayan lho...."

"Nggak bisa ngedit."

"Nanti aku yang ngedit."

"Beneran?!"

Aku tidak percaya dia akan mengatakan itu di hari pertama kami chating di Instagram.

"Iya. Santai aja, aku yang ngedit."

"Oke kalau gitu."

Sejak saat itu obrolan kami semakin mengalir walau hanya seputar gambar dan edit video menggunakan alat ini dan itu yang menurut dia mudah untuk kupakai.

Hah ... aku kira kita akan berteman dan bertegur sapa di dunia nyata. Nyatanya dia tidak menyapaku  sebagaimana yang dia lakukan di media sosial. Lihat saja, aku tidak akan menyapanya lebih dulu. Aku ingin melihat apakah dia akan menyapaku atau tidak.

Aku melihatnya kala itu.

Dia di depanku!

Di depanku!

Tapi apa yang dia lakukan? Dia diam. Aku pun tidak bisa menyapanya karena dia pun diam saja. Melihatku saja tidak.

Waw, betapa hebatnya media sosial.

Bukan hanya dia, bahkan ada dia dia lainnya yang seperti itu.

Tring.

Satu buah pesan instagram membuat ponselku berbunyi.

"Hai Hon."

"Oh, hai."

Tumben sekali dia chat aku duluan. Lagi, kejadian ini terulang kembali. Kami tidak pernah saling sapa apalagi mengobrol panjang lebar walau kami teman seangkatan. Dan bodohnya, aku kembali berpikir bahwa aku dan dia bisa berteman layaknya hubungan pertemanan pada umumnya.

"Bikinin aku gambar dong."

"Oh, iya boleh. Tapi bulan ini lagi nggak open order."

"Bukan buat bulan ini kok. Nanti pas wisudaan temen."

"Oh oke. Kontak aja lagi."

"Sumpah, gambar kamu bagus banget!"

"Makasih...."

Dan obrolan kami mengalir sebagaimana aku dan dia pernah berbicara dan bertegur sapa sebelumnya.

Oh hai dunia nyata, ternyata dunia  maya lebih menyenangkan bukan?

Kejadian ini terulang lagi. Setelah aku menggambar untuknya, setelah kami berbicara panjang lebar, aku tahu bahwa aku hanya teman media sosialnya saja.


Sebelumnya aku betanya dalam hati, kenapa mereka selalu datang di saat seperti ini? Saat mereka menginginkan gambaranku?

Lagi. Bukan hanya dia yang memintaku untuk menggambar dirinya dengan 'pasangannya' tapi masih ada dia dia lainnya yang seperti itu.

Hai dunia nyata, tahukah kamu bahwa ketika aku bertemu dengannya, kami tidak saling bertegur sapa kembali?

Lucu bukan? Memang begitulah dunia nyata pada umumnya.

Bukankah media sosial lebih menyenangkan? Aku dan dia dia lainnya masih bisa berbicara panjang lebar atau sekedar 'berpura-pura' berteman?

Bukankah menyenangkan bisa mengobrol tanpa tahu mimik wajah dan apa yang dia pikirkan tentang kita?

Hai dunia maya, ternyata hal-hal seperti itu membuat hatiku perih. Bagaimana bisa temanku seperti itu?

Bagaimana bisa kami hanya bertegur sapa via media sosial, entah itu instagram, line atau facebook?

Maka dari itu, aku harap kita saling bertegur sapa di dunia nyata layaknya kita berbicara akrab di dunia maya. Bisakah kita seperti itu?  
Share:

Jumat, 08 September 2017

Aku Takut Bahagia

Tangerang, 11.27 WIB.

Bukankah bahagia itu menyenangkan? Siapa yang tidak bahagia saat diterima masuk sekolah unggulan? Siapa yang tidak bahagia saat mendapatkan apa yang kita inginkan? Siapa yang tidak bahagia saat seseorang yang kamu inginkan benar-benar datang ke dalam hidupmu? Siapa yang tidak senang lulus dengan nilai yang dirasa cukup memuaskan? Dan siapa yang tidak senang saat diterima kerja walaupun ijazah belum keluar?

Entah sejak kapan kata 'bahagia' menjadi sangat menakutkan. Kamu tahu? Rasanya seperti ada beberapa jarum yang tertusuk di kakimu. Sakit.

Dulu aku tidak pernah seperti itu. Aku pun tidak tahu apa penyebabnya. Mungkin dulu aku pernah mengalami rasanya terlalu bahagia namun tiba-tiba juga aku terjatuh. Mungkin dulu aku pernah merasakan indahnya bahagia sampai akhirnya kebahagiaan itu hilang ditelan bumi. Nihil. Tidak berbekas.

Sejam yang lalu, tepatnya sebelum aku menulis ini, aku mendapat telepon dari tempatku melamar kerja. Dia bilang, kamu diterima.

Kamu tahu apa yang kulakukan? Aku hanya menjawab, ya, terima kasih.

Bahkan setelah itu aku mendapat pesan singkat bahwa aku bisa langsung menyerahkan revisian skripsiku di hari minggu mendatang.

Ada letupan kebahagiaan bahkan sempat bersorak bahagia, tapi hilang begitu saja. Tidak jingkrak-jingkrakan penuh kebahagiaan, tidak memeluk mama bapak, tidak juga sujud syukur. Aku hanya bilang kepada diriku, semoga ini jalan yang terbaik.

Entah sejak kapan. Aku pun bingung. Entah sejak kapan aku menjadi penakut seperti ini. Saat kebahagiaan itu muncul, selalu ada hal-hal negative yang terus terngiang dalam kepalaku.

Bisakah aku menjadi seseorang yang mereka inginkan?

Apakah ini tidak akan mengecawakan mereka?

Apakah kedepannya aku akan mendapat kesulitan?

Apakah... apakah... apakah??

Menghindari ketakutan yang selalu muncul setelah aku mendapatkan kebahagiaan, aku selalu menenangkan pikiranku dengan berkata, kalau Allah sudah memberi sesuatu, mungkin itu yang terbaik. Entah itu jalan yang berkelok atau lurus. Lalu ketakutan itu pergi.

Mungkin bukan hanya aku yang seperti ini. Mungkin juga kamu memiliki rasa seperti itu. Maka jalan satu-satunya, tetap bersyukur dan berdoa kepada-Nya.






Share:

Rabu, 29 Maret 2017

Hello Monster

Semua berawal dari mata dan telinga yang lelah dengan pelajaran. Aku mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen. Pelajaran matematika sungguh membosankan. Kulihat temanku yang duduk di bangku sebelah, Bella namanya.

Tangannya begitu asyik menyatukan garis demi garis hingga membentuk sebuah pola.

"Bel, ajarin dong!"

"Boleh."

Akhirnya, semua berubah saat negara api menyerang. Aku hidup dalam kendali monster yang membuatku tak bisa lepas darinya. Hei, aku benar-benar tidak sanggup melepasnya.

Sekarang umurku akan menginjak 22 tahun. Dan kejadian menyeramkan itu terjadi sekitar 13 tahun lalu. Bayangkan monster warna-warni dalam tubuhku hinggap dengan damainya.

Oh, apa tadi aku bilang monster itu menyeramkan? Maaf, aku salah. Mereka monster lucu yang terus menggelitik imajinasi dan kekuatan tanganku untuk terus bergerak. Ya, bergerak membuat garis lurus, lingkaran, garis miring, dan garis tipis lainnya.

Kuberitahu kalian.

Dalam tubuhku bukan hanya ada satu monster, tapi beberapa moster. Mereka yang menemaniku hingga di usiaku yang sudah tidak muda lagi.

Monster itu yang menggerakkan seluruh tubuhku, harapanku, imajinasiku untuk terus berkembang, berkembang, dan berkembang menjadi pusaran negara api. Negara kekuasaan kami.

Suatu hari, pernah aku menutup diriku untuk tidak menerima apapun dari monster-monster itu. Aku bingung. Beberapa orang bilang bahwa menjadi seorang seniman tidaklah begitu berarti. Tidak akan ada harapan untuk hidup jika aku berteman dengan monster-monster itu.

Selama hampir tiga tahun, aku menutup diri dari monster-monster itu.

Pernah dengar pepatah, tak kenal maka tak sayang? Tentu saja kalian pernah!

Ini yang kualami pada monster-monster berwarna itu. Kami sudah berteman sejak lama, maka tak mungkin kami tidak saling merindu dan menyayangi. Well, aku rindu kehadiran mereka.

Kubuka lagi negaraku sendiri. Duniaku sendiri. Monster-monster itu seperti berloncat-loncat manis ke arahku. Mereka mengatakan : Selamat datang kembali, Hani!!


Aku kembali pada dunia warna-warniku, dunia pensilku, dunia garisku. Negara apiku yang cukup membuatku semangat untuk kembali pada mereka, monster-monster manisku.

***

Di tahun 2013, aku berkesempatan dibelikan Notes GT-N5100 oleh bapak. Awalnya aku tidak memiliki niatan untuk membeli gadget berukuran sedikit besar. Namun yang kucari, di sana ada stylus untukku menggambar. Well, mungkin saatnya aku merubah hobiku dan mengajak monater-monsterku masuk ke ranah digital.

Mereka tertawa gembira.

Akhirnya aku bisa membawa mereka ke dunia penuh kecanggihan ini.

Seperti sebelumnya, aku harus mengulang semuanya dari awal. Monster-monster yang ada di dalam diriku pun awalnya cukup sulit untuk bersatu dengan dunia digital. Tapi semakin berjalannya waktu, hari, bulan dan tahun, aku semakin bisa menguasai dunia warna-warniku. Duniaku dan dunia monster-moster manisku.

Mereka kembali mengajakku berimajinasi lebih. Mereka mengajakku menyelami diriku dalam warna dan pola yang lebih tebal. Sampai akhirnya, aku menemukan ladang bisnisku yang berawal dari hobi.

Kau tahu apa yang kurasakan? Aku bahagia dengan hadirnya monster-monster manis yang ada dalam tubuhku.

Terimakasih Bella dan monster lucu. Berkat kalian, aku bisa menggambar sesuai imajinasiku.



(Bandung, 22:13 WIB)



Share:

Selasa, 28 Maret 2017

Doa Anak Rantau



Angin pagi, oh bukan, maksudku angin di subuh hari membuat tubuhku menggigil. Walaupun Tangerang panas, angin subuh tetaplah paling menyegarkan.  Aku memegan erat tali tasku supaya tidak jatuh. Mengingat di dalam tas itu ada laptop dan barang berharga lainnya.

***

Setiap aku ingin kembali merantau ke Bandung, bapaklah seseorang yang pasti akan mengantarku ke Pool Budiman setelah subuh. Dapat dipastikan bapak akan menungguku sampai aku siap berangkat.

Di waktu subuh, hari di mana aku akan kembali ke Bandung, seisi rumah, terutama mama akan sibuk menyiapkan segalanya untukku. Mama akan bangun lebih subuh untuk membuatkan segelas teh manis hangat dan membekaliku nasi dengan taburan ampela pedas di atasnya. Tidak lupa juga sendok. Padahal aku punya persediaan sendok di kosan.

Selalu ada yang mama dan bapak ingatkan untukku.

"Jangan lupa casan."

