Selasa, 07 Februari 2017

Dia, Si Pembuat Hoax Terbaik

Menurutku, dia adalah seorang dengan predikat tinggi di sini. Dia memiliki segalanya, termasuk intelejen, data statistik, media, otak manusia, pergerakan manusia, senjata, dan segala hal berbau kekuasaan.

Di sore yang sedikit mendung, Bandung membuatku lelah dengan segala aktifitas orang yang berlalu lalang di jalan. Aku membuka salah satu akun instagram milik @fuadbakh. Instagram yang selalu membuatku terkagum beberapa kali karena dia mengajarkan Islam dengan caranya. Tentang kebenaran dan kewajiban dalam Islam.

Aku duduk di terminal Damri, depan kampusku. Menunggu Damri selanjutnya datang. Kumainkan jempolku untuk men-scroll postingan instagramnya. Tentu saja isinya tentang hal yang sekarang ramai diperbincangkan.

Ya, tentang Islam. 

Penistaan agama, penistaan pancasila, penyadapan telepon mantan presiden, terorisme, PKI yang mulai bermunculan, juga hoax yang sedang berkembang pesat di ranah bebas ini. 

Saat sedang asik menikmati dan berpikir makna dari video yang dia posting, ada satu mahasiswi, mungkin umurnya sama denganku, duduk di sampingku.

Seperti sudah menjadi kebiasaan saat menunggu, dia mengeluarkan gadget dan membuka instagram juga. Aku tidak bermaksud mengintip, hanya saja memang terlihat olehku. Karena jarak duduk kami hanya sedikit.

"Siapa sih pemegang hoax terbesar? Bikin geger masyarakat aja kalau banyak yang begini terus!" Dia berdecih kesal.

"Coba lihat penuturan Rocky Gerung di acara Indonesian Lawyer Club," jawabku tiba-tiba. Kutunjukkan juga potongan video yang diposting pengguna instagram @fuadbakh.

"Siapa dia?" tanyanya.

"Dia Peneliti Perhimpunan Pendidikan Demokrasi. Dosen FIB UI. Dia ngejawab soal yang kamu tanya tadi," jawabku lagi.

Di sana, dia menjawab, hanya 'petinggi' (saya ubah redaksinya) yang potensili bisa melakukan itu. Dia punya segalanya. 

"Kalau begini, jadi inget sistem pemerintahan di Korea Utara yah? Media bener-bener dikuasai pemerintahan. Jadi inget juga sama jamannya mantan presiden kita," ujarnya.

"Hoax itu punya batasannya. Kalau berita yang dia bawa nilainya di bawah 0, itu sudah masuk hoax. Itu tandanya, hoax itu kebohongan lebih dari kebohongan. Kita, rakyat biasa, bisa saja marah. Tapi itu faktanya."

Dia mendengarkan penjelasanku. Mungkin cerita ini menjadi cerita yang menarik baginya.

"Ada salah satu wartawan yang bercerita padaku. Kebetulan waktu itu aku sedang PKL di sana. Saat sedang makan soto di luar gedung, aku meminta padanya untuk bercerita mengani media saat ini."

Kulihat dia mengangguk cepat. Antusias.

"Aku tanya, apa sebenarnya dia memiliki idealisme untuk membuat berita yang benar dan terpercaya. Lalu dia jawab bahwa dia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali mengikuti atasannya. Susah rasanya jika sudah jatuh ke lingkaran seperti itu."

"Dia juga bilang, ingin sekali dia berpegang teguh pada 9 elemen kejurnalistikan yang memang harus dijaga baik-baik. Tapi sekarang, itu sudah sedikit memudar," ceritaku.

"Lalu bagaimana kita bisa percaya pada mereka jika kita diberi hal-hal bohong terus seperti ini?" tanyanya.

Aku mengangkat bahu. Kuingat kembali akan hadirnya 'Dia' di negara ini. Kumohon padamu, berikan kebebasan media untuk memberikan yang terbaik. Media lokal, media nasional internasional, mapun media kampus. 

Kalau saja ada seseorang yang tiba-tiba berbicara : Huh, semua gara-gara media!!!

Aku, selaku mahasiswa yang berkecimpung di dunia media, merasa sakit. Walaupun memang jiwaku tidak sepenuhnya ada di sana. Tapi bagaimana dengan mahasiswa dan mereka yang tulus ingin membantu masyarakat untuk memperbaiki kebenaran media? 

Hai pembuat hoax terbaik, pikirkanlah jika anak muda itu adalah anakmu yang dibohongi oleh ayahnya sendiri. Sikap seperti apa yang akan kau ambil?


Share:

0 komentar:

Posting Komentar