Aku memiliki seorang teman yang hidup dengan banyak kasih sayang, banyak kebahagiaan, banyak cinta, juga banyak harta. Aku tidak iri padanya karena dia perempuan baik nan lemah lembut. Siapa pun ingin berteman dengannya. Kulitnya putih bersih, rambut pendek seperti tokoh kartun anak kecil bernama Dora, tubuh sedikit berisi. Aku tidak ingin menceritakan kami yang notabene teman dekat. Aku ingin menceritakan dia yang katanya sehat. Aku diam, merenung dan menangisi ceritanya. Mari kuceritakan bagaimana dia harus mengalami ini semua.
Namanya Diana, siswi SMP ternama di Jakarta Selatan. Jika kau ingin melihat bagaimana ia tersenyum, bagaimana ia tertawa dan bagaimana ia berbicara. Aku yakin kau akan mendengarkan dan melihatnya dengan sangat hai-hati karena ia terlalu sempurna dan menyilaukan. Diana aktif di pramuka walau hanya sebagai anggota yang sangat dipercaya oleh guru-guru.
Hidup memang indah jika kebahagiaan selalu hadir dalam diri manusia.
Kudengar setelah pulang dari pramuka dia mengeluh pada mamanya. Diana bilang pada mama bahwa tangannya sakit setelah ia mengangkat beban berat yang ia bawa saat pramuka.
Siapapun yang mendengar itu, pasti akan mengira bahwa Diana hanya mengalami keseleo saja bukan?
Ya, itu yang Mama Diana katakan padanya. Sang mama hanya membawakan balsem lalu mengoleskan balsem tersebut pada tangan kiri Diana dengan sangat hati-hati. Awalnya memang tidak terlihat, namun salah satu tetangga Diana mneyadari ada hal ganjil pada lukanya. Tangan kirinya sedikit membengkak di bagian atas sikutnya. Tetangga itu menyuruh Mama Diana untuk segera membawa Diana ke dokter.
Yang kutahu saat itu Diana menolak untuk diajak ke rumah sakit. Mama Diana mencoba membujuk Diana dengan cara apapun sampai akhirnya Mama Diana berhasil membujuk anaknya untuk pergi ke rumah sakit.
Setelah diperiksa, Diana didiagnosa memiliki tumor di tangannya yang bengkak itu. Diana harus dioperasi agar tangan kirinya sembuh. Ia menjalankan operasi dengan santai dan tentram. Ya itu karena Diana tahu bahwa tangannya akan sembuh setelah operasi.
Singkat cerita, setelah ia berhasil dioperasi, semua baik-baik saja. Diana kembali bermain bersama teman-temannya tanpa memikirkan kesehatan tangan kirinya yang dikira sudah sembuh total.
Diana menjalani kehidupan normal sampai dia masuk kuliah. Aku menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan tangan kirinya yang kukira sudah sembuh total. Terkadang Diana kembali merintih kesakitan. Aku tak tega melihatnya seperti itu. Aku memberitahu Mama Diana mengenai tangan kirinya yang kembali membengkak. Jika sebelumnya tangan kiri Diana tidak bisa ditekuk, kini tangan kiri Diana tidak bisa diluruskan. Diana harus menekuk tangan kirinya agar tidak sakit.
Mama Diana kembali membawa Diana ke rumah sakit ternama di Jakarta. Hasilnya tetap sama. Diana harus dioperasi kembali. Mama Diana kembali membujuk Diana untuk pergi ke rumah sakit. Di tahun 2015, Diana menjalani operasi pengambilan caoiran di tangan kirinya.
Diana memasuki ruang operasi. Setelah dibius, dokter membelek benjolan di tangan kiri Diana. Namun naas, dokter kaget saat melihat bahwa benjolan itu bukan cairan. Dokter memanggil Bapak Diana untuk membicarakan hal itu. Saat itulah dunia Diana terbalik sebagian. Diana dirujuk ke rumah sakit kanker yang letaknya masih di Jakarta.