"Jangan lupa laptop, Teh."

"Itu revisian gak akan dibawa?"

"Udah? Gak ada yang ketinggalan?"

Aku selalu rindu saat-saat seperti itu. Tak ingin kulangkahkan kaki keluar rumah ketika waktu itu datang. Mereka yang menyiapkan segalanya, mengingatkan segalanya, menemaniku sampai aku siap pergi lagi ke Bandung. Rasanya tak ingin lagi aku merantau. Ingin tetap ada di dekat mereka.

Bapak sudah siap di luar dengan motor Hondanya. Mama dan kedua adikku pun keluar untuk melambaikan tangan mereka untukku. Selesai memakai sepatu, aku salim pada mama.

Ma, doakan anakmu ini untuk lulus tepat waktu. Aku selalu meminta doanya untuk kelancaranku dalam segala hal.

"Belajar yang bener," ujar mama.

"Hani pergi dulu ya ma. Assalamualaikum."


"Gak ada yang ketinggalan kan?"

Lagi, mama pasti akan bertanya seperti itu. Kalau tidak mama, bapak yang akan bertanya.

"Enggak insyaallah."

Berangkatlah aku menuju Pool Budiman yang pasti keberangkatanku itu dihiasi dengan tangisan adik bungsuku. Dasar, kalau seperti itu mana tega aku meninggalkannya?

***

Sampai di Pool Budiman, aku langsung ke tempat pembeliatan tiket. Karena sekarang Budiman menggunakan sistem Ticketing.

"Mau ke mana, Neng?" tanya bapak penunggu tiket.

"Ke Cileunyi, Pak."

"Langsung naik aja."

Aku pergi dari loket menuju bus bertuliskan Tasik-Tangerang di depannya. Tentu saja dengan bapak yang mengikutiku di belakang. Baiklah, bus sudah penuh. Tak ada lagi tempat duduk yang tersisa. Akhirnya aku dan bapak kembali turun. Menunggu bus selanjutnya.

"Penuh Neng? Ke sana, beli tiket dulu," ujar bapak penunggu tiket .

Aku mengangguk dan pergi lagi meninggalkan bapak menuju loket. Karena busnya beda lagi, aku harus membeli tiket untuk masuk ke bus selanjutnya. Jurusan Kawali-Tangerang.

Setelah mendapatkan tiket, aku kembali ke tempat di mana bapak suda berdiri di samping motornya.

"Dapet Neng?"

"Ini." Aku menunjukkan tiketku. Bangku nomor satu.

"Ya udah, bapak tinggal ya."

Aku mengangguk. Sejujurnya Pak, aku tidak ingin ditinggalkan sebelum aku masuk ke bus. Entahlah, hari itu aku sedang tidak ingin ditinggal oleh bapak. Aku tidak ingin sendirian.

Bapak sudah memegang stang motor. Kukira bapak akan pergi meninggalkanku sendirian. Tapi ternyata bapak hanya memajukan motornya saja. Bapak tidak meninggalkanku sendirian di Pool Budiman. Aku tersenyum. Sudah sering bapak mengatakan hal seperti : "Bapak tinggal ya , Neng."

Sampai akhir, bapak akan tetap menungguku sampai aku duduk manis di dalam bus.

Bus selanjutnya sudah maju ke perbatasan. Aku segera naik bus tersebut dengan bapak yang tentu saja turut naik untuk mengantarku. Memeriksa bahwa putrinya sudah duduk manis di dalam bus.

Aku salim pada bapak.

"Hati-hati ya, Neng. Ntar kalau sudah nyampe Bandung, kabari mama atau bapak. Belajar yang rajin."

Bapak mencium kedua pipiku, mengusap kepalaku lalu turun dari bus.

Terkadang bapak akan menunggu sampai bus yang kutumpangi pergi meninggalkan Pool Budiman. Terkadang bapak akan pergi duluan menuju kantor. Alasannya karena bus yang kutumpangi terlalu siang untuk diberangkatkan. Takut bapak telat ke kantornya yang ada di Jakarta.

Dari jendela bus, putrimu ini selalu melihat sosokmu yang sedang menunggu atau sosokmu yang pergi lebih dulu dengan motormu.

"Semoga bapak sampai kantor dengan selamat."

Selalu itu yang kudoakan untuknya.


(Bandung, 19:36 WIB)








Share:

Sabtu, 04 Maret 2017

Kardus Kecil Bernama Warnakerta

Aku ingin bercerita tentang aku yang ada dalam sebuah kardus kecil. Kardus kecil penuh keberagaman warna dan mainan. Ini bukan pertama kalinya aku bermain di lingkungan baru  tapi ini pertama kalinya aku bermain dalam sebuah kardus kecil dengan dua belas kepala yang berbeda.

Tunggu, aku belum menceritakan sesuatu. Aku tidak bermain sendiri dalam kardus kecil itu. Aku bermain dengam 12 anak yang berbeda-beda. Berbeda pikiran dan sifat.

Awalnya aku takut untuk masuk ke dalam kardus kecil itu. Aku takut sifat dan pikiranku tidak sejalan dengan mereka.


Sebelum aku dimasukkan ke dalam kardus kecil nan ajaib itu, aku berdoa semoga Allah memberiku tempat yang tepat.

Setelah jatuh ke dalam kardus, aku terdiam. Kardus itu gelap. Aku tidak bisa melihat apapun. Aku hanya diam dan berharap untuk bisa keluar dari sana. Tapi di ujung kardus itu, aku melihat cahaya. Kulihat 12 orang lain yang tadi sempat kuceritakan, sedang asyik bermain. Mereka tertawa, saling melempar canda.

Sedangkan aku? Aku hanya diam di tempat gelap tanpa berani melangkah ke tempat bercahaya itu. Aku terlalu takut dengan cahaya. Aku terlalu takut, ketika aku datang, tempat itu akan redup secara perlahan. Aku takut.

"Kalau kamu tidak mencoba, maka kamu gagal!"

Kudengar bisikan itu dari hati dan pikiranku. Dengan takut, aku melangkah sedikit demi sedikit. Beberapa mainan yang kuperlukan, aku ambil untuk kuberi pada mereka.

Bunyi suara langkahku membuat 12 orang itu menoleh. Aku memejamkan mataku. Sungguh, aku ingin pulang. Ditengah ketakutan, aku merasakan tanganku disentuh. Aku membuka mataku.

"Ayo kita main!" seru anak perempuan yang tadi menyentuh tanganku.

Tanpa persetujuan, dia menarikku ke tempat bercahaya itu. Di sana ada berbagai macam mainan dengan warna yang berbeda. Sedikit demi sedikit aku mulai berani memberitahu pada mereka siapa aku sebenarnya, seperti apa sifatku, dan bagaimana caraku berpikir. Mereka setuju dan menerimaku dengan lapang dada.

Beberapa hari aku bersama mereka, kardus kecil ini mulai terang. Tidak semua, tapi cukup membuatku senang. Tandanya aku sudah masuk ke dalam kehiduupan mereka yang bercahaya.

"Bagaimana kalau cahaya kardus?"

Kami sedang mendiskusikan apa nama yang tepat untuk kardus kecil nan ajaib ini.

"Terlalu panjang,"

"Cahaya cinta?"

"Hah, seperti nama film di televisis saja."

Kami tertawa.

"Bagaimana kalau Warnakerta?"

Aku setuju!

Mereka pun setuju.


Aku tersenyum. Ini deskripsiku tentang sebuah lingkungan baru. Aku KKN di salah satu Desa di Garut bernama Wanakerta.  Sebulan aku hidup dengan orang-orang yang tidak kukenal. Orang-orang yant memiliki ego dan sifat masing-masing, yang memang harus dimaklumi dan diterima dengan lapang dada. Pasti ada konflik, pasti ada ketakukan, dan pasti juga ada kebahagiaan dan kenangan di dalamnya.



Terima kasih.

(Garut, Wanakerta, 12.03 WIB).




Share:

Selasa, 07 Februari 2017

Dia, Si Pembuat Hoax Terbaik

Menurutku, dia adalah seorang dengan predikat tinggi di sini. Dia memiliki segalanya, termasuk intelejen, data statistik, media, otak manusia, pergerakan manusia, senjata, dan segala hal berbau kekuasaan.

Di sore yang sedikit mendung, Bandung membuatku lelah dengan segala aktifitas orang yang berlalu lalang di jalan. Aku membuka salah satu akun instagram milik @fuadbakh. Instagram yang selalu membuatku terkagum beberapa kali karena dia mengajarkan Islam dengan caranya. Tentang kebenaran dan kewajiban dalam Islam.

Aku duduk di terminal Damri, depan kampusku. Menunggu Damri selanjutnya datang. Kumainkan jempolku untuk men-scroll postingan instagramnya. Tentu saja isinya tentang hal yang sekarang ramai diperbincangkan.

Ya, tentang Islam. 

Penistaan agama, penistaan pancasila, penyadapan telepon mantan presiden, terorisme, PKI yang mulai bermunculan, juga hoax yang sedang berkembang pesat di ranah bebas ini. 

Saat sedang asik menikmati dan berpikir makna dari video yang dia posting, ada satu mahasiswi, mungkin umurnya sama denganku, duduk di sampingku.

Seperti sudah menjadi kebiasaan saat menunggu, dia mengeluarkan gadget dan membuka instagram juga. Aku tidak bermaksud mengintip, hanya saja memang terlihat olehku. Karena jarak duduk kami hanya sedikit.

"Siapa sih pemegang hoax terbesar? Bikin geger masyarakat aja kalau banyak yang begini terus!" Dia berdecih kesal.

"Coba lihat penuturan Rocky Gerung di acara Indonesian Lawyer Club," jawabku tiba-tiba. Kutunjukkan juga potongan video yang diposting pengguna instagram @fuadbakh.

"Siapa dia?" tanyanya.

"Dia Peneliti Perhimpunan Pendidikan Demokrasi. Dosen FIB UI. Dia ngejawab soal yang kamu tanya tadi," jawabku lagi.

Di sana, dia menjawab, hanya 'petinggi' (saya ubah redaksinya) yang potensili bisa melakukan itu. Dia punya segalanya. 

"Kalau begini, jadi inget sistem pemerintahan di Korea Utara yah? Media bener-bener dikuasai pemerintahan. Jadi inget juga sama jamannya mantan presiden kita," ujarnya.

"Hoax itu punya batasannya. Kalau berita yang dia bawa nilainya di bawah 0, itu sudah masuk hoax. Itu tandanya, hoax itu kebohongan lebih dari kebohongan. Kita, rakyat biasa, bisa saja marah. Tapi itu faktanya."

Dia mendengarkan penjelasanku. Mungkin cerita ini menjadi cerita yang menarik baginya.

"Ada salah satu wartawan yang bercerita padaku. Kebetulan waktu itu aku sedang PKL di sana. Saat sedang makan soto di luar gedung, aku meminta padanya untuk bercerita mengani media saat ini."

Kulihat dia mengangguk cepat. Antusias.

"Aku tanya, apa sebenarnya dia memiliki idealisme untuk membuat berita yang benar dan terpercaya. Lalu dia jawab bahwa dia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali mengikuti atasannya. Susah rasanya jika sudah jatuh ke lingkaran seperti itu."

