Seperti biasa, setelah aku menghabiskan waktuku di Bandung selama seminggu, aku akan kembali pulang ke Tangerang untuk melepas rindu. Toh mata kuliahku sudah tidak ada di semester ini. Aku tinggal fokus pada satu kata menegangkan, Lulus!
Niat pulang untuk mengerjakan proposal skripsi, tapi tak sanggup kukerjaka karena banyak tantangan dan godaan. Tak selesailah sudah proposal skripsiku.
Saat itu, di siang bolong ketika matahari dengan semangatnya menyemprotkan sinarnya padaku yang sedang menjemur pakaian, aku melihat sosok nenek yang sering kulihat.
Nenek Didin, begitu sapaannya. Aku tidak tahu pasti berapa usia Nenek Didin, mungkin kisaran 60-70 tahun. Sebelumnya, aku tak pernah mengenal Nenek Didin walaupun kami tetangga satu komplek. Maklum, aku anak rantau yang jarang tinggal di Tangerang.
Saat aku hendak menaruh cucian di jemuran, tiba-tiba Nenek didin datang dan mengajakku mengobrol. Aku yang saat itu tidak tahu apa-apa hanya membalas apa yang dia katakan dan sesekali tersenyum karena ada beberapa ucapannya yang tidak jelas.
Setelah kejadian iu, aku jadi sering melihat sosok Nenek Didin. Aku sempat bingung karena ia selalu jalan ke arah timur, beberapa menit kemudian Nenek Didin kembali dan berbelok ke arah selatan. Selang beberapa menit, dia muncul kembali.
Ada apa dengan Nenek Didin? Aku sempat bertanya seperti itu dalam hati. Namun kuabaikan saja Nenek Didin yang terus bolak-balik itu dengan tangan kanan yang selalu membawa plastik, yang aku pun tidak tahu apa isi plasitik itu.
"Kayaknya udah mulai enggak waras itu si Nenek Didin."
Aku yang sudah selesai menjemur, kini sedang duduk di bale bersama ibu-ibu komplek sambil mulai mendengarkan gosipan mereka.
"Kasihan ya, denger-denger anak-anaknya pada melorotin dia mulu. Padahal Nenek Didin pengen banget dapet kasih sayang dari anak-anaknya."
"Kadang juga suka ngomong sendiri itu."
Aku yang semakin 'kepo' dengan cerita Nenek Didin, mulai makan rujak dengan perlahan.
"Ke saya aja yang dulunya kenal, sekarang udah mulai enggak negor lagi. Tapi kadang juga negor saya kalau dia lagi inget," ucap mama yang kebetulan memang ada di sana.
Biasa, ibu-ibu komple lagi pada ngerujak bareng di bale depan rumah. Aktifitas tetapnya, bergosip ria.
"Itu plastik yang dia bawa-bawa, itu isinya cuman baju-baju doang. Kadang baju, kadang barang apa aja yang bisa dibawa-bawa," timpal ibu yang lain.
Aku menepuk pelan pundak mama.
"Emang Nenek Didin beneran udah enggak waras mah?" tanyaku.
"Enggak tau juga mamah. Katanya sih begitu."
Aku memutar bola mataku. Ternyata ini benar-benar baru gosip belaka sang ibu-ibu komplek. Tapi, aku yang memang memiliki yingkat penasaran tinggi pada cerita Nenek Didin, tetap saja mendengarkan gosip itu.
Cerita yang kutangkap, Nenek Didin hanyaningins mendapat kasih sayang dari anak-anaknya yang bertindak tidak baik pada Nenek Didin. Menurut cerita, anak-anak Nenek Didin sempat menjambak rambut Nenek Didin dan menguair Nenek didin dari rumahnya.
Kasihan sekali Nenek Didim kalau cerita itu benar adanya.
"Kalau Nenek Didin naik motor nih, dia suka gak mau turun. Dia bakal bilang rumahnya di sana, eh tapi tiba-tiba pas udah nyampe rumahnya, dia bilang rumahnya ternyata di ujung sana. Suka ketawa-ketawa seneng kalo diajak naik motor," cerita mama padaku.
Nenek Didiin selalu mendapat uang pensiunan sampai sekarang, tapi naas, uang tersebut selalu direbut paksa oleh anak-anaknya. Semua anak-anak Nenek didin juga seperti memiliki kesepakatan tersendiri untuk bertindak kasar pada Nenek Didin agar ia hengkang dari rumahnya sendiri.
"Mama gak tau juga itu cerita bener apa nggak. Tapi Nenek Didin sih nyeritanya dia selalu disiksa gitu loh Teh sama anak-anaknya," lanjut mama.
Dari ujung gang runahku, tiba-tiba Nenek Didin sudah balik lagi dengan membawa sesuatu di tangan kanannya.
Melihat Nenek Didin, aku mempunyai niat tersendiri untuk tidak menelantarkan kedua orang tuaku saat mereka sudah beruban.
(N.b : Cerita ini berdasarkan kisah asli yang dibaur dengan fiksi)
(N.b : Cerita ini berdasarkan kisah asli yang dibaur dengan fiksi)

han....
BalasHapusApa??
Hapus