"Gimana hasilnya pak?" tanya Mama Diana. Tentu saja tidak ada Diana di sana.
"Harus dirujuk ke rumah sakit kanker."
Jawaban pendek nan pelan itu membuat Mama Diana menangis. Tak ada cara lain selain mengirim Diana ke rumah sakit itu.
"Mama kenapa nangis?" tanya Diana yang tiba-tiba datang pada waktu itu.
"Mama abis batuk de, ini batuknya sakit banget sampai gatel gini tenggorokan mama."
Diana tersenyum lalu mengelus punggung sang mama.
Ya, Diana mengidap kanker stadium dua.
......
"Seharusnya ini tidak dioperasi terlebih dahulu. Cairan itu akan menyebar ke mana-mana hingga akhirnya kanker itu pun akan menyebar. Seharusnya sebelum melakukan pembedahan, semua syaraf di sekitar tangan kirinya diberhentikan. Bagiaman ini?" Dokter Yus mengurut kepalanya. Ia hampir tercengang melihat data yang ia dapat dari rumah sakit sebelumnya.
"Ya sudah, sekarang jangan menyalahkan siapa-siapa. Ibu fokus saja pada anak ibu. Kita berdoa saja semoga Diana tidak apa-apa."
Mama Diana masih kaget dengan ucapan Doketer Yus yang terdengar frontal. Itu karena Diana ada di sana. Bisa kau bayangkan bagaimana sakitnya Diana yang mendengar itu semua? Diana yang dengan santainya duduk tanpa beban di depan Dokter Yus, kini harus mendengar itu semua.
"Diana harus dikemo."
"Diana ga mau dikemo bu. Itu sakit," ujar Diana pelan.
"Baik kalau kamu ga mau dikemo, kamu harus rutin rehabilitasi dan meminum obat."
Diana mengangguk.
Sampai di rumah, Mama Diana sudah ditunggu oleh Kiana, kakak perempuan Diana. Entah karena lelah atau memang tidak ingin bicara, Diana langusung pergi ke kamar untuk istirahat.
"Jadinya sakit apa ma?" tanya Kiana.
Tanpa sepatah kata, Mama Diana memberikan hasil dokter pada Kiana. Jeritan Kiana membuat Mamanya menaruh telunjut di bibir Kiana. Menandakan untuk tidak terlalu berlebihan.
"Kiana harus nyari sesuatu ma!"
Kiana pergi ke kamar lalu mengambil laptopnya. Ia mencaritahu kanker apa yang diderita adiknya. Kiana mendapat jawaban bahwa kanker itu merupakan kanker langka yang memang diderita pada anak berumur 7-18 tahun.
Kiana mencaritahu beberapa orang yang memang mengidap kanker tersebut. Berjam-jam ia mencari, akhirnya Kiana menemukan seorang perempuan yang memiliki kanker yang sama seperti yang diderita Diana. Ia membuka facebook anak itu dan segera menelepon sekolah anak itu berada.
"Assalamualaikum bu, apa di sekolah ini ada anak bernama Juli?"
"Iya mba, ada apa ya?"
"Boleh saya bicara dengan Juli bu? Saya ada perlu."
"Maaf mba, tapi Juli sudah pergi."
"ke mana?" tanya Kiana penuh semangat. Mungkin saja ia bisa mendapat alamat Juli.
"Dia sudah tidak ada di dunia mba."
Kiana terdiam. Ia menutup sambungannya dengan perlahan.
"Gimana Ki?"
"Orangnya udah pergi Pah, Mah," jawab Kiana.
"Pergi ke mana?" tanya sang mama.
"Dia udah ke alam sana." Kiana menunjuk langit-langit rumahnya.
Mereka terdiam. Aku tidak terlalu ritahu apa yang terjadi selanjutnya. Namu aku mendapat cerita bahwa setelah beberapa hari mamanya ke sana kemari mencari pengobatan, Diana berkata, "Ma, Diana baik-baik aja."
0 komentar:
Posting Komentar