"Dia juga bilang, ingin sekali dia berpegang teguh pada 9 elemen kejurnalistikan yang memang harus dijaga baik-baik. Tapi sekarang, itu sudah sedikit memudar," ceritaku.

"Lalu bagaimana kita bisa percaya pada mereka jika kita diberi hal-hal bohong terus seperti ini?" tanyanya.

Aku mengangkat bahu. Kuingat kembali akan hadirnya 'Dia' di negara ini. Kumohon padamu, berikan kebebasan media untuk memberikan yang terbaik. Media lokal, media nasional internasional, mapun media kampus. 

Kalau saja ada seseorang yang tiba-tiba berbicara : Huh, semua gara-gara media!!!

Aku, selaku mahasiswa yang berkecimpung di dunia media, merasa sakit. Walaupun memang jiwaku tidak sepenuhnya ada di sana. Tapi bagaimana dengan mahasiswa dan mereka yang tulus ingin membantu masyarakat untuk memperbaiki kebenaran media? 

Hai pembuat hoax terbaik, pikirkanlah jika anak muda itu adalah anakmu yang dibohongi oleh ayahnya sendiri. Sikap seperti apa yang akan kau ambil?


Share:

Kamis, 05 Januari 2017

Namanya Fatih



                                                                    pict: Maori Sakai



Namanya Fatih. Laki-laki sholeh yang kutemui di Cianjur.

Saat itu kampusku  mengadakan KKN atau Kuliah Kerja Nyata yang artinya kita semua terjun ke lapangan untuk tahu bagaimana rasanya ada di tengah masyarakat, membantu masyarakat dan tentu saja untuk menyelesaikan tugas akhir perkuliahan di tingkat akhir.


Namanya Fatih. Laki-laki tak berperasaan yang bertanya padaku lebih dulu.

Awalnya dia memulai percakapan dengan : Nama kamu Nisa? Kamu dari jurusan Jurnalistik?

Kupikir, hei, harusnya dia mengetahui namaku sejak kita bertemu di awal pertemuan kelompok KKN. Ah, tapi yasudahlah, toh aku juga tidak begitu hafal semua nama peserta KKN kelompokku. Mungkin dia juga seperti itu. Sejak awal pertanyaan keluar dari mulutnya, aku menjadi seseorang yang selalu dia suruh untuk mengerjakan tugasnya.


Namanya Fatih. Mahasiswa berprestasi di kampusku.

Aku tidak begitu tahu tentang laki-laki pendiam itu sebelum teman satu jurusan yang tentu saja satu kelompok denganku memberitahuku rahasia besar tentang Fatih. Dia bilang, selagi aku mengerjakan tugas dengan Fatih, banyak mahasiswi yang memperhatikan kami dari jauh. Salah satu dari mereka memulai pembicaraan.

"Kenapa bisa ya?"

"Aneh."

"Padahal setahuku mereka baru kenalan kemarin."

"Dia anak jurnalistik kan?"

Karena penasaran, temanku mendekati mereka dan bertanya, apa yang salah dengan kedekatan kami berdua?

Lalu mereka menjawab, Fatih itu laki-laki yang terkenal jarang berbicara. Sikapnya cenderung tertutup dan berbicara seperlunya  dengan lawan jenis. Fatih juga tidak begitu tertarik untuk dekat dengan perempuan, dalam arti pacaran. Dan sekarang, Fatih dekat dengan seorang perempuan bercelana jins dan berkaos namun bejilbab yang berasal dari jurusan jurnalistik.


Namanya Fatih. Laki-laki pintar yang tak peduli omongan orang.

Awalnya aku heran kenapa mahasiswi kelompok KKN-ku memperhatikanku dengan tatapan menyebalkan dan aneh, mungkin?

Entahlah, tapi tatapan itu membuatku penasaran hingga aku bertanya pada Fatih, ada apa sebenarnya?

Saat itu Fatih hanya mengangkat bahu dan berkata, "Jangan pedulikan mereka. Kerjakan saja tugasmu!"

Tapi lima detik kemudian Fatih bertanya, apa benar aku tidak mengenalnya sama sekali?

Kujawab dengan anggukan singkat. Yang kutahu tentangnya hanya nama dan jurusannya saja. Selebihnya, aku tidak terlalu peduli dengan latar belakang laki-laki itu, sampai akhirnya Dinda, teman baikku yang kuceritakan sebelumnya, bercerita tentang seorang Fatih.

"Oh, pantas saja banyak orang yang melihatku dengan tatapan seperti itu. Terutama mahasiswi." Aku mengunyah roti seribuan yang baru saja kubeli di warung terdekat.

"Menurut cerita juga, dia bakalan ngelanjutin kuliah S2-nya di London. Dan itu gratis tis tis! Dia dapet beasiswa full dari kampus. Ya ampun Nis, gimana kamu bisa enggak tau soal itu?" Dinda berteriak di telingaku.


Namanya Fatih. Laki-laki yang dengan santai menyebutku sebagai calon istrinya.

Kalau tidak salah, waktu itu langit sedang bersahabat denganku. Langit biru, awan putih, angin sepoi-sepoi hingga cucianku kering hari itu. Namun tampaknya tidak dengan fans Fatih yang sudah berdiri di hadapanku. Kalau tidak salah ada seitar tujuh sampai delapan mahasiswi pecinta Fatih di sana.

"Kamu dari jurnal kan ya?" tanya perempuan berkulit sedikit kecoklatan dengan logat sundanya.

"Iya," kujawab singkat.

"Pasti bisa ngebuat kata-kata manis ya?" tanyanya lagi.

Aku diam.  

'Oh, jadi dia ketuanya?' tanyaku dalam hati.

"Kamu enggak ngegunain sesuatu yang aneh kan ya buat ngedeketin Fatih?" tanya teman di sebelahnya.

"Aneh? Maksudnya pelet?" tanyaku yang lagi-lagi dengan santainya.

Kejadian ini sudah sering ada di sinetron-sinetron yang mama tonton di rumah.Satu lawan banyakan, membela laki-laki yang menjadi candu bagi mereka, yang padahal belum tentu si laki-laki itu ingin dijadikan idola. Oh, biasanya laki-laki yang dijadikan idola itu laki-laki yang dingin terhadap lawan jenisnya.

Well, yeah, itu hanya biasanya.

"Ya semacam itu."

"Atau emang kamu punya hubungan spesial sama Fatih?" tanya perempuan yang ada di paling belakang. Fotmasi mereka bentuknya segitiga, seperti formasi girl band dari Korea Selatan.

"Dia calon saya."

Aku menoleh ke samping. Fatih di sana, bersandar di tembok dengan tangan  dilipat di dadanya. Super cool. Tapi saat itu aku hanya membuka mulut dan mataku karena uacapannya. Ingin sekali kuhajar wajahnya karena ucapan menyebalkannya itu

"Bukan bukan.. aku...." Aku mengibaskan telapak tangan di depan wajahku.

"Saya terpaksa menyuruhnya diam karena kalian pasti akan seperti ini," ucap Fatih dengan santainya. Sedangkan aku mulai kalang kabut saat melihat wajah fans Fatih itu. Mereka menatapku bingung? tentu saja! Kuharap kalian bisa membayangkan bagaimana mimik wajah mereka.


Namanya Fatih. Laki-laki yang menyuruhku mengangkat telfon dari Mamanya.

Aku yang masih syok dengan ucapan Fatih tidak begitu menggubris titahannya.

"Ini, ada yang mau ngomong." Fatih menyodorkan poselnya.

"Apaan sih Fatih!" Aku berteriak sebelum akhirnya aku mendengar suara perempuan mengucapkan salam di ponselnya Fatih. Dia me-loundspeaker ponselnya. Oke, aku terjebak.

"Ah iya, Bu, waalaikumsallam."

"Wah, dari suara saja sudah indah begitu, apalagi orangnya. Fatih sering nyerita tentang kamu. Kapan ya kita bisa bertemu, Nisa?"

Yang kutahu, dia mamanya Fatih. Jadi mau tidak mau aku harus bersikap sopan padanya. Sesekali aku menjawab pertanyaan Mama Fatih dengan anggukan kecil, walau aku tahu Mama Fatih tidak bisa melihatnya. Sesekali juga aku mengatakan 'iya' dengan suara pelan.

"Dia yang bakalan jadi calon Fatih ma," ucap Fatih di akhir percakapan dengan sang mama.

"Fatih!" Aku berteriak hingga membuat Fatih menutup telinga. Dan lagi, kenapa dia harus tertawa dengan teriakanku?


Namanya Fatih. Laki-laki yang ingin aku hindari.




not the end..

Share:

Jumat, 25 November 2016

Kisah Pilu Nenek Didin


Seperti biasa, setelah aku menghabiskan waktuku di Bandung selama seminggu, aku akan kembali pulang ke Tangerang untuk melepas rindu. Toh mata kuliahku sudah tidak ada di semester ini. Aku tinggal fokus pada satu kata menegangkan, Lulus!

Niat pulang untuk mengerjakan proposal skripsi, tapi tak sanggup kukerjaka karena banyak tantangan dan godaan. Tak selesailah sudah proposal skripsiku.

Saat itu, di siang bolong ketika matahari dengan semangatnya menyemprotkan sinarnya padaku yang sedang menjemur pakaian, aku melihat sosok nenek yang sering kulihat.

Nenek Didin, begitu sapaannya. Aku tidak tahu pasti berapa usia Nenek Didin, mungkin kisaran 60-70 tahun. Sebelumnya, aku tak pernah mengenal Nenek Didin walaupun kami tetangga satu komplek. Maklum, aku anak rantau yang jarang tinggal di Tangerang.

Saat aku hendak menaruh cucian di jemuran, tiba-tiba Nenek didin datang dan mengajakku mengobrol. Aku yang saat itu tidak tahu apa-apa hanya membalas apa yang dia katakan dan sesekali tersenyum karena ada beberapa ucapannya yang tidak jelas.

Setelah kejadian iu, aku jadi sering melihat sosok Nenek Didin. Aku sempat bingung karena ia selalu jalan ke arah timur, beberapa menit kemudian Nenek Didin kembali dan berbelok ke arah selatan. Selang beberapa menit, dia muncul kembali. 

Ada apa dengan Nenek Didin? Aku sempat bertanya seperti itu dalam hati. Namun kuabaikan saja Nenek Didin yang terus bolak-balik itu dengan tangan kanan yang selalu membawa plastik, yang aku pun tidak tahu apa isi plasitik itu.

"Kayaknya udah mulai enggak waras itu si Nenek Didin."

Aku yang sudah selesai menjemur, kini sedang duduk di bale bersama ibu-ibu komplek sambil mulai mendengarkan gosipan mereka. 

"Kasihan ya, denger-denger anak-anaknya pada melorotin dia mulu. Padahal Nenek Didin pengen banget dapet kasih sayang dari anak-anaknya."

"Kadang juga suka ngomong sendiri itu."

Aku yang semakin 'kepo' dengan cerita Nenek Didin, mulai makan rujak dengan perlahan. 

"Ke saya aja yang dulunya kenal, sekarang udah mulai enggak negor lagi. Tapi kadang juga negor saya kalau dia lagi inget," ucap mama yang kebetulan memang ada di sana. 

Biasa, ibu-ibu komple lagi pada ngerujak bareng di bale depan rumah. Aktifitas tetapnya, bergosip ria.

"Itu plastik yang dia bawa-bawa, itu isinya cuman baju-baju doang. Kadang baju, kadang barang apa aja yang bisa dibawa-bawa," timpal ibu yang lain.

Aku menepuk pelan pundak mama. 

"Emang Nenek Didin beneran udah enggak waras mah?" tanyaku.

"Enggak tau juga mamah. Katanya sih begitu."

Aku memutar bola mataku. Ternyata ini benar-benar baru gosip belaka sang ibu-ibu komplek. Tapi, aku yang memang memiliki yingkat penasaran tinggi pada cerita Nenek Didin, tetap saja mendengarkan gosip itu.

Cerita yang kutangkap, Nenek Didin hanyaningins mendapat kasih sayang dari anak-anaknya yang bertindak tidak baik pada Nenek Didin. Menurut cerita, anak-anak Nenek Didin sempat menjambak rambut Nenek Didin dan menguair Nenek didin dari rumahnya. 

Kasihan sekali Nenek Didim kalau cerita itu benar adanya.

"Kalau Nenek Didin naik motor nih, dia suka gak mau turun. Dia bakal bilang rumahnya di sana, eh tapi tiba-tiba pas udah nyampe rumahnya, dia bilang rumahnya ternyata di ujung sana. Suka ketawa-ketawa seneng kalo diajak naik motor," cerita mama padaku.

Nenek Didiin selalu mendapat uang pensiunan sampai sekarang, tapi naas, uang tersebut selalu direbut paksa oleh anak-anaknya. Semua anak-anak Nenek didin juga seperti memiliki kesepakatan tersendiri untuk bertindak kasar pada Nenek Didin agar ia hengkang dari rumahnya sendiri.

"Mama gak tau juga itu cerita bener apa nggak. Tapi Nenek Didin sih nyeritanya dia selalu disiksa gitu loh Teh sama anak-anaknya," lanjut mama.

Dari ujung gang runahku, tiba-tiba Nenek Didin sudah balik lagi dengan membawa sesuatu di tangan kanannya. 

Melihat Nenek Didin, aku mempunyai niat tersendiri untuk tidak menelantarkan kedua orang tuaku saat mereka sudah beruban.



(N.b : Cerita ini berdasarkan kisah asli yang dibaur dengan fiksi)
Share:

Rabu, 23 November 2016

Dibalik Demo 411 (part 2)



"Pasti itu. Makanya semua umat Islam saling menjaga dan memberitahu agar jangan terprovokasi dengan pemberitaan atau pembicaraan apapun," jawab bapak.

Kuberdoa kembali, semoga dalam aksi 411 ini ada hikmah di dalamnya. Semua kejadian pasti memiliki hikmah di balik itu semua. Kejadi Gubernur DKI yang menjadi terdakwa penistaan agama itu  menurutku punya hikmah di dalamnya.

Aku yang sebelumnya tidak tahu arti surat Al-Maidah ayat 51, kini aku kembali membuka quran dan membaca dengan khidmat beserta artinya. Bukan hanya ayat 51, tetapi juga ayat 52 sebagai penyambung ayat sebelumnya.

Sesampainya di Bandung, pukul 09.00 WIB, aku menyempatkan diriku untuk membeli kuota. Semata-mata hanya ingin tahu bagaiman jalannya aksi demo  dan bagaimana media menyikapi hal tersebut. Bukan hanya media, tapi semua orang yang ada di dunia.

"Di, kamu setuju tidak sih adanya demo ini?" tanya sahabatku, Gina, saat aku sudah kembali ke kosan tercintaku di Bundaran Cibiru, Bandung.

"Gin, aku tidak tahu apakah demo ini benar di mata Allah. Tapi aku cukup myakini dan beroda, semoga para demonstran itu memiliki niat yang baik dalam aksi demo ini."

Dia mengangguk. Aku memasang kartu kuotaku dan segera membuka facebook.

Ya, mengingat saat ini facebook bisa siaran langsung. Untukku yang tidak memiliki televisi di kosan, bisa menggunakan  facecook sebagai alat agar aku kekinian dalam hal berita.

Bertebaran berita tentang umat islam yang sudah mneunggu di beberapa titik tempat kumpul, terutama Masjid Istiqlal. Melihat fotonya saja sudah cukup membuatku merinding dan terharu. Setahuku, demostran yang datang dari luar kota sudah datang sejak malam tadi, karena demo akan dilaksanakan setelah sholat jum'at.

"Ya ampun, merinding gini bulu kudukku Di." Gina menyodorkan tangan kanannya padaku. Jangankan dia, aku saja yang sejak tadi menunggu jam 12.00 tiba, sudah merinding duluan melihat berita ini itu di media sosial.

Sejak tadi aku terus melihat jam tanganku.

"Kapan jam 12 tiba?"  Itu yang kutanyakan sejak tadi.

Aku melihat berita bahwa umat islam dan beberapa kepolisian sedang melaksanakan sholat jumat berjamaah. Tapi di sisi lain, aku melihat komentar pedas tentang mereka yang mempertanyakan :

"Mereka sholat jumat tidak tuh?"

"Mengaku islam, tapi tak sholat jumat."

Dan masih banyak lagi komentar pedas lainnya yang kutemui di media sosial, khsususnya facebook.

Sungguh, aku, Diana, bukan manusia yang hafal semua juz Al-quan, bukan penafsir hadits, bukan ulama terkenal yang diayaomi banyak masyarakat, bukan juga manusia yang memiliki semangat tinggi untuk terjun langsung mengikuti  aksi demo 411.

Tapi mendengar komentar pedas seperti itu, hatiku sakit.  Saat itu aku tahu dan harus mempersiapkan hatiku untuk mendapatkan komentar-komentar pedas dari orang lain yang menolak aksi demo 4 November ini.

"Gin, Allah itu memang mengajarkan kita untuk saling menghormati, saling menghargai dan saling menjaga satu sama lain. Tapi dengan adanya kisah ini, Allah mungkin sedang membukakan mata umat islam untuk kembali mengkaji Al-Maidah ayat 51. Benar?" tanyaku pada Gina yang masih duduk di sampingku.

Ngomong-ngomong, kami dari satu organisasi yang sama.

"Iya Di. Rasul juga mengajarkan kita untuk saling memaafkan, untuk tersenyum bila digunjing. Tapi tidak jika agamanya dihina sperti ini. Tapi, bukankah ada dalang dibalik video penistaan agama yang beredar itu?"

"Ada. Tapi, adanya kata pakai atau tidak, umat islam tidaklah bodoh untuk dapat menafsirkan ucapannya."

Setelah sholat dzuhur, aku kembali membuka tabku untuk melihat sejauh mana berita yang tayang. Detik itu juga, aku menangis. Gina yang melihtaku menangis hanya mengusap pundakku, karena aku dan dia ada dalam satu rasa yang sama.

"Indah sekali mendengar polisi melantunkan Asmaul Husna begini. Indah sekali melihat polwan memakai kerudung. Indah sekali melihat semua organisasi masyarakat bersatu," ucapku ditengah isakan tangisku.

"Iya Di. Kalau sebelumnya Nahdatul Ulama, Persatuan sialm, Muhammadiyyah, Hizbut Tahir, dan semua oganisasi masyrakat selalu berdebat karena keyakinannya masing-masing, sekarang mereka bersatu utuk membela agama mereka. Jika kita bertanya pada preman sekalipun, mereka pasti tidak akan senang jika agamnya dihina."

Gina menambahkan ucapanku. Aku mengangguk. Ini pertama kalinya air mataku tak berhenti mengalir melihat berita fenomenal seperti ini.

Banyak oang yang pro dan kontra akan aksi ini. Namun, aku menjadikan aksi demo ini sebagai sesuatu yang indah. Aku melihat dari sisi positifnya.

Aku tak perduli dengan orang-orang yang melemparkan kata kasar atau ginjingan jahat pada demonstran. Aku hanya meyakini, akan ada hikmah dibalik ini semua.

Aku membaca satu berita yang kembali membuat air mataku jatuh. Berita tentang bersatunya demonstran dan para polisi dalam menyikapi aksi demo damai ini.

"Bagus yah kalau Indonesia begini. Kenapa tidak dari dulu saja polisi menyikapi aksi demo masyarakat dengan cara persuasive. Ku pikir ini lebih aman."

Gina mengusap layar tabku untuk membaca berita selanjutnya.

Aku cukup kaget ketika melihat video yang baru diunggah dan beredar dengan cepat. Sebuah van salah satu media televisi diusir langsungoleh demonstran.

Aku mendengar teriakan, "Pak polisi, anda bukan musuh kami" dan "Berita yang tidak credible terhadap Islam, untuk apa ada di sini?!"

Aku hanya tersenyum menanggapi teriakan dalam video tersebut.

"Apa video ini bisa disebut sebagai hikmah juga Gin?" tanyaku seidkit nyinyir.

"Bisa. Bukankah berita itu seharusnya tidak memihak siapapun?"

"Ya."  Kami tertawa  sebelum melanjutkan kembali menonton berita siaran langsung melalui facebook.

Sejauh ini, aksi demo 411 itu berjalan lancar. Sudah kubilang, selama aku menonton siaran langsung ini, aku selalu berdoa semoga tidak ada keributan nantinya. Walaupun memang perasaan tidak enak mulai menghampiriku.

Massa sebanyak itu tidak mungkin tidak ada kerusuhan dibaliknya, pasti akan ada dalang dibalik kerusuhan nantinya. Lafadz Allah dan beberapa kalimat islami keluar dari demostran saat mengeluarkan aspirasinya. Bukankah kita hidup di Negara demokrasi?

Aku kembali mengingat pembicaraanku dengan bapak. Saat itu bapak sedang makan jeruk sebagai asupan gizinya.

"Salah tidak sih Pak kalau demo begini? Rasul kan mnegajarkan kita untuk berbicara secara baik-baik," tanyaku.

"Di, kalau dipikir-pikir, umat islam sudah cukup sabar loh menanggapi masalah ini."

"Kenapa?"

"Berita ini sudah ada sejak September loh. Tapi karena sikap sikap aparat yang di atas itu tidak tegas, akhirnya umat islam harus turun tangan di bulan November ini. Coba, berapa bulan kita bertahan?"

"Dua bulan lebih?"

Bapak mengangguk dan kembali mekakan jeruknya dengan tenang.

Hari mulai sore dan langit Bandung mulai mendung. Salah satu guruku yang mengikuti aksi demo itu memposting fotonya bersama demonstran lain, dengan status :  Mohon doanya, sebagian kawan-kawan terjebak tak bergerak, tertahan, namun demikian Alhamdulillah…cuaca Jakarta berubah sejuk dan teduh.

Aku kembali tersenyum, ini adalah jalan untuk mereka. Semua yang kupikirkan saat itu berbuah positif.

Tak ada kekesalan dan pertanyaan nyinyir seperti, untuk apa umat islam melakukan aksi tak berguna seperti itu? Seharusnya islam memaafkan saja, toh Gubernur DKI itu juga sudah meminta maaf, dan perkataan lainnya yang sifatnya menyinggung aksi demo 411.

Aku menonton berita siaran langusng yng masih memberitakan tentang demonstran yang masih menyusul teman-teman lainnya yang sudah beada di depan istana sejak tadi.

Lautan manusia serba putih, langit biru nan indah melindungi mereka, kebersihan tak mereka lupakan. Aku berkata dalam hati, this is how islam is.

Aku menghentikan aktifitasku selama beberapa jam karena aku harus rapat hingga malam hari. Selama berita ini aik-baik saja, selama demonstran baik-baik saja, aku pun akan baik-baik saja. Pukul 22.00 WIB, setelah aku merebahkan diri di atas kasur, aku kembali membuka tabku. Berita bertebaran ddan saling menyalahkan.

"Ya Allah, kerusuhan ini benar-benar terjadi," ucapku dalam hati.

Aku menarik napas dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan. Meredam emosiku akan banyaknya berita yang tidak tahu benar atau tidak. Aku hanya mengikuti aksi demo ini melalui media massa dan sosial.

Aku yang tidak terjun langsung dalam aksi demo, mana mungkin aku langsung berspekulasi bahwa isla yang salah, aparat kepolisian yang salah, ataupun pihak media yang salah dalam pemberitaannya.

"Lagian, suruh siapa demo sampai melampaui batas. Itu melanggar aturan namanya," ujar salah satu temanku di grup Line. Tapi temanku yang lain, yang ikut langsung dalam aksi demo menjawab, "Itu karena kami menunggu hasil yang di dalam istana."

Aku juga mendapat berita bahwa ada beberapa orang yang terkena gas air mata yang disemprotkan oleh aparat yang berwenang memegang gas air mata tersebut. Namun sekali lagi, aku tidak ada dalam kerumunan aksi tersebut, maka aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Melihat banyak media yang menyudutkan islam, aku sedih. Melihat orang islam yang tidak begitu pro dengan aksi demo, malah menyudutkan saudara seimannya di beberapa media sosial. Jika aku jadi mereka, aku akan tetap mendoakan semoga aski demo ini adalah aksi yang baik di mata Allah.

"Wajar banyak yang pro dan kontra akan hal ini. Toh kebenaran hakiki hanya miilik Allah. Ingat, yang bisa menggerakkan massa sebanyak itu hanya Allah. Itu yang kami yakini selama kami berdemo," ujar temamku yang tadi membalas Line.

Aku mengangguk. Banyak manipulasi berita, banyak orang-orang yang menyudutkan demostran, banyak orang-orang yang membela bahwa dirinya benar. Sampai akhirnya aku memilih untuk sms bapak yang sudah ada di rumah.

"Pak, nanti kalau ada aksi demo lagi, jangan lupa suruh teman-teman bapak bawa kamera. Biar semua kejadian tertangkap jelas. Jangan lupa, semua yang bawa kamera itu ditaruh di depan, tengah dan belakang."

Aku tidak menyalahkan mereka yang kontra, hanya saja aku menyangkan presidenku tak ada di saat rakyat membutuhkannya.

Untuk agenda presidenku, aku tidak tahu apakah bandara lebih penting daripada rakyatnya.




Share:

Dibalik Demo 411 (part 1)



Malam itu, 16 Oktober, aku dan keluargaku berada di mobil untuk kembali pulang ke Tangerang.  Seperti biasa, karena tidak ada kerjaan di mobil, aku membuka media sosialku, khususnya instagram. Media sosial yang selalu kubuka dan kunikmati untuk mencari beberapa gambar. Kulihat beberapa gambar dan caption yang cukup membuatku kaget.

"Pak, ini lagi viral penistaan agama ya?" tanyau pada bapak yang sedang mengemudi.

"Ya ampun Diana, kamu baru tau? Kan banyak di facebook tuh beritanya itu kan beritanya sudah lama."

"Diana baru tau." Aku mengusap layar tabku ke atas dan ke bawah.

Ada beberaa berita disertai gambar tentang, yang katanya penistaan agama. Aku mengangguk dan mengerutkan kening.

"Makanya Di, coba pakai facebook kamu sebagai pencarian berita. Kamu akan tau ada berita apa saja yang sekarang sedang gencar."

Aku menganggung dan membuka kembali fecebook-ku yang sudah lama terkunci begitu saja. Benar, ketika aku membuka facebook, sudah banyak berita tentang penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI di sana.

Seperti biasa, ada yang pro dan ada juga yang kontra. Aku hanya anak manusia yang tidak terlalu mendalami agama. Aku hanya tahu aku diperintahkan untuk sholat lima waktu, menutup auratku, menolong sesama, dan hal-hal yang Tuhanku (red- Allah) perintahkan kepada umat-Nya. Namun jika beritanya seperti ini, hatiku bisa sakit.

Setelah kejadian malam itu, aku kembali diberitahu Bapak bahwa akan ada demo pada 4 November 2016. Saat itu Bapak sakit dan aku harus merawatnya di rumah sakit. Bapak adalah salah satu dari sejuta umat yang akan ikut demo nanti.

Sambil menjaga bapak, aku mendengarkan radi berita yang notabene tidak menerima suapan apapun untuk memperindah berita yang seharusnya buruk rupa. Jadi kuputuskan untuk mendengarkan radio itu saja.

Banyak penelpon yang tentu saja ada yang pro dan kontra terkait adanya demo aksi damai ini. Bapak juga turut mendengarkan radio bersamaku. Karena di rumah sakit, apa yang bisa kulakukan selain mendengarkan radio, makan dan menonton televisi?

"Diana boleh ikut demo?"

"Jangan, organisasi kita tidak mengijinkan perempuan untuk ikut. Khawatir terjadi sesuatu."

"Pak, gimana ya kalau 'beliau' dibebaskan?" tanyaku penasaran.

"Wah, bisa ngamuk itu umat Islam, Di. Begini saja sudah sakit, apalagi bebas," ujar Bapak sebelum memejamkan matanya, tidur.

Sebenarnya aku takut saat mendengar bapak akan ikut aksi demo damai ini. Namun aku memutuskan diam dan mendukungnya dengan doa. Semoga dia baik-baik saja. karena aku yakin, sebelumnya bapak sudah menyiapkan segalanya untuk aksi demo 4 November 2016.

Sampai akhir, ternyata bapak tidak bisa mengikuti aksi demo damai itu karena kondisinya yang masih rentan. Semoga niat bapak mengikuti demo itu menjadi niat baik. Tapi, namanya bapak, ia tak pernah bisa lepas dari yang namanya pemberitaan.

Bapak menonton televisi dan membaca koran untuk mengetahui pesiapan juga tanggapan orang-orang tentang aksi demo 411 itu.
4 November 2016, aku pergi ke Bandung untuk menuntut ilmu kembali di sana.

Aku mengambil waktu pagi untuk pemberangkatan karena dikhawatirkan akan macet nantinya. Mengingat ini demo umat islam terbesar sepanjang masa. Bayangkan saja, semua umat islam, dari seluruh daerah, bahkan penjuru dunia pun ikut dalam aksi demo 411.

Ingin aku mendengarkan kembali radio tak berbayar itu, tapi jaringan sedang jelek. Terpaksa aku menunggu untuk sampai ke Bandung dan membeli kuota.

Selama di bis, aku selalu berdoa, Ya Allah, semoga demo ini berjalan baik hingga akhir.

Aku kembali mengingat perbincanganku dengan bapak di Rumah Sakit.

"Wah, pasti banyak penyelusup nih nantinya," kataku sambil membuka situs berita yang bertebaran di facebook.






Share:

Rabu, 20 Juli 2016

Gendut



Kenalkan, aku perempuan yang memiliki tubuh gendut nan buruk rupa. Aku yang selalu menyembunyikan wajah dengan kedua tanganku, karena kuyakin kau akan menghinaku dan menjauh dariku secepat mungkin.

Jika kau tahu ada cerita orang gendut buruk rupa yang disudutkan dan diejek, maka aku salah satu dari mereka. Tak jarang aku dilempar benda-benda kecil namun sakit oleh teman-teman kecilku. Dulu bahkan sekarang, aku tetaplah aku, si gendut buruk rupa.

"Makan apa sih sampe gendut gitu?"

"Kaya kebo kesasar."

"Gendut begitu mau jadi model? Benerin dulu tuh badan."

Kerap kali aku mendengar ocehan seperti itu. Bagiku ucapan menyakitkan seperti itu sudah biasa kudengar. Hei, tenang saja kawan, aku tak akan menyebutkan satu persatu dari mereka. Asalannya, karena mereka terlalu banyak hingga aku lupa nama dan rupa mereka.

Dulu, aku pernah menyukai laki-laki, namu yang dia katakan hanya : "Dia suka sama gue? Ih najis."

Sebegitu najiskah diriku hingga aku tak layak menyukai laki-laki? Sebegitu najiskah aku hingga aku tak boleh bermimpi memiliki pangeran berkuda putih? Sebegitu jeleknyakah aku hingga aku tidak diijinkan menjadi seorang model? Tidak, itulah jawabannya.

Selain gendut, aku juga seorang pencuri kelas atas. Aku selalu mencuri pandang pada perempuan langsing bak model jika ia sedang berjalan di sebelahku. Aku selalu mencuri perhatian pada buku bacaan di perpustakaan kampus tentang babaimana caranya memiliki tubuh ideal. Mengapa aku mencuri semua itu? Karena jika mereka tahu, mereka akan mencibirku dengan gelak tawa mereka yang menyakitkan.

Maafkan aku yang berusaha mencurahkan isi hatiku padamu. Ingin sekali aku bereinkarnasi, terlahir kembali menjadi perempuan indah.

"Let Me In?"

Aku yang gendut buruk rupa ini sedang asik menonton youtube di kamar. Let Me In adalah salah satu acara televisi Korea Selatan yang memperlihatkan bahwa dengan operasi plastik semua akan terlihat cantik. Kulihat salah satu peserta yang tubuhnya tak jauh beda dariku, namun setelah dioperasi plastik perempuan itu menjadi cantik. Ia bagai terlahir kembali sebagaimana perempuan mestinya.

"Coba aku orang Korea Selatan." Kuberandai.

Kubuka kembali channel youtube dengan judul, kejadian gagal operasi plastik. Kubuka dan kucermati mereka yang gagal operasi plastik. Kupikir semua wanita itu awalnya memiliki paras wajah yang sangat cantik, melebihi aku tentu saja. Kenapa mereka igin merubahnya? Kurasa itulah sifat manusia yang tak pernah merasa puas.

Aku merenungi nasibku. Apakah aku juga tak merasa puas dengan apa yang sudah diberikan? Ya.

Aku berpikir kembali. Hei, bukankah ada takdir yang bisa diubah?

"Ada. Kalau kamu mau sehat, olahraga dan makanlah makanan  yang baik. Semua perempuan itu cantik, tergantung bagaimana ia mensyukuri kecantikannya. Kalau saja kamu selalu bilang kamu jelek bagaikan gajah, maka selamanya kamu akan jelek. Karena itu adalah sugesti yang sudah kamu tumbuhkan di dalam lubuk hatimu."

"Satu lagi, mama selalu menganggap kamu perempuan indah. Mama dan papa juga bahagia selama kamu beribadah dengan baik. Wajahmu yang selalu bersinar, itu karena air wudhu yang selalu kamu pakai."

Aku tersenyum. Aku adalah si gendut buruk rupa yang sedang mencoba untuk bersyukur atas apa yang sudah diberikan olehNya.

Well, aku masih perempuan gendut buruk rupa, tapi tolong jangan perlakukan aku sebagaimana kau memperlakukan hewan. Aku memiliki hati yang harus kujaga dengan baik. Terima kasih untuk kalian yang ingin melihat wajahku, menjagaku dengan baik, dan menemaniku sepanjang waktu.


Share:

Minggu, 10 April 2016

Diana

Aku memiliki seorang teman yang hidup dengan banyak kasih sayang, banyak kebahagiaan, banyak cinta, juga banyak harta. Aku tidak iri padanya karena dia perempuan baik nan lemah lembut. Siapa pun ingin berteman dengannya. Kulitnya putih bersih, rambut pendek seperti tokoh kartun anak kecil bernama Dora, tubuh sedikit berisi. Aku tidak ingin menceritakan kami yang notabene teman dekat. Aku ingin menceritakan dia yang katanya sehat. Aku diam, merenung dan menangisi ceritanya. Mari kuceritakan bagaimana dia harus mengalami ini semua.

Namanya Diana, siswi SMP ternama di Jakarta Selatan. Jika kau ingin melihat bagaimana ia tersenyum, bagaimana ia tertawa dan bagaimana ia berbicara. Aku yakin kau akan mendengarkan dan melihatnya dengan sangat hai-hati karena ia terlalu sempurna dan menyilaukan. Diana aktif di pramuka walau hanya sebagai anggota yang sangat dipercaya oleh guru-guru.

Hidup memang indah jika kebahagiaan selalu hadir dalam diri manusia.

Kudengar setelah pulang dari pramuka dia mengeluh pada mamanya. Diana bilang pada mama bahwa tangannya sakit setelah ia mengangkat beban berat yang ia bawa saat pramuka.

 Siapapun yang mendengar itu, pasti akan mengira bahwa Diana hanya mengalami keseleo saja bukan?

Ya, itu yang Mama Diana  katakan padanya. Sang mama hanya membawakan balsem lalu mengoleskan balsem tersebut pada tangan kiri Diana dengan sangat hati-hati. Awalnya memang tidak terlihat, namun salah satu tetangga Diana mneyadari ada hal ganjil pada lukanya. Tangan kirinya sedikit membengkak di bagian atas sikutnya. Tetangga itu menyuruh Mama Diana untuk segera membawa Diana ke dokter.

Yang kutahu saat itu Diana menolak untuk diajak ke rumah sakit. Mama Diana mencoba membujuk Diana dengan cara apapun sampai akhirnya Mama Diana berhasil membujuk anaknya untuk pergi ke rumah sakit.

Setelah diperiksa, Diana didiagnosa memiliki tumor di tangannya yang bengkak itu. Diana harus dioperasi agar tangan kirinya sembuh. Ia menjalankan operasi dengan santai dan tentram. Ya itu karena Diana tahu bahwa tangannya akan sembuh setelah operasi.

Singkat cerita, setelah ia berhasil dioperasi, semua baik-baik saja. Diana kembali bermain bersama teman-temannya tanpa memikirkan kesehatan tangan kirinya yang dikira sudah sembuh total.

Diana menjalani kehidupan normal sampai dia masuk kuliah. Aku menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan tangan kirinya yang kukira sudah sembuh total. Terkadang Diana kembali merintih kesakitan. Aku tak tega melihatnya seperti itu. Aku memberitahu Mama Diana mengenai tangan kirinya yang kembali membengkak. Jika sebelumnya tangan kiri Diana tidak bisa ditekuk, kini tangan kiri Diana tidak bisa diluruskan. Diana harus menekuk tangan kirinya agar tidak sakit.

Mama Diana kembali membawa Diana ke rumah sakit ternama di Jakarta. Hasilnya tetap sama. Diana harus dioperasi kembali. Mama Diana kembali membujuk Diana untuk pergi ke rumah sakit. Di tahun 2015, Diana menjalani operasi pengambilan caoiran di tangan kirinya.

Diana memasuki ruang operasi. Setelah  dibius, dokter membelek benjolan di tangan kiri Diana. Namun naas, dokter kaget saat melihat bahwa benjolan itu bukan  cairan. Dokter memanggil Bapak Diana untuk membicarakan hal itu. Saat itulah dunia Diana terbalik sebagian. Diana dirujuk ke rumah sakit kanker yang letaknya masih di Jakarta.

"Gimana hasilnya pak?" tanya Mama Diana. Tentu saja tidak ada Diana di sana.

"Harus dirujuk ke rumah sakit kanker."

Jawaban pendek nan pelan itu membuat Mama Diana menangis. Tak ada cara lain selain mengirim Diana ke rumah sakit itu.

"Mama kenapa nangis?" tanya Diana yang tiba-tiba datang pada waktu itu.

"Mama abis batuk de, ini batuknya sakit banget sampai gatel gini tenggorokan mama."

Diana tersenyum lalu mengelus punggung sang mama.

Ya, Diana mengidap kanker stadium dua.

......

"Seharusnya ini tidak dioperasi terlebih dahulu. Cairan itu akan menyebar ke mana-mana hingga akhirnya kanker itu pun akan menyebar. Seharusnya sebelum melakukan pembedahan, semua syaraf di sekitar tangan kirinya diberhentikan. Bagiaman ini?" Dokter Yus mengurut kepalanya. Ia hampir tercengang melihat data yang ia dapat dari rumah sakit sebelumnya.

"Ya sudah, sekarang jangan menyalahkan siapa-siapa. Ibu fokus saja pada anak ibu. Kita berdoa saja semoga Diana tidak apa-apa."

Mama Diana masih kaget dengan ucapan Doketer Yus yang terdengar frontal. Itu karena Diana ada di sana. Bisa kau bayangkan bagaimana sakitnya Diana yang mendengar itu semua? Diana yang dengan santainya duduk tanpa beban di depan Dokter Yus, kini harus mendengar itu semua.

"Diana harus dikemo."

"Diana ga mau dikemo bu. Itu sakit," ujar Diana pelan.

"Baik kalau kamu ga mau dikemo, kamu harus rutin rehabilitasi dan meminum obat."

Diana mengangguk.

Sampai di rumah, Mama Diana sudah ditunggu oleh Kiana, kakak perempuan Diana. Entah karena lelah atau memang tidak ingin bicara, Diana langusung pergi ke kamar untuk istirahat.

"Jadinya sakit apa ma?" tanya Kiana.

Tanpa sepatah kata, Mama Diana memberikan hasil dokter pada Kiana. Jeritan Kiana membuat Mamanya menaruh telunjut di bibir Kiana. Menandakan untuk tidak terlalu berlebihan.

"Kiana harus nyari sesuatu ma!"

Kiana pergi ke kamar lalu mengambil laptopnya. Ia mencaritahu kanker apa yang diderita adiknya. Kiana mendapat jawaban bahwa kanker itu merupakan kanker langka yang memang diderita pada anak berumur 7-18 tahun.

Kiana mencaritahu beberapa orang yang memang mengidap kanker tersebut. Berjam-jam ia mencari, akhirnya Kiana menemukan seorang perempuan yang memiliki kanker yang sama seperti yang diderita Diana. Ia membuka facebook anak itu dan segera menelepon sekolah anak itu berada.

"Assalamualaikum bu, apa di sekolah ini ada anak bernama Juli?"

"Iya mba, ada apa ya?"

"Boleh saya bicara dengan Juli bu? Saya ada perlu."

"Maaf mba, tapi Juli sudah pergi."

"ke mana?" tanya Kiana penuh semangat. Mungkin saja ia bisa mendapat alamat Juli.

"Dia sudah tidak ada di dunia mba."

Kiana terdiam. Ia menutup sambungannya dengan perlahan.

"Gimana Ki?"

"Orangnya udah pergi Pah, Mah," jawab Kiana.

"Pergi ke mana?" tanya sang mama.

"Dia udah ke alam sana." Kiana menunjuk langit-langit rumahnya.

Mereka terdiam. Aku tidak terlalu ritahu apa yang terjadi selanjutnya. Namu aku mendapat cerita bahwa setelah beberapa hari mamanya ke sana kemari mencari pengobatan, Diana berkata, "Ma, Diana baik-baik aja."




Share:

Selasa, 05 April 2016

Aku Menangis

Aku terdiam saat melihatnya sudah saling bertemu di pelaminan. Mereka, dua sahabat terbaikku selama beberapa tahun ini. Mataku berkaca-kaca sebelum akhirnya lolos dari tempat persembunyiannya.

Aku melihat wanita cantik yang kini tengah memandang lembut mata sang pria yang kini akan menjadi suaminya. Lalu mataku beralih melihat sang pria dengan sendu. Mereka membuatku menangis.

Kini, waktunya ijab qabul dimulai. Tangan sang pria berjabatan dengan calon mertuanya. Aku sedih? Ya tentu saja!

Sesak di dadaku tak bisa kukendalikan dengan baik. Mereka terus memberontak keluar hingga aku benar-benar sesak napas. Hari ini adalah hari tersulit yang harus kulalui. Melihat mereka, mendengar janji suci mereka, merasakan betapa bahagianya mereka. Aku bahagia, namun di waktu yang sama aku pun bersedih.

Janji suci yang diucapkan pria itu membuat hatiku berdetak kencang. Wajahku berubah merah saat mendengarnya. Aku tidak ingin menghancurkan momen mereka. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku bersembunyi.

Temanku berusah menghibur dengan menepuk pundakku. Aku kembali tersenyum walau air mataku tak ingin berhenti keluar. Entahlah, ini menyakitkan. Mungkin karena pikiranku mulai kacau.

Aku melihat wajah bingung temanku karena aku menangis di hari bahagia dua sahabatku sendiri.

"Kenapa?" tanyanya masih dengan menepuk pundakku,

Aku hanya menggeleng dan kembali menatap dua mempelai di atas pelaminan sana. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lantai. Kurasa hari ini lantai lebih menarik dari biasanya.

Bukan karena aku cemburu melihat mereka yang sudah sah menjadi suami istri. Bukan karena aku cemburu melihat mereka sudah bisa melepas masa lajangnya dan membangun rumah tangga sendiri. Bukan juga karena aku tidak suka melihat mereka akan hidup bahagia.

Aku hanya..

Aku hanya..

Aku hanya..

Air mataku lolos.

Aku kembali menangis.

Aku hanya tidak bisa membayangkan bagiaman jika ayahku tidak bisa menjadi waliku nanti. Aku hanya membayangkan bagaimana jika orangtuaku tidak bisa melihat anaknya duduk di pelaminan sana.

Maka aku menangis.
Share:

Rabu, 30 Maret 2016

Jaga Aku

Aku sudah tidak pantas untuk menjadi sandaranmu. Aku sudah tidak pantas menjadi tempat yang nyaman dan tenang untuk otakmu. Aku bahkan sudah kehabisan nafasku untuk sekedar memberi salam padamu. Hembusan nafasku sudah hilang bersamaan dengan tubuhku yang mulai kering kerontang.

Aku pernah mendengar kabar bahwa aku akan segera hilang dari hadapanmu. Kumohon jangan lupakan aku. Kumohon jangan pernah berpaling dan berjalan menjauh dari kenangan kita.

Aku tahu ini sulit untuk kuterima. Aku begitu dikhianati oleh teman-temanmu yang memiliki tangan jahat. Aku hilang karena mereka. Andai kau bisa menjagaku dengan baik, kau pasti tak akan kehilanganku seperti ini.



Oh, janganlah kau meneteskan air matamu saat aku benar-benar sudah tiada. Bisakah kau menolongku agar aku tak pergi dari hadapanmu? Bisakah kau menjagaku hingga aku tetap bisa melindungimu? Bisakah kau mengurusku hingga aku tetap menjadi tempat sandaran yang nyaman untumu? Bisakah?

Aku tidak ingin melihat gelenganmu. Jika kau membutuhkanku, seharusnya kau sadar atas apa yang teman-temanmu lakukan. Jika kau diam, maka itu kuartikan sebagai kau rela akan hilangnya diriku.

Ya, kurasa lebih baik aku menghilang dengan damai. Lebih baik aku terseyum dalam sedih melihat kau yang hanya diam saja melihat kepergianku. Aku berusaha untuk tertawa melihat teman-temanku juga ikut menghilang bersmaku.

Hei, pernahkah kau mendengar kabar bahwa aku tak akan kembali dan kau akan mati karena kau akan sulit bernapas tanpaku? Pernahkah kau mendengar hal itu?!

Maka kumohon, jaga aku baik-baik agar kau bisa bertahan hidup dengan baik. Aku janji akan terus menjagamu jika kau juga ikut menjagaku.
Share:

Kamis, 24 Maret 2016

Kau Kupu-kupu Cantikku

Aku melihat kupu-kupu di seberang sana. Cantik, sangat cantik. Bagaimana mungkin seorang pria sepertiku tidak terpesona oleh kecantikannya?

Oh ... lihatlah saat ia tersenyum. Bibir merahnya sangat merekah. Senyuman tulus seorang wanita yang akan membuat pria lain akan tunduk dalam pesonanya hanya dengan sekali melihat.



Dia jauh, sangat jauh. Aku berusaha untuk menangkapnya, namun aku takut jika sayapnya akan patah. Aku ingin mengurungnya dalam sangkar agar ia tdak pergi, namun aku takut ia akan menjadi kupu-kupu malang yang tersiksa.

Aku mengulurkan tangan kananku, mengulurkan jari telunjukku untuk mengusap pipinya dari kejauhan. Aku tidak bisa merasakannya, namun aku tahu dia memiliki kulit yang lembut dan terjaga. Kuarahkan jari tekunjukku ke puncak kepalanya laku kuusap dari kejauhan.

Dia begitu indah sampai aku tak berani untuk menggapainya. Aku terlalu sering menjaga jarak dengannya. Bahkan aku tak ingin ia tahu bahwa aku selalu memperhatikannya seperti ini. Malang sekali.

Bunga mawar di pekarangan rumahnya tumbuh dengan segar dan cantik. Lihatlah beberapa kupu-kupu yang beterbangan di pekarangan rumahnya itu. Indah sekali. Tuhan, aku saja tidak bisa membedakan mana kupu-kupu yang asli dan yang palsu. Mereka sama cantiknya, mereka sama bebasnya, mereka sama terbangnya. Jauh, tinggi ke langit biru.

Kupu-kupu hanya cocok dengan bunga, kupu-kupu hanya cocok dengan langit biru. Sedangkan aku? Aku hanya tanaman rambat yang nanti akan mengganggunya. Aku hanya langit mendung yang nanti akan mengahalangi kecantikannya di langit.

Aku menarik tangaku saat dia tiba-tiba menoleh ke arahku. Seperti biasa, dia akan memberi senyuman paginya dan mengucapkan kata semangat untukku. Aku hanya bisa menunduk lalu melangkah pergi dari tempatku berdiri. Selalu seperti itu yang kulakukan untuk kupu-kupu cantikku. Terkadang aku berpikir, pantaskah aku bersanding dengannya?

"Kau akan menjadi imamku. Untuk apa kau masih memikirkan hal-hal seperti itu?"

Entah sejak kapan dia sudah berjalan di belakangku. Wanita itu bahkan selalu tahu apa yang kupikirkan tentang hubungan kami saat ini.

Aku menghentikan langkahku. Diam.

"Pantas atau tidaknya dirimu untukku bukan kau yang menentukan. Bukankah kau selalu bilang bahwa aku kupu-kupu cantikmu? Maka biarkan aku terbang mengelilingi tamanku sendiri!"

Suaranya begitu lembut walau ada beberapa kata penekanan dalam ucapannya.

"Kau sudah kupilih sebagai tamanku. Jadi biarkan aku memperindah tamanku sendiri dengan baik. Jika tamanku hilang, aku tak akan pernah hidup sebagai kupu-kupu cantik."

Perlahan aku berbalik ke belakang. Kulihat dua menunduk sambil memainkan jari jemarinya. Hah, aku suka dia yang pemalu seperti itu.

Aku bersyukur telah memilih kupu-kupu yang tepat. Aku berdehem kecil, kulangkahkan kakiku untuk mendekatinya. Hanya beberapa langkah, aku bahkan masih berjaga jarak dengannya.

Dia terlalu cantik dengan jilbab merah muda dan setelan gamis putihnya hari ini.

"Maaf. Maafkan aku wahai kupu-kupu cantikku."

Kulihat dia tersenyum dalam tunduknya.

"Terima kasih sudah bersedia menjadi kupu-kupu untuk taman yang biasa ini."
Share:

Minggu, 20 Maret 2016

My Answer

Aku memperhatikan gerak-geriknya. Dia tak jauh dari tempatku duduk di bangku taman dekat kampusku. Di sini hening dan tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang. Jadi aku bisa mendengar apa yang ia bicarakan.

Kami hanya berjarak satu bangku panjang saja. Aku di bangku kanan, dia di bangku kiri. Bangku tengah sengaja kukosongkan untuk menjaga jarak dengannya. Aku terkikik geli saat dia mengeluarkan ponselnya dan mendial nomor seseorang di sana.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk mengangkat panggilannya. Aku turut menaruh ponselku di telingaku. Suaranya terdengar jelas. Suara beratnya, suara lembutnya yang sedikit serak. Aku merindukannya. Sudah berapa lama aku tak bertemu dengan pria berambut sedikit keriting itu? Entahlah, yang pasti kini aku sudah menemukannya.

"Hai Sayang, bagaimana kabarmu? Maaf akhir-akhir ini aku sibuk," ujarnya dengan raut wajah menyesal.

"Tak apa. Lagi pula aku mendengar suaramu saja sudah cukup," jawabku senang.  Tak bisa kusembunyikan senyumanku. Tak bisa kusembunyikan debaran hatiku.

"Ah benarkah? Lalu di mana kau sekarang?" tanyanya lagi,

"Aku? Aku selalu di sini menunggumu."

"Oh ayolah, katakan saja kau di mana. Aku akan menjemputmu."

Aku tertawa senang mendengar jawabannya. Dia begitu perhatian, itu yang ksuskai dari dirinya sejak dulu.

"Selalu ada di hatimu."

Aku terkikik pelan. Hampir saja aku tertawa karena jawaban bodohku.

Oh lihatlah dia juga tertawa. Lesung pipinya membuatku rindu. Senyuman manisnya membuat waktuku seakan berhenti. Bagimana bisa senyumnya semanis gula? Bagaimana bisa suara tawanya menjadi nyanyian merdu di telingaku?

Selama aku menjawab pertanyaannya, aku selalu menjawab dengan nada yang sedikit pelan. Tawaku juga kukecilkan agar ia tak mendengar aku ada di sini, di sampingnya.

"Hah, aku sangat merindukanmu."

"Aku juga. Aku- bahkan sangat merindukanmu."

Raut wajahku berubah sendu. Ini benar-benar ungkapan dari lubuk hatiku yang paling dalam. Ingin ku berteriak bahwa aku selalu menunggunya. Ingin ku berteriak bahwa aku selalu ada di sampingnya. Namun itu semua hanya wacana yang aku kompromikan dengan hati dan pikiranku.

"Ya aku tau. Baiklah, aku akan menjemputmu sekarang, tunggu aku di sana. 5 menit lagi aku sampai."

Kulihat dia berdiri lalu kembali memakai jas kantornya. Dia hendak melangkahkan kakinya ke kanan. Dia melihatku dengan raut wajah terkejut. Sudah kupastikan dia akan bereaksi seperti itu jika melihatku.

Aku menurunkan ponselku dari telinga. Menggenggamnya dengan erat di atas pangkuanku. Kulihat dia mendekatiku dengan senyumnya yang manis. Ingin sekali aku memeluknya dan mencium aroma mint di sekitar  bajunya.

"Dila? Hei, bagaimana kabarmu?"

"Mm yeah, aku baik-baik saja. Lalu, bagaimana kabar tunanganmu?" tanyaku dengan berat hati. Aku masih ingin berbincang dengannya. Kumohon hentikanlah waktu walau sedetik.

"Dia baik. Aku baru saja menelfonnya."

Kulirik dia yang sudah melihat jam tangannya. Tidak, dia akan pergi sebentar lagi. Aku tidak ingin dia mengatakan bahwa dia harus pergi sekarang juga. Tidak.

"Dil, aku harus menjemput tunanganku di kantornya."

Aku merasakan usapan hangat di kepalaku.

"Jaga kesehatan, jaga diri baik-baik. Aku- minta maaf karena dulu aku tidak bisa menjadi kaki-laki yang kau inginkan."

Dia berjalan melewatiku setelah berbisik, semoga aku bahagia dengan pilihanku.

Aku menggenggam ponselku dengan erat. Ponselku yang sedari tadi memang tidak dihidupkan.

Pilihanku hanya satu. Pilihanku adalah, aku tidak ingin selalu berbuat bodoh karena kesalahanku yang telah meninggalkanmu. Aku berbuat bodoh dengan selalu menjawab obrolanmu dengan orang lain, seperti saat ini.

Aku berdiri, melangkah berlawanan arah dengannya. Kurasa, sudah cukup aku berbuat bodoh.

Share:

Jumat, 18 Maret 2016

Dua Minuman Rindu

Dalam ruangan berbentuk persegi, lumayan luas. Aku terduduk di atas kursi empuk berwarna abu-abu dengan bantalan kursi berwarna krem sedikit putih.

Biar kudeskripsikan bagaimana ruangan ini terlihat nyaman dan terang. Di langit-langit ada sekitar empat lampu gantung berwarna putih. Ada juga lampu gantung berbentuk silang berwarna putih dan kuning di sisi lampu. Entah kau bisa membayangkannya atau tidak. Namun yang pasti, ruangan ini terasa nyaman bagiku. Oh, ada angin juga yang datang dari mesin bernama AC.

Aku menunggu pesananku, hot chocolate. Aku haus, tentu saja. Setelah perjalanan jauh, akhirnya aku sampai di tempat ini. Dia, seseorang yang kutunggu. Membayangkan dia datang dengan senyuman manisnya saja membuatku ingin sekali menarik kedua ujung bibirku. Tersenyum.

Dentingan lonceng, tanda ada pengunjung yang datang, membuat kepalaku menoleh ke kanan. Namun bukan dia. Aku menghela nafas. Sungguh kesal sekali aku menunggunya di sini. Pesananku sudah datang. Wangi hot chocolate sudah menyeruak masuk ke dalam hidungku. Hangat dan manis.

Dentingan lonceng cafe berbunyi kembali. Aku pun kembali menoleh ke arah pintu. Namun bukan dia. Sekali lagi aku menghela nafas kesal dan pasrah. Bayangkan, kupikir aku telat datang ke cafe ini. Ternyata dia pun belum datang. Terpaksa aku harus menunggunya.

Aku menyeruput hot chocolate dengan nikmat. Ah, hausku jadi hilang. Pesananku kembali datang. Selain minuman, aku memesan kopi robusta kesukaannya. Aku ingin setelah dia datang, pesanan kesukaannya sudah tersaji di atas meja. Aku tersenyum bangga. Aku lah yang paling tahu apa yang paling ia sukai dan tidak ia sukai.

Ini sudah dentingan ke lima, namun dia tak pernah ada di sana. Aku diam kembali. Memainkan ponselku. Path, instagram, facebook, twitter, semua aku buka untuk kumainkan atau sekedar melihat-lihat saja.

Dentingan keenam membuatku kembali menoleh dengan kesal. Raut wajahku berubah menjadi bahagia. Bukan, bukan dia yang datang, namun sahabatku yang datang, Dian.

"Hei Di, ngapai di sini?" tanyaku girang. Kulihat Dian tersenyum sambil melihat kopi robusta yang ada di atas mejaku.

"Apa?" tanyaku kembali. Polos.

Dian duduk di bangku depan sehingga kami berhadapan sekarang. Raut wajahnya keruh, sedih.

"Apa kau yakin dia akan datang?" Dian bertanya dengan nada sedih.

Aku mengedipkan mataku. "Dia pasti datang!" jawabku lantang.

"Sadarlah Ki, kau bahkan tau dia sudah tidak ada di sini. Di bumi!!"

Aku tersentak kaget saat mendengar teriakan Dian. Semua mata pengunjung cafe juga menatap kami dengan tatapan kesal dan kaget. Air mataku keluar dengan sendirinya. Aku tidak ingin mengingat bahwa dia sudah tidak ada. Aku tidak ingin mengingat bahwa dia tidak ada di bumi karena kesalahanku. Aku tidak ingin mengingat bahwa dia memang tidak pernah datang ke cafe ini.

"Berhenti menunggunya di sini. Dan sekarang, ayo kita pulang!"

Dian menarik tanganku dengan sedikit paksaan. Aku berdiri lalu pergi meninggalkan kopi robusta dan hot chocolate di atas meja cafe.

Aku tidak ingin melupakannya. Sungguh.



Share:

Selasa, 15 Maret 2016

Namun yang Tak Terhingga

Ada beberapa alasan aku selalu mengikutimu. Ada beberapa alasan aku melihatmu dalam diam. Ada beberapa alasan aku tetap menunggumu lama. Namun hanya ada satu alasan mengapa aku melakukan hal-hal bodoh seperti itu.

Kupikir aku seperti terhipnotis akan wajahmu. Kupikir aku seperti terhipnotis akan kepintaran dan kesolehanmu. Namum nyatanya aku memang sudah jatuh ke dalam, melebihi kata hipnotis.

Kau tahu, dunia terasa indah di kala detik dan menit menemaniku dalam menunggu. Mungkin bagimu aku patung yang berlumut. Tak terlihat, menjijikan.

Kuakui, rasa memang tidak pernah bisa dipaksakan. Sudah kucoba beberapa kali untuk berpaling, namun hasilnya nihil. Aku tetap memilih jalan yang lebih sulit dari itu. Kutunggu kau sendiri, namun kau selalu mendapatkan seseorang, lagi dan lagi. Sebagian hatiku meronta untuk berpaling.

"Hei bodoh! Berpalinglah jika kau masih menyayangi hatimu!"

Ya, kurang lebih seperti itu.

Aku melihat layar ponselku. Sudah kubilang bahwa aku benar-benar mengikutimu, menjadi stalker untukmu dalam waktu lama. Aku tak ingin mengubah itu semua. Cukup hanya melihatmu dalam frame, itu sudah membuat sebagian hatiku bahagia. Namun tidak untuk sebelah hatiku yang lain. Oh Tuhan, bagaimana bisa aku tetap menunggunya selama bertahun-tahun?

Hei percayalah, sebagian temanku berkata bahwa akan tiba saatnya dia melihatku, tetaplah bersabar. Namun kupikir waktu tak akan memberiku kesempatan seperti itu. Kesempatan indah yang pernah kulalui dulu bersamanya. Bukan tanpa hubungan, hanya sebatas teman. Gedung sekolah bahkan menjadi saksi pertama kami saat pertama kali kami saling mengenal satu sama lain.

Cukup indah.

"Hei bodoh, cari seseorang yang memang melihatmu!"

Lagi-lagi pikiran itu muncul. Terkadang seperti iblis, terkadang seperti malaikat. Satu kalimat namun cukup untuk memukulku. Aku memang berencana untuk mencari yang lain, namun kau tahu? Aku tak pernah bisa lepas dari nama yang memang sudah tersemat di llubuk hatiku yang paling dalam. Jika kau ingin menggalinya, maka kau akan menemukan nama itu di kedalaman beratus-ratus meter dalamnya. Jikau kau ingin melihatnya, maka kau akan menemukan cahaya namanya di sana.

Kupikir sudah waktunya nama itu redup, namun aku tak cukup yakin bagaimana aku mematikan cahaya tersebut. Sulit, sangat sulit jika membayangkan bagaimana mudahnya aku jatuh dalam pesonanya dulu, bahkan hingga saat ini.

***

"Re, udah selesai nulisnya?" tanya temanku yang sudah berdiri di hadapanku dengan membawa dua cangkir teh hangat yang langsung datang dari Jepang.

"Udah," jawabku singkat.

"Berapa kata namun untuk hari ini?" Kulihat dia memutar kedua bola katanya, malas.

"Tak terhingga."
Share:

Sabtu, 05 Maret 2016

Balada Wanita Penggoda

Seorang wanita masih bersujud setelah selesai melaksanakan sholat subuhnya. Pundaknya bergetar, isak tangis semakin terdengar. Alunan doa yang akan ia sampaikan begitu berat untuk diungkapkan. Bibirnya kelu tak tertahankan.

Pikirannya melayang jauh mengingat betapa rapuh dan busuknya dia.

Malam ini, Bandung terasa lebih dingin dari biasanya. Namun tak dihiraukannya dingin tersebut yang menusuk seluruh tubuhnya. Pakaian ketat tanpa lengan berwarna merah, rok mini berwarna hitam, rambut yang sengaja ia gerai, sepatu hak tinggi yang sudah ia tenteng dengan malas. Terakhir, matanya yang sayu juga bibirnya yang semakin luntur ke bawah. Ia tidak ingin jadi wanita seperti ini.

Sebersit pertanyaan lewat dalam relung hatinya. Untuk apa ia dilahirkan ke dunia ini? Mengapa Tuhan melahirkan dirinya jika Tuhan menjadikannya wanita seperti ini?

Dia berjalan menyusuri jalan setapak. Banyak pria yang menatapnya dengan lapar, banyak wanita yang menatapnya dengan jijik. Entahlah, ia sedang tidak peduli dengan keadaan sekitar. Kakinya terus saja berjalan menyongsong jalanan ramai. Klakson laki-laki mesum mulai terdengar di telinganya. Toh ia tidak peduli. Tujuannya hanya satu, jika ia berhenti di tempat itu, maka ia akan menjadi apa yang Tuhan inginkan.

Di sana, tak jauh dari tempat ia berdiri, kubah berwarna emas terlihat sangat besar, tiang bangunan juga terlihat tinggi nan tajam, putihnya bangunan pun menentramkan pikiran. Setelah itu, terdengarlah suara merdu seorang muadzin di dalam sana.

Wanita tersebut melihat ponselnya. Sudah pukul 04.30 WIB. Ah, adzan subuh terdengar sangat merdu. Dia berjalan lurus menaiki tangga bangunan megah itu. Hatinya tergerak untuk menyentuhnya, merabanya, melihatnya, dan bersimpuh pada sesuatu yang ia yakini sebagai Tuhannya. Dan bangunan itu, yang ia tahu bernama masjid.

Tak ia pedulikan tatapan aneh dan mengejek dari orang-orang sekitar masjid. Pria berpeci yang menjaga sandal hanya tersenyum melihat wanita itu masuk ke dalam masjid setelah menitipkan sepatu hak tingginya.

Matanya terpaku pada tulisan besar yang ada di dalam masjid. Kalau tidak salah ingat, namanya kaligrafi, itu yang dia katakan dengan pelan. Ia melanjutkan langkahnya ke bawah masjid untuk mengambil air wudlu. Ia melirik ke kiri. Ada seorang wanita berjilbab juga yangbingin berwudlu. Setiap gerakan ia perhatikan dan ikuti.

Mengusap pergelangan tangan, berkumur-kumur, mengusap wajah, mengusap kedua tangan hingga sikut, mengusap rambut lalu telinga, terakhir mengusap kaki. Masing-masing tiga kali.

Sebegitu haruskah ia suci sebelum melaksanakan sholat?

Wanita itu kembali berjalan menaiki tangga lalu menuju tempat sholat khusus wanita. Banyak sekali orang di sini. Mukena, itu nama benda yang harus dipakai wanita untuk melaksanakan sholat.

"Mau pakai ini Neng?" tanya seorang ibu yang sudah memiliki kerutan di sekitar wajahnya.

"Iya."

Entah panggilan apa yang membuatnya jatuh ke dalam jalan yang ia anggap benar ini. Lagi, ia menengok ke kanan untuk melihat gerakan apa yang seharusnya ia lakukan di awal sholatnya. Takbiratul ihram, rukuk, itidal, sujud, duduk di antara dua sujud, kemudian sujud lagi, bediri. Rakaat kedua pun sama gerakannya, hanya saja diakhiri dengan salam sebagai penutup sholat. Walau ia masih melirik untuk melihat jelas bagaimana gerakannya. Walau ia masih tidak tahu apa saja bacaan yang harus ia baca dalam sholat.

"Kamu harus bisa baca quran dan tahu bacaan solat Neng. Karena itu adalah bentuk komunikasi kita dengan Allah." Ibu yang memiliki kerutan di wajahnya itu ternyata masih duduk di sampingnya.

"Apa saya- masih diperbolehkan untuk sholat?" tanya wanita itu dengan lemah dan malu.

"Tentu. Allah menerima semua taubat hambanya dengan tangan terbuka lebar."

Wanita itu bersujud lalu menangis. Mengingat dosa-dosa yang pernah ia lakukan di masa lalunya. Ia menangis sejadi-jadinya. Ah, Tuhanku bernama Allah, ujarnya lagi.

"Kuserahkan semuanya padaMu," janjinya di subuh hari. Ia berjanji, ia akan menjadi apa yang Allah inginkan. Ia bertaubat.
Share: