Tampilkan postingan dengan label Journal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Journal. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Maret 2018

Coffee Latte (1)


Aku meminum kopi latte hangat. Orang bilang, jika aku suka meminum kopi latte, aku akan merasa diriku adalah orang paling menderita di dunia. Ini manis, tapi membuatku frustasi.


Bandung, 11 Mei 2017

Aku mendekam di dalam kosanku yang tidak terlalu besar namun panas. Aku mengusap keringatku dengan perlahan lalu membuka tab Samsung milikku. Sekadar memantau apa yang sedang menjadi perbincangan hangat di sosial media, terutama Instagram. Hei, ada pesan masuk.

"Mohon maaf, kalau boleh tanya. Apakah ilustrasi yang ada di IG Anda, Anda yang buat?"

Belum sempat kubalas, pesan selanjutnya muncul dari si pengirim yang belum kukenal sebelumnya.

"Oh maaf saya baru liat. Memang itu ilustrasi yang Anda buat. Semoga lain kali kita bisa bekerja sama."

Aku tak  tahu siapa dia. Kusempatkan membalas pesan dia dengan "Aamiin." saja, lalu kembali melanjutkn aktifitasku yang sempat tertunda.

Aku tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa keajaiban akan muncul setelah pesan itu datang. Pesan dari si pengirim asing yang tidak kugubris sama sekali. Aku hanya iseng membuka instagramnya dan melihat-lihat fotonya. Tidak ada yang istimewa.Setelah itu aku keluar dari instagram dan kembali menonton drama korea dengan temanku.

Bandung, 16 Mei 2017

Aku, perempuan penyendiri yang susah untuk keluar kosan. Bagiku kosan kecil nan panas ini sudah menjadi tempat ternyaman di Bandung. Aku menghabiskan waktuku di sana. Tak peduli apakah aku kenal dengan teman kosanku atau tidak, aku cukup  nyaman dengan kehidupanku yang kala itu hanya bergelut dengan skripsi dan order gambar. Oh, saat itu skripsi menjadi salah satu benda yang membuatku selalu ingin membantingnya. Aku tidak kuat.

Tring. 

Oh, ada pesan datang di Instagram.

"Assalamualaikum Hon.
Saya punya teman editor di sebuah penerbitan.
Mereka sepertinya tertarik dengan karya-karyamu.

Btw, sekarang kamu sedang TA ya? Kalau boleh tahu
TA-nya tentang apa? Siapa tahu bisa diterbitkan.
Dan bolehkah saya minta kontakmu? 
Terima kasih  sebelumnya."

Aku terdiam. Tidak kubalas pesannya selama beberapa detik. Aku hanya berpikir bahwa apakah ini nyata? Hei, ada satu penerbit yang suka dengan karyaku!

Aku memberikan tabku pada temanku yang kebetulan sedang main di kosanku. Kulihat dia membuka matanya lebar-lebar. Ya, dia tahu keinginanku, dia tahu apa yang sedang kuharapkan, dan dia tahu apa yang sedang kucita-citakan. Dia bilang ini kesempatakanku. Dia pun menyuruhku untuk cepat membalas pesannya.

Aku pun membalas pesannya.

"Waalaikumsallam. 
Maaf baru balas kak. 

Iya ini saya lagi TA. Karena aku jurnalistik,
TA aku judulnya Kebijakan Redaksi pada 
Kanal Seni dan Budaya. Berhubungan sama
keredaksian di salah satu media online. 

Penerbit mana ya kak?

Wah ... alhamdulillah kalo mereka
suka sama karyaku."

 
Aku memberi dia kontakku agar kami bisa dengan santai berkenalan dan membicarakan apa yang dia inginkan dari karyaku. Dia, si pengirim itu mengirim pesan via WhatsApp. Jika berkenan, aku disuruh datang ke Jakarta untuk ikut rapat editor. Kamu tahu? Aku bahagia dengan ajakannya. Aku tidak pernah berpikir negatif tentang si pengirim itu. Aku bahkan tidak pernah berpikir bahwa dia orang jahat yang sedang modus untuk menipuku. Entah kenapa.

Jakarta, 2017

Aku bahagia. Sangat bahagia. Saat itu aku pikir, apa ini jalan yang sudah Allah bukakan untukku?

"Hon, aku mau ngajak kamu buat bikin buku. Aku udah lihat instagram kamu dan lucu-lucu banget gambarnya."

Loh? Aku kira aku hanya akan menjadi ilustrator untuk penulis saja. Ternyata aku diajak untuk menjadi seorang penulis di penerbit besar ini.

"Nah, nanti kita bikin satu tema buat buku kamu dengan memakai tokoh kartun kamu yang ada di instagram itu. Siapa namanya? Honhon dan Damar?"

"Iya," jawabku singkat. Saat itu aku masih malu dan merasa belum pantas untuk masuk ke penerbit besar seperti ini.

Jika orang berpikir, enak sekali rasanya perempuan biasa sepertiku tidak perlu bersusah payah mengirim naskah untuk menerbitkan suatu buku, maka jawaban mereka salah. Aku selalu dihantui rasa bersalah dan kecemasan jika buku yang kuterbitkan tidak laku. Bagaimana jika mereka kecewa dengan hasilnya, bagaimana jika karyaku tidak seperti yang mereka inginkan, bagaimana jika mereka menaruh harapan besar padaku namun semuanya akan sia-sia? Bagimana?

Itu yang kupikirkan. Ketakutan-ketakutan itu yang membuatku frustasi.

Aku menjadi sosok yang berambisi ketika aku memulai hidupku yang baru sebagai seorang penulis pemula. Aku menghabiskan waktuku untuk menggambar, mencari ide, mengejar target dan  sibuk memikirkan apakah gambaranku sudah sesuai  atau belum. Sedikit demi sedikit aku sudah tidak peduli lagi dengan skripsiku. Aku lebih mementingkan karyaku ketimbang skripsiku. Sejenak aku melupakan beban skripsiku.


Menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan dua buku membuatku bahagia. Sangat bahagia. Rasanya seperti dilemparkan ke langit. Melambung tinggi ke atas saat karyaku dipuji oleh editorku. Hah... semoga karyaku menjanjikan. Aku akan sangat malu jika karyaku tidak seperti yang mereka harapkan.

"Hon, kita bakal PO 100 buku kamu. Semoga laku ya. Eh kayaknya bisa lebih nih. Apa lima ratus aja ya Hon?"

"Kalau laku kita nanti bakal cetak buku kamu yang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Kereeenn...."

Berhenti.

"Bener banget, nanti kita buat ide yang baru lagi buat buku kamu."

 Berhenti.

"Semoga ini kejual habis ya Hon. Hebat banget karya kamu. Lucu-lucu gitu. Pasti laku."

Aku mohon berhenti!

Aku mohon berhenti untuk menaruh harapan-harapan itu padaku. Aku tidak bisa menerima itu. Di satu sisi aku bahagia, tapi di satu sisi aku takut untuk menanggung semua beban itu. Aku takut. Aku hanya tersenyum mengangguk dan kembali takut. Aku tahu bahwa ini jalan yang sudah Allah berikan. Tapi entahlah. Aku bahagia dan frustasi dalam waktu yang bersamaan.

Desember, 2017

Dua bukuku sudah terbit. Aku  turut mempromosikan bukuku di instagram ataupun personal ke teman-temanku. Kamu pasti tahu rasanya cita-citamu tercapai dengan baik dan jalan yang tidak berliku. Oh kawan, itu menyenangkan.

Menyenangkan.

Oh, apakah semenyenangkan ini?

Sangat menyenangkan. Kamu harus merasakannya!

Menyenangkan.

Menyenangkan.

Menyenangkan.

Tidak.


Ini tidak lagi menyenangkan.

Jatuh.

Aku jatuh.

Aku frustasi.

Aku ... pesimis.


Ping.

 Aku membuka tabku. pesan via WhatsApp.

Aku terdiam. Ini ... ketakutanku ... menjadi kenyataan.

"Hon, penjualan buku kamu kurang bagus."


Lalu, waktu ini sekan kembali terulang.

"Hon, saya kenal kamu dari Anan. Kamu ... mau buat buku lagi?"

Aku diam. Sedikit takut untuk melangkah maju. Tapi....

"Jangan pesimis, Hon!"






Share:

Jumat, 08 September 2017

Aku Takut Bahagia

Tangerang, 11.27 WIB.

Bukankah bahagia itu menyenangkan? Siapa yang tidak bahagia saat diterima masuk sekolah unggulan? Siapa yang tidak bahagia saat mendapatkan apa yang kita inginkan? Siapa yang tidak bahagia saat seseorang yang kamu inginkan benar-benar datang ke dalam hidupmu? Siapa yang tidak senang lulus dengan nilai yang dirasa cukup memuaskan? Dan siapa yang tidak senang saat diterima kerja walaupun ijazah belum keluar?

Entah sejak kapan kata 'bahagia' menjadi sangat menakutkan. Kamu tahu? Rasanya seperti ada beberapa jarum yang tertusuk di kakimu. Sakit.

Dulu aku tidak pernah seperti itu. Aku pun tidak tahu apa penyebabnya. Mungkin dulu aku pernah mengalami rasanya terlalu bahagia namun tiba-tiba juga aku terjatuh. Mungkin dulu aku pernah merasakan indahnya bahagia sampai akhirnya kebahagiaan itu hilang ditelan bumi. Nihil. Tidak berbekas.

Sejam yang lalu, tepatnya sebelum aku menulis ini, aku mendapat telepon dari tempatku melamar kerja. Dia bilang, kamu diterima.

Kamu tahu apa yang kulakukan? Aku hanya menjawab, ya, terima kasih.

Bahkan setelah itu aku mendapat pesan singkat bahwa aku bisa langsung menyerahkan revisian skripsiku di hari minggu mendatang.

Ada letupan kebahagiaan bahkan sempat bersorak bahagia, tapi hilang begitu saja. Tidak jingkrak-jingkrakan penuh kebahagiaan, tidak memeluk mama bapak, tidak juga sujud syukur. Aku hanya bilang kepada diriku, semoga ini jalan yang terbaik.

Entah sejak kapan. Aku pun bingung. Entah sejak kapan aku menjadi penakut seperti ini. Saat kebahagiaan itu muncul, selalu ada hal-hal negative yang terus terngiang dalam kepalaku.

Bisakah aku menjadi seseorang yang mereka inginkan?

Apakah ini tidak akan mengecawakan mereka?

Apakah kedepannya aku akan mendapat kesulitan?

Apakah... apakah... apakah??

Menghindari ketakutan yang selalu muncul setelah aku mendapatkan kebahagiaan, aku selalu menenangkan pikiranku dengan berkata, kalau Allah sudah memberi sesuatu, mungkin itu yang terbaik. Entah itu jalan yang berkelok atau lurus. Lalu ketakutan itu pergi.

Mungkin bukan hanya aku yang seperti ini. Mungkin juga kamu memiliki rasa seperti itu. Maka jalan satu-satunya, tetap bersyukur dan berdoa kepada-Nya.






Share:

Selasa, 11 April 2017

Ijinkan Aku Wisuda



Subuh yang indah membangunkanku untuk segera mandi sehabis sholat subuh. Menyegarkan badan dengan guyuran air yang tidak begitu dingin.

Tak biasanya aku mandi subuh ketika sedang berlibur di kampung halamanku, Tangerang.

Ada alasan tersendiri aku memaksakan diriku untuk bangun dan bergegas memakai baju rapih setelah mandi. Kupilih setelan baju yang dirasa cocok untuk menghadiri hari paling spesial bagi teman kecilku. Ya, hari ini dia akan sah menjadi wisudawati lulusan Broadcast. Selamat.

Sekarang, tepat pukul 08.09 WIB, aku sedang duduk diam di lantai 13. Karena memang selain kedua orang tua, tamu yang lain di larang masuk ke ruangan tempat wisudawan dilantik. Tapi dari duduk diam ini, aku melihat betapa indahnya suasana di hari yang penuh kegembiraan ini.

Orang-orang dengan toga hitam berjalan ke sana kemari dengan keluarganya, beberapa tukang foto pun kucar-kacir mencari 'mangsa' untuk difoto, petugas yang juga sibuk menaruh benda ini dan itu, juga beberapa keluarga wisudawan yang duduk manis menunggu keluarganya di luar.

Dari duduk ini, aku melihat salah satu tukang foto. Dia pria yang rambutnya sudah tak hitam lagi. Bukan hanya rambut, janggutnya pun memutih. Perawakannya tidak terlalu tinggi, perutnya yang besar maju ke depan. Dia tidak seperti tukang foto keliling kebanyakan yang terkadang memaksa wisudawan untuk difoto.

Ya, untuk mencari nafkah memang tak semudah yang diharapkan. Tapi, begitulah kerjaan mereka.

Pria beruban itu hanya berjalan perlahan untuk mendekati 'mangsanya'. Dia juga tidak memaksa wisudawan untuk difoto. Dia sopan. Sangat sopan. Kebanyakan tukang foto tidak menunjukkan hasil jepretan dan editannya pada 'mangsanya', namun dia berbeda. Pria beruban itu menunjukkan hasil jepretannya yang sudah dicetak. Mungkin hanya sebagai bukti. Jika wisudawan yang ia tawari menggeleng, ia tidak akan memaksa wisudawan itu untuk difoto dengan kameranya.

Oh aku lupa. Dia juga memakai baju batik dan membawa ransel yang sudah tidak bagus lagi di pundaknya. Kulihat dia berjalan pelan ke sana kemari tepat di depanku. Tentu saja mencari wisudawan yang rela difoto olehnya.

Jika dilihat dari hukum alam, siapa yang kuat dialah yang menang, maka pria beruban itu kalah telak dengan tukang foto lainnya. Karena metode yang mereka pakai memang berbeda. Si pria beruban itu memakai metode halus nan lembut, sedangkan yang lainnya tidak.

Tapi sekali lagi, mencari nafkah itu tidak mudah.

Itu salah satu kisah pria beruban.

Bukan hanya itu suasana mengharu biru di hari bahagia ini. Karena aku sadar, setiap orang tua pasti akan hadir di acara wisuda anaknya.

Kutengok sebelah kananku. Ada eskalator di sana. Hadirlah seorang pria bertoga hitam menuntun sang ayah.

"Pelan-pelan pak. Satu, dua, tiga. Loncat," ucapnya. Itu terdengar jelas di telingaku.

Kulihat sang ayah yang sudah tak sehat lagi di bagian kakinya. Sandal jepit swallow yang dipakai sang juga menambah kesan bahwa kakinya benar-benar sakit. Dengan langkah kaki yang sudah tak baik lagi, anaknya menuntun sang ayah dengan hati-hati.

Apa yang kulakukan saat itu? Aku tersenyum. Aku yakin, seberapa parahnya sakit yang diderita, jika itu adalah hari wisuda anaknya, ia akan datang.

Bukan hanya ayah atau ibu yang sedang sakit, orang tua yang sudah bercerai pun bisa hadir dalam satu waktu dan di tempat yang sama. Tujuannya? Mereka akan menghilangkan ego mereka terlebih dahulu untuk kebahagiaan anaknya.

"Kapan aku wisuda?"

"Kapan mama sama bapak bisa ngeliat aku pakai toga?"

"Kapan aku bisa ngerasain indahnya suasana wisuda?"

Terakhir, aku berdoa.

"Ya Allah, ridhoi aku untuk wisuda tahun ini."



(Jakarta, 08.28 WIB)




Share:

Rabu, 29 Maret 2017

Hello Monster

Semua berawal dari mata dan telinga yang lelah dengan pelajaran. Aku mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen. Pelajaran matematika sungguh membosankan. Kulihat temanku yang duduk di bangku sebelah, Bella namanya.

Tangannya begitu asyik menyatukan garis demi garis hingga membentuk sebuah pola.

"Bel, ajarin dong!"

"Boleh."

Akhirnya, semua berubah saat negara api menyerang. Aku hidup dalam kendali monster yang membuatku tak bisa lepas darinya. Hei, aku benar-benar tidak sanggup melepasnya.

Sekarang umurku akan menginjak 22 tahun. Dan kejadian menyeramkan itu terjadi sekitar 13 tahun lalu. Bayangkan monster warna-warni dalam tubuhku hinggap dengan damainya.

Oh, apa tadi aku bilang monster itu menyeramkan? Maaf, aku salah. Mereka monster lucu yang terus menggelitik imajinasi dan kekuatan tanganku untuk terus bergerak. Ya, bergerak membuat garis lurus, lingkaran, garis miring, dan garis tipis lainnya.

Kuberitahu kalian.

Dalam tubuhku bukan hanya ada satu monster, tapi beberapa moster. Mereka yang menemaniku hingga di usiaku yang sudah tidak muda lagi.

Monster itu yang menggerakkan seluruh tubuhku, harapanku, imajinasiku untuk terus berkembang, berkembang, dan berkembang menjadi pusaran negara api. Negara kekuasaan kami.

Suatu hari, pernah aku menutup diriku untuk tidak menerima apapun dari monster-monster itu. Aku bingung. Beberapa orang bilang bahwa menjadi seorang seniman tidaklah begitu berarti. Tidak akan ada harapan untuk hidup jika aku berteman dengan monster-monster itu.

Selama hampir tiga tahun, aku menutup diri dari monster-monster itu.

Pernah dengar pepatah, tak kenal maka tak sayang? Tentu saja kalian pernah!

Ini yang kualami pada monster-monster berwarna itu. Kami sudah berteman sejak lama, maka tak mungkin kami tidak saling merindu dan menyayangi. Well, aku rindu kehadiran mereka.

Kubuka lagi negaraku sendiri. Duniaku sendiri. Monster-monster itu seperti berloncat-loncat manis ke arahku. Mereka mengatakan : Selamat datang kembali, Hani!!


Aku kembali pada dunia warna-warniku, dunia pensilku, dunia garisku. Negara apiku yang cukup membuatku semangat untuk kembali pada mereka, monster-monster manisku.

***

Di tahun 2013, aku berkesempatan dibelikan Notes GT-N5100 oleh bapak. Awalnya aku tidak memiliki niatan untuk membeli gadget berukuran sedikit besar. Namun yang kucari, di sana ada stylus untukku menggambar. Well, mungkin saatnya aku merubah hobiku dan mengajak monater-monsterku masuk ke ranah digital.

Mereka tertawa gembira.

Akhirnya aku bisa membawa mereka ke dunia penuh kecanggihan ini.

Seperti sebelumnya, aku harus mengulang semuanya dari awal. Monster-monster yang ada di dalam diriku pun awalnya cukup sulit untuk bersatu dengan dunia digital. Tapi semakin berjalannya waktu, hari, bulan dan tahun, aku semakin bisa menguasai dunia warna-warniku. Duniaku dan dunia monster-moster manisku.

Mereka kembali mengajakku berimajinasi lebih. Mereka mengajakku menyelami diriku dalam warna dan pola yang lebih tebal. Sampai akhirnya, aku menemukan ladang bisnisku yang berawal dari hobi.

Kau tahu apa yang kurasakan? Aku bahagia dengan hadirnya monster-monster manis yang ada dalam tubuhku.

Terimakasih Bella dan monster lucu. Berkat kalian, aku bisa menggambar sesuai imajinasiku.



(Bandung, 22:13 WIB)



Share:

Selasa, 28 Maret 2017

Doa Anak Rantau



Angin pagi, oh bukan, maksudku angin di subuh hari membuat tubuhku menggigil. Walaupun Tangerang panas, angin subuh tetaplah paling menyegarkan.  Aku memegan erat tali tasku supaya tidak jatuh. Mengingat di dalam tas itu ada laptop dan barang berharga lainnya.

***

Setiap aku ingin kembali merantau ke Bandung, bapaklah seseorang yang pasti akan mengantarku ke Pool Budiman setelah subuh. Dapat dipastikan bapak akan menungguku sampai aku siap berangkat.

Di waktu subuh, hari di mana aku akan kembali ke Bandung, seisi rumah, terutama mama akan sibuk menyiapkan segalanya untukku. Mama akan bangun lebih subuh untuk membuatkan segelas teh manis hangat dan membekaliku nasi dengan taburan ampela pedas di atasnya. Tidak lupa juga sendok. Padahal aku punya persediaan sendok di kosan.

Selalu ada yang mama dan bapak ingatkan untukku.

"Jangan lupa casan."

"Jangan lupa laptop, Teh."

"Itu revisian gak akan dibawa?"

"Udah? Gak ada yang ketinggalan?"

Aku selalu rindu saat-saat seperti itu. Tak ingin kulangkahkan kaki keluar rumah ketika waktu itu datang. Mereka yang menyiapkan segalanya, mengingatkan segalanya, menemaniku sampai aku siap pergi lagi ke Bandung. Rasanya tak ingin lagi aku merantau. Ingin tetap ada di dekat mereka.

Bapak sudah siap di luar dengan motor Hondanya. Mama dan kedua adikku pun keluar untuk melambaikan tangan mereka untukku. Selesai memakai sepatu, aku salim pada mama.

Ma, doakan anakmu ini untuk lulus tepat waktu. Aku selalu meminta doanya untuk kelancaranku dalam segala hal.

"Belajar yang bener," ujar mama.

"Hani pergi dulu ya ma. Assalamualaikum."


"Gak ada yang ketinggalan kan?"

Lagi, mama pasti akan bertanya seperti itu. Kalau tidak mama, bapak yang akan bertanya.

"Enggak insyaallah."

Berangkatlah aku menuju Pool Budiman yang pasti keberangkatanku itu dihiasi dengan tangisan adik bungsuku. Dasar, kalau seperti itu mana tega aku meninggalkannya?

***

Sampai di Pool Budiman, aku langsung ke tempat pembeliatan tiket. Karena sekarang Budiman menggunakan sistem Ticketing.

"Mau ke mana, Neng?" tanya bapak penunggu tiket.

"Ke Cileunyi, Pak."

"Langsung naik aja."

Aku pergi dari loket menuju bus bertuliskan Tasik-Tangerang di depannya. Tentu saja dengan bapak yang mengikutiku di belakang. Baiklah, bus sudah penuh. Tak ada lagi tempat duduk yang tersisa. Akhirnya aku dan bapak kembali turun. Menunggu bus selanjutnya.

"Penuh Neng? Ke sana, beli tiket dulu," ujar bapak penunggu tiket .

Aku mengangguk dan pergi lagi meninggalkan bapak menuju loket. Karena busnya beda lagi, aku harus membeli tiket untuk masuk ke bus selanjutnya. Jurusan Kawali-Tangerang.

Setelah mendapatkan tiket, aku kembali ke tempat di mana bapak suda berdiri di samping motornya.

"Dapet Neng?"

"Ini." Aku menunjukkan tiketku. Bangku nomor satu.

"Ya udah, bapak tinggal ya."

Aku mengangguk. Sejujurnya Pak, aku tidak ingin ditinggalkan sebelum aku masuk ke bus. Entahlah, hari itu aku sedang tidak ingin ditinggal oleh bapak. Aku tidak ingin sendirian.

Bapak sudah memegang stang motor. Kukira bapak akan pergi meninggalkanku sendirian. Tapi ternyata bapak hanya memajukan motornya saja. Bapak tidak meninggalkanku sendirian di Pool Budiman. Aku tersenyum. Sudah sering bapak mengatakan hal seperti : "Bapak tinggal ya , Neng."

Sampai akhir, bapak akan tetap menungguku sampai aku duduk manis di dalam bus.

Bus selanjutnya sudah maju ke perbatasan. Aku segera naik bus tersebut dengan bapak yang tentu saja turut naik untuk mengantarku. Memeriksa bahwa putrinya sudah duduk manis di dalam bus.

Aku salim pada bapak.

"Hati-hati ya, Neng. Ntar kalau sudah nyampe Bandung, kabari mama atau bapak. Belajar yang rajin."

Bapak mencium kedua pipiku, mengusap kepalaku lalu turun dari bus.

Terkadang bapak akan menunggu sampai bus yang kutumpangi pergi meninggalkan Pool Budiman. Terkadang bapak akan pergi duluan menuju kantor. Alasannya karena bus yang kutumpangi terlalu siang untuk diberangkatkan. Takut bapak telat ke kantornya yang ada di Jakarta.

Dari jendela bus, putrimu ini selalu melihat sosokmu yang sedang menunggu atau sosokmu yang pergi lebih dulu dengan motormu.

"Semoga bapak sampai kantor dengan selamat."

Selalu itu yang kudoakan untuknya.


(Bandung, 19:36 WIB)








Share:

Sabtu, 04 Maret 2017

Kardus Kecil Bernama Warnakerta

Aku ingin bercerita tentang aku yang ada dalam sebuah kardus kecil. Kardus kecil penuh keberagaman warna dan mainan. Ini bukan pertama kalinya aku bermain di lingkungan baru  tapi ini pertama kalinya aku bermain dalam sebuah kardus kecil dengan dua belas kepala yang berbeda.

Tunggu, aku belum menceritakan sesuatu. Aku tidak bermain sendiri dalam kardus kecil itu. Aku bermain dengam 12 anak yang berbeda-beda. Berbeda pikiran dan sifat.

Awalnya aku takut untuk masuk ke dalam kardus kecil itu. Aku takut sifat dan pikiranku tidak sejalan dengan mereka.


Sebelum aku dimasukkan ke dalam kardus kecil nan ajaib itu, aku berdoa semoga Allah memberiku tempat yang tepat.

Setelah jatuh ke dalam kardus, aku terdiam. Kardus itu gelap. Aku tidak bisa melihat apapun. Aku hanya diam dan berharap untuk bisa keluar dari sana. Tapi di ujung kardus itu, aku melihat cahaya. Kulihat 12 orang lain yang tadi sempat kuceritakan, sedang asyik bermain. Mereka tertawa, saling melempar canda.

Sedangkan aku? Aku hanya diam di tempat gelap tanpa berani melangkah ke tempat bercahaya itu. Aku terlalu takut dengan cahaya. Aku terlalu takut, ketika aku datang, tempat itu akan redup secara perlahan. Aku takut.

"Kalau kamu tidak mencoba, maka kamu gagal!"

Kudengar bisikan itu dari hati dan pikiranku. Dengan takut, aku melangkah sedikit demi sedikit. Beberapa mainan yang kuperlukan, aku ambil untuk kuberi pada mereka.

Bunyi suara langkahku membuat 12 orang itu menoleh. Aku memejamkan mataku. Sungguh, aku ingin pulang. Ditengah ketakutan, aku merasakan tanganku disentuh. Aku membuka mataku.

"Ayo kita main!" seru anak perempuan yang tadi menyentuh tanganku.

Tanpa persetujuan, dia menarikku ke tempat bercahaya itu. Di sana ada berbagai macam mainan dengan warna yang berbeda. Sedikit demi sedikit aku mulai berani memberitahu pada mereka siapa aku sebenarnya, seperti apa sifatku, dan bagaimana caraku berpikir. Mereka setuju dan menerimaku dengan lapang dada.

Beberapa hari aku bersama mereka, kardus kecil ini mulai terang. Tidak semua, tapi cukup membuatku senang. Tandanya aku sudah masuk ke dalam kehiduupan mereka yang bercahaya.

"Bagaimana kalau cahaya kardus?"

Kami sedang mendiskusikan apa nama yang tepat untuk kardus kecil nan ajaib ini.

"Terlalu panjang,"

"Cahaya cinta?"

"Hah, seperti nama film di televisis saja."

Kami tertawa.

"Bagaimana kalau Warnakerta?"

Aku setuju!

Mereka pun setuju.


Aku tersenyum. Ini deskripsiku tentang sebuah lingkungan baru. Aku KKN di salah satu Desa di Garut bernama Wanakerta.  Sebulan aku hidup dengan orang-orang yang tidak kukenal. Orang-orang yant memiliki ego dan sifat masing-masing, yang memang harus dimaklumi dan diterima dengan lapang dada. Pasti ada konflik, pasti ada ketakukan, dan pasti juga ada kebahagiaan dan kenangan di dalamnya.



Terima kasih.

(Garut, Wanakerta, 12.03 WIB).




Share:

Rabu, 07 Desember 2016

Hadirnya Dua Mangkuk Ramen



Gerobak Ramen, 19.30 WIB.

Malam itu  aku memutuskan untuk bertemu sahabatku. Dia ingin mencicipi kembali rasanya ramen sambil berbincang ria denganku. Malam yang dingin, nikmat sekali rasanya jika makan ramen. Kuahnya yang kental dan sambalnya yang cukup membuat perutku sakit menjadi santapan kami malam itu.

Aku memesan original ramen dan lemon tea dingin. Sedangkan Nida, sahabatku, memesan curry ramen dan green tea sebagai penghilang dahaga.

Sebelum pesanan sampai, kami berbincang mengenai skripsi dan semua hal yang berkaitan dengan penelitian. Mengingat kami sudah masuk ke babak final di kuliah. Doakan semoga kami bisa lulus tepat pada waktunya.

Harum khas ramen Gerobak Ramen membuat perutku semakin bunyi. Di depanku sudah terhidang pesanan kami. Sambil makan, sesekali kami berbincang tentang suatu hal yang berkaitan dengan Islam, penistaan agama, aksi demo damai, keajaiban super damai 212, juga tentang kami yang tidak tahu hidup di ranah apa.

"Sekarang tuh aku gak tau harus percaya sama siapa," ujar Nida tiba-tiba.

"Kenapa emang?"

"Hon, kita gak tau kisah sebenarnya dari semua hal ini. Kita gak tau apakah ada orang-orang yang mengangkat isu ini sebagai keuntungan dalam hal politik atau enggak."

Pembicaraan kami semakin serius.

Aku juga setuju dengan ucapannya. Sudah bertebaran berita di media sosial tentang hal itu. Si dia yang disalahkan, si ini yang ditangkap, si itu yang dilaporkan, si dia yang mendukung tapi menusuk, dan masih banyak lagi 'si' yang lainnya.

Di sana mengaku benar, di sini mengaku benar. Semua bisa tertutup dengan bau harum bernama agama. Aku bahkan sempat tak yakin mana yang benar dan mana yang salah. Aku bukan hanya berbicara tentang gubernur Jakarta, tapi semuanya termasuk media dan orang-orang.

Aku menyeruput ramen sebagai penetralisir otakku. Nikmatnya. Angin malam yang dingin saja bisa dikalahkan oleh semangkuk ramen pedas.

Aku terdiam saat itu. Aku berpikir, salahkah aku jika aku memiliki persepsi seperti itu?

Namu akhirnya aku sadar dan memutuskan untuk meyakini satu hal yang pasti. Jika Allah memberi jalan, maka jalani itu semua. Aku akan selalu percaya bahwa tak ada yang sia-sia di dunia ini. Pasti ada hikmah dibalik itu. Yakini saja, hikmah pasti tersembunyi di balik suatu kejadian. Entah itu negatif atau positif.

Akhirnya aku memutuskan untuk tidak membenarkan aku menyetujui ucapan sahabatku itu. Lebih baik aku mempercayai diriku dan Allah, menikmati hangatnya malam, bersatu dengan angin segar dan lelehan kuah kental ramen di mulutku.

Sekarang yang sedang gencar diberitakan ada Sari Roti dan Metro TV. Silahkan amati beritanya dengan baik, maka kita akan tahu mana yang salah dan mana yang benar.


Share:

Minggu, 04 Desember 2016

Hei Nak, Ingat Angka Sejarah 212





Bandung, 07:22 WIB

Selepas sholat subuh, aku kembali mengecek facebook. Karena dorongan ingin melihat masih adakah butiran kata dan foto tentang super damai 212?

Aku membuka timeline bapak yang sudah lebih dulu memposting kurang lebih 200 foto dan kenangan indah 212. 

Kubuka satu persatu. Bapak hanya memposting ulang foto-foto tersebut. Dalam foto, ada segelintir orang yang juga menceritakan kisah yang dialaminya langsung dalam aksi super damai 212.




Semua foto, semua cerita, kuteriaki dalam hati : Subhanallah!

Dimulai dari kisah semua pedagang yang mengratiskan makanan, tukang ketupat yang melayani para muslimin dengan senyuman, tukang roti dan buah yang tiba-tiba mendapat rezeki tak tertuga, mobil pemadam kebakaran yang disulap jadi mobil untuk tempat wudhu, sampai mereka yang punya keterbatasan fisik pun ikut hadir dalam super damai 212.







Bagaimana mungkin ada beberapa media yang tidak pro terhadap aksi tersebut, bagaimana mungkin ada orang yang tidak tergerak hatinya terhadap aksi tersebut, bagaimana mungkin ada orang islam yang nyinyir atas aksi tersebut? 

Begitu banyak pertanyaan yang kuajukan kepada mereka dan diriku sendiri.

Seandainya aku ikut berbaur bersama manusia pilihan Allah itu, seandainya aku juga merasakan langsung hujan yang Allah berikan, seandainya aku juga merasakan langsung indahnya kebersamaan orang-orang islam dari berbagai daerah. 

Kata 'andai' seperti iu terus saja terucap berulang kali saat aku terus melihat postingan foto dan cerita super damai 212.





Terima kasih karena sudah membuatku terus menangis selama 3 hari ini. Benar sekali jika ada orang yang bilang, rasakan dengan terjun langsung ke lapangan. Tapi sobat, aku yang hanya melihat melalui media sosial pun turut merasakan keindahan yang mereka rasakan.

Aku bertekad pada diriku sendiri, dengan adanya blog pribadi ini, dengan aku menulis tentang aksi super damai 212 ini, menjadikan sebuah peringatan untukku di masa depan.

Salah satu keinginan terbesarku, aku ingin menceritakan kisah ini pada anak dan cucuku. jika suatu saat nanti mereka terprovokasi dengan berita yang kurang baik, aku bisa menceritakan pada mereka dengan baik apa makna dari aksi 212 ini.

Aku akan berkata : Nak, walaupun mama cuma bisa ngeliat dari media sosial, tapi mama tau mana yang benar dan mana yang salah. Aksi super damai 212 ini adalah aksi super damai jilid 3 yang berhasil ngebuat mama nangis selama tiga hari. Ini aksi damai terharmonis yang pernah mama liat. Coba tanya kakekmu tentang aksi 212, beliau turut andil di dalamnya.

Keinginan terbesarku, aku ingin mereka terus mengingat sejarah ini hingga akhir. Kuharap memori yang kutulis ini bisa mengingatkanku akan aksi super damai 212.



Aku tidak terlalu peduli dengan teman-temanku atau saudara seimanku atau media yang kontra terhadap aksi ini. 

"Ngapain sih pake ada acara demo segala??!!" tanya temanku yang dengan asiknya makan kacang goreng sambil emosi.

Aku? Hanya diam, tersenyum, lalu memasukkan kacang goreng ke mulutku.






NB: Semua foto diambil dari facebook :) #thanksforpict
Share:

Jumat, 02 Desember 2016

Kata Sederhana Bernama Ciamis




Hai sobat, kita bertemu lagi. Semoga kalian yang sudi membaca tulisan ini dalam keadaan sehat. Di sini, Cibiru, Bandung, awan sedang mendung tanda hujan akan datang.

Kali ini aku akan menulis satu kata bernama Ciamis.

Sobat, tepatnya sekitar jam 10 pagi, setelah pulang dari tahfidz juz ama, aku selalu mengecek dan menunggu berita tentang demo 212.

Dari kemarin, aku tahu berita tentang shaf depan yang sengaja dikosongkan untuk menyambut datangnya warga Ciamis yang rela berjalan kaki. Kemarin pun aku melihat salah satu video santri Ciamis yang sedang siaran langsung melalui facebook-nya. Dia bilang, dia dan rombongan tidak bisa melanjutkan perjalanan karena bus yang disewa tiba-tiba membatalkan secara sepihak.

Bukan hanya warga Ciamis, bus dari semua daerah juga rata-rata diputuskan secara sepihak unuk tidak memberangkatkan mujahid ke Jakarta. Aku selalu ingin berpikir positif, namun nyatanya semua pikiranku hanya kembali pada permainan politik.

Aku selalu mencari, apakah ada video santri-santri Ciamis ketika sampai di Jakarta?

Kemarin aku sempat mencari di beberapa media sosial, namun nihil. Atau mungkin aku yanh tidak begitu teliti mencarinya.

Mari kulanjutkan ceritaku hari ini.

Setelah buka facebook, dengan sendirinya, di ututan paling atas aku menemukan video berjudul "Detik-detik Warga Ciamis Datang." Kalau tidak salah itu judulnya.

Aku membukanya karena memang ingin sekali aku melihat bagaimana wajah mereka dan bagaimana sambutan masyarakat terhadap mereka. Mengingat, kejadian sebelumnya warga Ciamis yang berjalan kaki benar-benar ditunggu oleh warga, termasuk Bandung.

Tak terasa air mataku meleleh. Sedikit lalu menjadi banyak. Kulihat semua orang memberi mereka jalan. Seperti lautan terbelah dua, semua mujahid 212 menyingkir, memberi mereka, mujahid Ciamis itu jalan sambil menyuarakan takbir dengan lantang.

Semua media geger memberitakan mujahid Ciamis yang benar-benar melakukan perjalanan mereka. Bahkan berita mereka sudah masuk ke sebagian media internasional.

Sambil berjalan, mujahid Ciamis itu ada yang menangis sambil membawa bendera merah putih, terus berteriak takbir, ada juga yang wajahnya sudah terlihat lelah. Namun lelah mereka terbayar dengan sambutan luar biasa dari mujahid lain yang sudah menunggu mereka. Pelukan dan ciuman pipi pun diberikan mujahid 212 kepada mujahid Ciamis.

Aku yang di sini, hanya bisa menangis sambil tersenyum. Kata sederhana bernama Ciamis membuat bulu kudukku merinding. Mereka membangun semangat mujahid lain untuk terus mendukung agamanya walau ada halangan dan rintangan yang mereka dapat.

Lihat betapa mereka, mujahid Ciamis sangat ditunggu kedatangannya.

Salamku dari Bandung.
Share:

Rabu, 30 November 2016

Air Mataku Untuk Mujahid 212



Hai sobat, aku ingin bercerita tentang kasus penistaan agama. Tidak tidak, mungkin lebih tepatnya aku akan bercerita tentang aku yang menangis hatinya ketika melihat warga Ciamis berjalan kaki menuju Jakarta. Kemarin aku sempat bertanya pada temanku.

“Nu, kamu setuju gak kalau ada demo gitu?”

Ini tentang demo penistaan agama.

“Ga setuju.”

“Kenapa?”

“Ya gak tau.”

“Berarti kontra ya?” tanyaku berusaha mendorong agar ia mengemukakan alasannya.

“Eh, ga juga sih. Ah gimana ya, teuing lah.”

Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya. Entah dia takut jika aku bilang bahwa ia kontra terhadap islam, entah dia memang memiliki jawaban pro namun masih juga takut untuk mengemukakan hal itu.

"Pengumuman, peserta demo ddari Ciamis sudah masuk ke daerah Cileunyi.”

Itu suara pengumuman dari masjid Kifa, samping kampusku. Sungguh sobat, pengumuman itu membuatku merinding seketika. Untuk kalian yang selalu bertanya, apakah mereka tetap melaksanakan sholat? Ya!! Mereka akan membela agama, mereka juga akan ttap melaksanakan perintah Allah untuk sholat dan meminta ridha-Nya.

Hari ini seperti biasa, aku melihat facebook-ku untuk memantau sudah sampai mana para mujahid Ciamis itu. Sekali lagi bulu kudukku berdiri, hatiku bergetar hebat saat tahu bagaimana keadaan mereka sekarang.

Dalam berita, aku melihat ada beberapa mujahid yang pingsan, aku juga melihat berita bahwa ada salah satu anak yang kakinya sudah berdarah karena terlalu lama berjalan. Ingat sobat, aku yakin mereka tidak ingin menunjukkan sebuah kata bernama ‘ria’ dalam diri mereka.

Aku, mahasiswa tingkat 4 pun tidak memiliki keberanian lebih seperti mereka. Aku melihat salah satu foto yang aku tahu persis di mana foto itu diambil. Bumi Panyawangan, Bandung. Di dalam foto itu tergambar jelas banyaknya makanan yang disediakan, betapa semua orang menunggu rombongan mujahid Ciamis dengan tatapan menunggu.

Entah dari kapan mereka menunggu para mujahid menuju Bandung itu. Tapi yang kutahu, dengan banyaknya bungkusan makanan yang mereka siapkan, banyaknya air yang mereka sediakan, mereka sudah mempersiapkan itu dari malam-malam sebelumnya.


Ini hanya sepenggal cerita tentang aku yang terus menangis melihat berita itu. Bukan sobat, aku bukan menangis sedih. Aku menangis bahagia, aku menangis bangga, aku menangis haru.

Saat sedang mengusap layar tab sampai bawah, ada status facebook yang membuatku mengangguk mantap. Dalam status itu menuliskan, jika hati anda tidak bergetar, maka hati anda sudah tertutup rapat oleh kehitaman.

Sobat, aku bukan ingin mengajak kalian untuk pro terhadap aksi demo 212 ini. Aku tidak ingin memaksakan kehendak kalian untuk suatu hal yang sekiranya tidak menarik di mata kalian. Aku hanya ingin menulis bahwa tak ada yang tidak bisa dilakukan demi membela agamanya.

Sudah berapa kali aku mengeluarkan tetesan air mata hari ini? Sudah berapa kali hatiku bergetar melihat berita semangat ini? Sudah berapa kali pula aku membaca hal-hal menyakitkan tentang aksi demo 212 ini?

Tadi pagi, sekitar jam 10, mama mengirimku WA. Isinya berupa cerita-cerita tentang mereka-mereka yang benar-benar melihat mujahid Ciamis itu. Aku memabacanya penuh senyuman. Ada beberapa di antara mereka yang bela-bela membeli sandal untuk para mujahid, ada juga mereka yang sudah menyiapkan beberapa kopi untuk para mujahid yang terkena hujan.

Sobat, ada satu orang yang penasaran dengan para mujahid Ciamis itu. Berdasarkan kisah nyata, dia mendekat pada salah satu anak dan bertanya, apa tujuan mereka melakukan hal ini?

Mereka menjawab, “Ini murni dari hamba Allah, bukan dari partai politik yang dituduhkan si penista! Kami tidak bisa ikut long march. Tapi, kami ingin mendukung mereka. Tukang tahu, menyumbang tahu. Tukang emplod, tukang tempe, tukang kerupuk, tukang roti, tukang bala-bala. Bapak lihat sendiri, ini di depan. Semua sumbangan sukarela. Ikhlas, gak ada yang membayar!”

Sobat, merindingkah kalian mendengar jawaban mereka?

Mari kita kembali ke facebook, baru tadi aku ingi menyuap mie ramen ke mulut, namun kuurungkan itu karena melihat satu kisah yang mengharukan. Judul artikel itu, seorang bapak yang menangis ditinggal anaknya berjuang. Ingat sonat, beliau bukan menangis sedih. Dalam cerita beliau mengatakan bahwa beliau akan terus mendoakan anaknya.

“Lihatlah terus ke depan nak, jangan lihat ke belakang. Bapak akan senantiasa mendoakanmu dari sini,” ungkapnya dalam artikel tersebut.

Hai sobat, aku selalu berjarap demo ini akan kembali berjalan dengan lancar. Jangan pedulikan mereka yang kontra. Cukup niatkan hati kalian demi membela agama kalian. Jujur, aku malu pada diriku sendiri. Aku malu. Aku benar-benar malu.

Satu lagi sobat, rombongan Aa Gym sudah bergabung dengan rombongan Ciamis, Garut, dan Tasik untuk berjalan kaki menuju Jakarta. Dan untuk rombongan mujahid saya, Persis (Persatuan Islam) Bandung akan menuju Jakarta nanti malam, pukul 23.00 WIB.


Doaku menyertai kalian.

Share:

Kamis, 17 November 2016

Penggemar Masakan Mama




Aku anak perempuan asal Tangerang yang tak kenal lelah untuk menuntut ilmu di kota orang. Setelah enam tahun aku hijrah ke Tasikmalaya untuk menimba ilmu, sekarang sudah hampir empat tahun pula aku hidup di Bandung, bukan kota kelahiranku.

Aku perempuan Tangerang yang hidup di kota orang. Bahkan aku tak mengenal kotaku sendiri. Tapi bukan itu masalahnya. Selagi aku hidup merantau itu, aku rindu masakan mama.

Aku selalu bilang, “Hani mau makan, asal dimasakin mama. Masakan mama enak mulu soalnya.”

Ya, akhir-akhir ini aku selalu berbicara seperti itu pada mama. Aku yang hidup di kota orang, kini tahu bagaimana rasanya rindu akan masakan mama. Mama selalu bisa memasak apapun. Bahkan air liurku jatuh saat mama meracik indomie soto kesukannya yang ditabur beberapa sayuran, juga rasanya yang beda dengan buatanku. Kalau mama makan, aku pun turut mencicipinya.

“Rasa indomie mama beda.” Itu yang kukatakan.

Kemampuan memasak mama juga diacungi jempol di komplek rumahku. Dimulai dari masakan darat sampai masakan laut, mama bisa.

Resep baru yang mama dapat, langsung diterapkan. Masakan sesederhana apapun akan terasa nikmat jika mama yang memasaknya. Tak heran, ketika aku pulang dari Bandung, aku menjadi gendut layaknya ikan paus.

Pernah suatu hari bapak ngidam ingin makan pare yang isinya gumpalan kelapa . Aku lupa nama masakannya. Seketika itu juga, mama yang baru mendengar makanan pare itu, membuatnya dengan suka hati. Semata-mata hanya untuk bapak. Mama pasti bilang, bapak mau makan itu, bapak mau makan ini, bapak pasti suka makan itu, bapak suka makan ini. Apapun yang bapak suka, pasti akan mamah pasti akan masak dengan suka hati.

Mamah adalah segalanya dalam hal dapur. Bukan aku tidak ingin memasak, hanya saja masakan mama selalu berhasil membuat perutku lapar. Mencium aromanya saja sudah membuatku meneteskan air liur. Mama senang makanan pedas, aku pun begitu. Mama senang kalau anak-anaknya makan dengan lahap masakannya. Mama akan menaruh beberapa piring dan masakannyaa di ruang tamu, lalu makan bersama kami, anak-anaknya dan bapak untuk makan bersama.

“Teh, makan nih ntar keburu abis.”

“De, makan.”

“Ghilman, makan dulu. Dari pagi belum makan.”

“Teh, ambilin kecap buat bapak.”

“Apa rasanya? Keasinan ga? Terlalu manis ga?”

Itu beberapa kata yang selalu mamah keluarkan segiap hari.

Aku, perempuan rantauan Bandung yang pulang hanya karena rindu masakan mama.

“Hani mau ini dong mah, tapi mamah yang masak.”

“Hani mau makan itu mah, tapi mamah yang masak.”

Aku, penggemar masakan mama.




Share:

Selasa, 01 November 2016

Saksi Hidup Simatupang



Ilustrasi : Google

Kulihat sekitar rumahku, tak ada lagi seruan lantang laki-laki bersepeda. Lingkunganku tanpanya, seperti gentong kosong.

Sunyi, sepi. Tahun 2016 membuat lingkunganku berubah seketika. Kulihat anak kecil dengan santainya membawa ponsel canggih yang bahkan lebih modern dari milikku. Seberapa mudakah dia dariku? Kurasa dulu saat aku seumuran dengannya aku masih memiliki tangan yang membawa majalah anak-anak.

Telingaku sungguh kosong saat aku tak lagi melihat sosoknya. Sosok tinggi menawan yang selalu tersenyum padaku, bersuara lantang menawarkan sesuatu yang bapakku inginkan. Bukan hanya bapak, namun semua tetanggaku pun menunggu kehadirannya.

Oh Tuhan, kemana dia pergi? Aku rindu teriakannya, aku rindu suara lantangnya, aku pun rindu kertas tebal berwarna abu-abu yang ia lemparkan untuk pelanggan setianya.

Aku ingin mencari sosok itu lagi. Kukeluarkan motorku sebagai alat bantuku untuk mencarinya. Dia yang kukenal dengan nama Simatupang. Bukankah namanya mirip dengan tokoh militer di Indonesia yang sekarang menjadi nama jalan di Jakarta Selatan? Sosok Simatupang mampu mengenalkanku pada dunia berita melalui koran dan majalah yang selalu ia bawa sebagai mata pencahariannya.

"Koran ya koran!!"

Teriakan lantang membuat aku yang dulu masih berusia 7 tahun berlari keluar rumah. Saat itu Simatupang sedang beristirahat di depan rumahku dengan topi yang ia kibaskan untuk menghilangkan keringat di leher dan dahinya.

Melihat perawakannya yang tinggi dengan kulit sedikit coklat, aku mengurungkan niatku untuk menghampirinya. Namun pergerakanku terlihat olehnya.

Kulihat Simatupang tersenyum lalu mengambil satu majalah yang ada di stang sepeda miliknya.

"Mau baca majalah?"

Simatupang menyodorkan majalah itu padaku.Karena majalah itu berwarna-warni, kuambil saja tanpa banyak bicara. Kubuka lalu kulihat isinya yang banyak sekali gambar. Tak berapa lama, bapakku keluar dari rumah karena sadar bahwa aku tidak ada di rumah.

"Koran pak?" tanya Simatupang saat itu.

"Wah, lagi ada berita apa nih  yang rame?" tanya bapak sambil mengambil koran dengan asal.

Aku masih ingat wajah sumringah Simatupang saat bapak mengambil dan membayar koran yang ia beli. Bukan hanya bapak, tetanggaku yang notabene bapak-bapak komplek juga keluar rumah saat melihat ada Simatupang di sana. Aku masih sibuk membaca majalahku.

Saat aku remaja, aku mulai berlangganan koran pada Simatupang, bukan lagi majalah anak-anak. Kami sempat duduk berdua di depan rumahku sambil sesekali Simatupang berteriak, 'Koran ya koran!'

Bahkan terkadang pembicaraan kami terganggu karena banyak pelanggan Simatupang yang datang untuk membeli koran. Gaya santai dengan suara berlogat Medan yang kental, Simatupang memulai ceritanya.

Gayanya yang terlihat wibawa membuatku turut memperhatikan alur ceritanya. Simatupang mulai bekerja menjadi penjual koran tahun 1987. Saat itu ia tidak berjualan di sekiatar rumahku dan bukan penjual koran keliling. Dia hanya penjual koran eceran di Cengkareng untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang waktu itu masih muda.

"Bapak itu mulai jualan koran waktu masih bujangan Mbak," ujar Simatupang memukul pelan dadanya.

Bangga. Kulihat wajah Simatupang seketika murung, juga matanya yang kian sendu.

"Tapi seiring berjalannya waktu, masyarakat di Cengkareng sana mulai sedikit yang membeli koran. Itu alasannya bapak pindah ke sini," lanjut Simatupang sambil tersenyum.

Ya, tahun 2003 Simatupang memutuskan untuk berpindah tempat demi kelangsungan hidupnya. Kucermati alur ceritanya. Ia sangat menyayangkan masyarakat yang sudah tidak lagi peduli dengan koran. Sejak Simatupang pindah jualan koran ke dekat rumahku, penghasilannya cukup untuk membeli kebutuhan sehari-hari keluarganya.

"Berarti koran masih laku kan pak di sini," candaku. Simatupang tertawa sambil kembali mengipas wajah dengan topinya.

Sungguh rindu aku akan sosoknya yang ceria dan mudah bergaul dengn masyarakat komplekku. Sesekali Simatupang bahkan berbicara bak seorang wartawan yang tahu segala informasi dengan tetangga-tetanggaku.

Saat aku bertanya isu apa yang sedang berkembang di Indonesia, Simatupang pasti akan menjawab dengan yakin berita terkini beserta opini-opini untuk mengkritisi berita tersebut. Aku kagum akan sosoknya.

Terpaan angin berhembus ke dasar wajahku. Motor yang kunaiki untuk mencari sosok yang kurindukan itu sudah berjalan entah berapa kilo meter. Kubelokkan motorku ke kiri, kutelusuri jalanan sempit, sampai aku menemukan jalan besar yang jarang kulewati.

Di sisi jalan sana, kulihat ada warung kecil berwarna biru. Itu dia benda yang kucari sejak tadi. Benda yang sudah tak lagi terkenal di komplekku, benda yang sudah tak lagi terlihat di komplekku, dan benda yang sudah tak lagi hadir di komplekku. Ku arahkan motorku ke warung tersebut.

"Siang pak, saya mau beli koran. Pemiliknya ke mana ya?" tanyaku pada seorang laki-laki botak yang sedang duduk di bangku samping warung koran.

"Mbak Dina ya?" tanya laki-laki botak itu.
Kunaikkan alisku karena bingung entah dari mana dia tahu namaku.

"Saya anaknya Bapak Simatupang. Pasti Mbak kenal sama beliau."

Aku terhenyak kaget saat mendengar nama sosok yang kurindukan. Penjual koran yang terkenal pada masanya. Penjual koran yang selalu dicari pada masanya.

Tanpa kata, laki-laki botak itu menyuruhku untuk mengikutinya ke suatu tempat. Di sana, terlihat sosok Simatupang yang sedang mengepak koran lama yang ia ikat dengan tali rapia. Punggung tegapnya saja masih sama seperti dulu walaupun sudah kulihat uban di sekitar rambutnya.

Laki-laki botak itu menepuk pundakku lalu mendorongku pelan unuk maju. Kurasa dia ingin aku menghampiri Simatupang yang masih asik mengepak koran.

Kulangkahkan kakiku untuk mendekatinya. Oh, lihatlah sosok yang kurindukan. Lihatlah sosok yang memiliki suara lantang yang selalu menawarkan koran setiap pagi di komplekku. Aku berdiri di sampingnya, tapi Simatupang masih belum menyadari kehadiranku.

Aku mengerutkan dahi saat Simatupang benar-benar tidak menyadari kehadiranku walaupun aku sudah berdiri tepat di hadapannya. Saat itu juga aku menyadari, kedua tangan Simatupang meraba-raba tali rapia untuk mengepak koran yang sudah ia susun dengan rapih. Koran lusuh yang mungkin masih terlihat indah di hatinya.

"Pak Simatupang."

Kuputuskan untuk menyamakan tinggiku dengan cara berjongkok di hadapannya. Simatupang menaikkan kepalanya seolah dapat melihat bahwa ada seorang perempuan yang memanggil namanya. Kupegang kedua pergelangan tangannya dengan erat. Ingin rasanya aku menangis saat aku melihat sepedanya yang dulu ia pakai untuk berjualan koran masih bertengger manis di samping rumahnya.

"Maaf, siapa ya?" tanya Simatupang dengan nada sedikit serak karena umurnya yang kian bertambah.

"Dina. Dina yang setiap hari beli majalah dan koran dari bapak." Air mataku lolos. Simatupang  tersenyum lalu meraba wajahku dengan susah payah.

"Saya nyari-nyari bapak, tapi enggak pernah ketemu. Ternyata bapak di sini," ujarku menghapus kebisuan di antara kami.

Simatupang tersenyum, meraba tanah untuk mengambil tongkatnya lalu mengajakku berdiri. Ia membawaku menuju rumahnya dan mempersilahkanku untuk duduk di kursi kecil depan rumah Simatupang.

"Kamu mungkin sudah tau koran semakin sedikit peminatnya di komplekmu Din." Kata-kata Simatupang sukses membuat hatiku sakit. Aku bisa merasakan bahwa mata pencaharian Simatupang mungkin kembali merosot pada saat itu. Saat di mana penjual koran tak lagi dicari.

"Lalu kenapa bapak masih berjualan koran?" tanyaku sedikit penasaran.

"Walaupun koran sudah sedikit peminatnya dan sedikit sekali yang berlangganan koran, bapak akan tetap berjualan koran hingga akhir hayat bapak," jawab Simatupang dengan yakin.

Ia mengambil tumpukan koran yang memang bertumpuk di samping kursi yang ia duduki, lalu menaruhnya di atas paha.

"Kenapa?" tanyaku sekali lagi.

"Karena koran adalah saksi bisu perjalanan kehidupan bapak. Dari koran, bapak bisa menyekolahkan anak bapak. Dari koran juga, bapak bisa menghidupi keluarga bapak."

Simatupang mengelus koran yang ada dipangkuannya. Koran yang warnanya sudah memudar itu membuatku ingat akan hadirnya tukang koran yang bertebaran di mana-mana pada masanya. Aku tersenyum mendengar jawaban Simatupang. Kuraih satu koran yang kuyakini ada jiwaku di sana.

"Bapak enggak menyalahkan dunia yang mulai canggih ini. Hanya saja bapak harap, koran masih diterima oleh masyarakat. Hanya itu," ucap Simatupang.

Aku tersenyum sambil melihat koran yang tak asing lagi di mataku. Ya, itulah koran pertama yang kubeli dari Simatupang. Sekarang aku yakin, Simatupang sangat berterima kasih pada koran yang sudah menjadikan dirinya tetap hidup hingga sekarang.

"Kenapa anak laki-laki bapak tau nama saya pak?" tanyaku.

"Karena saya sering menceritakan Mbak Dina sebagai pelanggan pertama saya sama dia."

Perbincangan kami diakhiri dengan cerita masa lalu dan masa kini yang mengharuskan koran untuk berbagi ranah dengan gadget yang kian pesat, juga penjual koran yang mulai sulit ditemukan.

"Namun yakinlah bahwa koran tidak akan pernah mati." Ucapan Simatupang masih saja terngiang di telinga dan hatiku sampai saat ini

Share:

Rabu, 27 Juli 2016

Aku Masuk Koran Jatinangor Ekspres

 

Sekitar pukul 10.47, ponselku bunyi tanda ada pesan yang masuk di instagramku. Saat kulihat, pesan itu datang dari Imas, temanku yang sedang PKL di Jatinangor Ekspres. Kubuka gambar yang ia kirim. Itu sedikit buram hingga aku menyuruhnya untuk mengirim ulang via Line.

Well, dua foto yang ia kirim ternyata hasil dari kegiatan wawancara Imas padaku kemarin siang. Awalnya dia menyuruhku untuk menulis tips dengan judul ; Cara Agar Terlihat Kurus Saat Difoto. Namun aku tidak menyanggupi itu, karena aku juga tidak tahu bagaimana caranya terlihat kurus saat difoto.

Imas mewawancaraiku melalui pesan di instagram. Ya, itu karena kami sedang berada di daerah yang berbeda. Aku melakukan PkL di Tangerang, sedangkan dia di kota lain. Setelah aku menolak dengan baik untuk menulis tips, dengan iseng aku mengajukan sesuatu yang memang ingin kulakukan.

"Kenapa gak wawancara tentang hobi gambar aku aja?"

Aku mengetik sambil cekikikan sendiri di kamar. Senang rasanya jika keisengan ini membawa berkah. Well, Allah mengabulkan hal itu.

"Oh ya udah. Sok, dari kapan Hani suka gambar?"

Waw. Ini menakjubkan. Setelah kupikir-pikir, senang rasanya jika aku punya teman seorang jurnalis yang mengangkat hobiku sebagai berita di rubrik lifeastyle. Senang sekali jika tugas PKL bisa mengangkat namaku ke dalam sebuah media. Bukan hanya nama, namun juga cerita.

Aku membalas semua pertanyaannya dengan cerita panjang. Tidak kah jariku pegal mengetik panjang? Tidak selama itu yang ingin aku ceritakan pada khalayak. Kuceritakan bahwa aku selalu gagal dalam melakukan bisnis yang kujalani, harapanku kedepannya, dan apa yang kuinginkan saat ini. Tentu saja semuanya berkaitan dengan menggambar, salah satu hobiku yang paling menyenangkan.

"Kirim tiga foto Hani yang nunjukin hobi Hani yah."

"Gak punya Mas. Paling juga yang di instagram tinggal aku crop aja."

"Ya udah gak apa-apa."

Big thank for Imas Maesyaroh yang lagi PKL di Jatinangor Ekspres!!

Itulah kehebatan jika kita memiliki teman seorang wartawan atau sednag PKl di media :)
Share:

Kamis, 14 Juli 2016

Perjalananku Untuk Pulau Oar

Liburan tiga bulan kali ini adalah liburan yang membosankan bagiku. Mungkin selain aku harus menjalankan job training di salah satu media online lokal, aku juga harus berdiam diri di rumah untuk waktu yang lama. Tapi tidak untuk cerita kali ini. Well, sebenarnya ini sudah dua minggu yang lalu. Hei, karena aku belum memposting perjalananku, mari kuceritakan.

Malam itu, tanggal 29 Juni aku dan ketiga temanku berencana liburan ke Bandung untuk melepas penat. Aku yang saat itu juga masih job training memutuskan untuk ikut berlibur. Tenang saja, kami memutuskan untuk pergi sabtu malam. Sebenarnya sabtu minggu pun aku tidak libur. Setiap aku bertanya pada rekan kerjaku : "Kak, sabtu minggu ada libur gak sih?"

Mereka akan menjawab, "Wartawan mah ga ada liburnya Han."

Oke, fine.

Kulupakan sejenak pekerjaanku dalam mencari berita, lalu melanjutkan perbincangan kami.

"Gue ga tau daerah Pangalengan," ujarku sambil memasukkan pisang goreng ke mulut.

Karena lingkunganku memakai bahasa gue-loe, maka dalam percakapan ceritaku pun ikut seperti itu. Bahkan aku pun berbicara dengan nada sedikit logat betawi di rumah. Temanku pernah berkata, "Han, logat kamu tuh kaya lebih ke Betawi. Padahal Tangerang tuh bukannya Banten ya?"

Ya. Tangerang itu masuk ke Banten yang artinya orang akan mengira aku bisa berbahasa sunda. Namun nyatanya di komplekku orang sunda hanya sedikit. Samping kanan rumahku, mereka keluarga Palembang Betawi. Sedangkan sebelah kiri, mereka keluarga Jawa. Dan sejak kecil, aku memang sudah terbiasa dengan percakapan gue-loe. Jadi tidak heran jika aku memanggil seseorang yang umurnya lebih tua dariku setahun atau dua tahun,  hanya memanggil namanya saja tanpa embel-embel Kakak atau Abang di depannya.

Sekian informasi tentang cara bicaraku. Mari kulanjutkan.

"Gimana sih lu Kunil, kuliah di Bandung tapi masih ga tau jalan." Gaga, teman laki-lakiku. Kunil, itu nama panggilanku di rumah.

"Ya lu kira gue harus muterin Bandung sampe ke ujungnya gitu?" Aku masih segiap dengan pisang gorengku.

"Yaelah. Gue ga mau ya kalo nantinya kita jadi pergi, tapi nyampe sana masih bingung juga mau ke mana nantinya." Gaga memakan martabak panas yang baru saja ia beli.

"Kita ke Pulau Oar aja yu. Gila ini bagus banget pulaunya." Emput berteriak sambil menunjukkan foto Pulau Oar pada kami.

"Sugep ga tuh pulau? Ntar nyampe sana kaga sugep lagi!"

Sugep : Bagus atau enak. Bahasa Gaga yang terkadang aku dan Emput harus bertanya apa maksud dari perkataannya.

"Sugep lah liat aja nih di instagram," ujar Laras.

Well, begitulah awal perbincangan kami yang serba mendadak. Malam itu kami berunding, Minggu pagi, sekitar jam 6 pagi kami tancap gas ke Pulau Oar yang ada di daerah Sumur, Pandeglang. Trek jalan ke Pulau Oar naik turun dan sedikit menyempi, juga sedikitnya mobil motor yang melaju ke sana. Jadi tetap waspada.

Lima jam sudah kami duduk di dalam mobil. Karena Laras memutuskan untuk tidak jadi ikut, akhirnya Gaga mengajak Yovi dan Jadun (sapaan akrab mereka) untuk pergi. Sebelumnya, aku membawa uang 400rb utuk trip ini.




Sampai di sana, kami diharuskan memesan sampan sebagai transportasi penyeberangan di sana. Selain sampan, ada boat juga jika kalian ingin perjalanan lebih cepat. Naik sampan ke Pulau Oar hanya merogoh kocek 250rb. Menurutku itu cukup murah, apalagi jika kalian pergi bersama keluarga atau teman-teman kalian.

Penduduknya ramah, air laut yang masih biru jernih, aroma perkampungan yang masih kental juga menambahkan kesan indah dalam liburanku kali ini.

Oh iya, mau selama apapun kalian di sana, harga tetap 250rb bolak-balik. Murah. Tapi jangan salah, jika kalian ingin duduk-duduk untuk beristirahat di saung Pulau Oar, kalian harus mengeluarkan uang lagi sebesar 100rb. Di sana juga tidak ada penginapan ataupun pedagang selain pedabang kepalap muda.

"Ya udahlah, daripada bayar mending kita di sini aje."

Kami memutuskan untuk menaruh barang di bebatuan.

Karang, ombak, air jernih, pasir putih. Pesona yang ditawarkan Pulau Oar sangat menakjubkan. Dan kalian tau? Di Pulau Oar saat itu hanya ada kami berlima juga mamang sampan dua orang. Ya mungkin lagi bulan ramadhan, siapa juga yang ingin ke Pulau Oar di siang bolong?






Share:

Selasa, 14 Juni 2016

Cerpenku Dimuat di Pikiran Rakyat

Selamat siang, lama tak jumpa.

Untuk hari ini, aku akan menceritakan kisah tentang Cerpenku yang dimuat di koran Pikiran Rakyat edisi 12 Juni 2016.

Waktu itu bertepatan tanggal 12 Juni 2016. Aku sedang menyetrika pakaianku, kalau tidak salah sekitar pukul 10.30 WIB. Kagetnya aku, tiba-tiba ada salah satu teman kampusku, walau beda kelas, follow instagramku.

Well, itu cukup aneh karena aku memang tidak dekat dengannya, aku tidak pernah bertegur sapa dengannya. Kurasa cukup jadi teman satu angkatan yang tidak pernah saling berbicara itu sesuatu yang aneh jika dia tiba-tiba mem-follow akun instagramku.

Klingklung, satu suara membuktikan bahwa itu tanda ada message masuk di instagram.

"Ini Hani kelas B bukan?" tanya temanku itu.

"Iya, kenapa Zar?"

Hei, walaupun aku tidak dekat dengannya, aku masih punya hati dengan mengetahui nama teman angkatanku sendiri.

"Kamu orang Bandung bukan?" tanyanya lagi.

"Bukan. Aku orang Tangerang," jawabku dalam pesan singkat di instagram.

"Oh, berarti ini yang kamu ya?"

Dia mengirim foto koran Pikiran Rakyat edisi hari itu yang terpampang Cerpenku di sana. Cerpen berjudul Dunia Hitam Putih, oleh : Hani Widiani.

Aku langsung menjawabnya dengan kata iya, lalu menghentikan aktifitasku menyetrika pakaianku. Aku langsung duduk di kursi dan membalas pesannya.

Kalau tidak salah, aku mengirim Cerpen itu ke Pikiran Rakyat sekitar empat atau tiga bulan lalu. Kupikir Cerpenku tidak akan dimuat karena yang kutahu batas dimuatnya suatu karya di koran itu hanya dua bulan. Jika tidak ada, maka karya itu tidak diterima oleh redakasi. Hei, namun nyatanya setelah empat bulan lamanya, Cerpenku dimuat juga.

Empat bulan lalu aku diberi tugas oleh dosen mata kuliah Menulis Kreatifku untuk membuat cerita fiksi.  Aku akui, aku sangat menyukai mata kuliah tersebut walau hanya 0 SKS saja Ya, bisa kubilang di kelas itulah aku bisa menulis Cerpen semauku, tidak lagi menulis berita. Toh untuk UAS saja dosen itu menyuruh kami untuk membuat karya tulis apapun, kecuali puisi.

Malamnya aku berpikir, apa yang harus kuceritakan?

Memang aneh, tapi saat aku menulis sesuatu, aku akan memulainya dengan pembukaan apapun yang ada di otakku. Untuk jalan cerita dan akhir cerita, itu urusan nanti.

Mulailah aku mengetik sesuatu yang ada di otakku. Tanah berguncang, kesopanan, gadget, korupsi, dunia khayalan. Just it.

Awalnya selain buat tugas, aku berencana iseng untuk mengirim Cerpen itu ke Tempo. Kupikir Cerpenku pasti akan diterima oleh Tempo. Itu pasti. Namun nyatanya sampai sebulan  Cerpen itu tidak pernah dimuat di koran Tempo.

Saat itu temanku bilang,"Jangan berharap deh bakal diterbitin di Tempo kalau  Cerpen kamu aja belum bisa naik ke Pikiran Rakyat.

Well, sebenarnya kata-kata itu membuatku pesimis. Tapi dari sana aku kembali mencoba mengirim Cerpenku ke Pikiran Rakyat. Aku hanya ingin memberitahu pembaca tentang keresahanku menghadapi kehidupan di jaman ini.

Cerpen Dunia Hitam Putih itu menceritakan tentang seorang anak perempuan yang ada di zona lain, zona berwarna hitam putih. Zona yang berbeda dari zona kehidupan nyatanya. Di sana ia melihat banyak sekali orang bermasker yang sudah tidak lagi bertegur sapa dan tidak peduli, nenek renta yang sengaja diinjak kakinya karena menghalangi jalannya saat seseorang bermain gadget, juga para pemimpin yang sudah mengabaikan kehidupan malang rakyatnya.

Jadi intinya, zona itu adalah zona keresahan perempuan tersebut akan kehidupannya di masa yang akan datang. Hanya saja aku menggunakan bahasa kiasan untuk menggambarkan kehidupan di zona hitam putih itu.

Ya, begitu mungkin cerita singkat dari Cerpen Dunia hitam Putih.

Mari kulanjutkan.

Hampir dua bulan lebih aku menunggu dan membeli koran Pikiran Rakyat, tak ada satu pun edisi yang memuat Cerpenku. Dari sana aku mulai menyerah dan tidak lagi menunggu hasilnya. Bahkan selama berbulan-bulan aku sudah lupa kalau aku mengirim Cerpen ke koran PR.

Kembali ke cerita awal.

Tidak berpikir lama, aku langsung mengeluarkan motor dan helmku untuk pergi berburu koran. Aku sedikit kecewa karena di sekitar perumahanku, Binong, tak ada lagi yang menjual koran. Jadi aku harus pergi ke Harapan Kita (Harkit) untuk membeli koran. Perjalanannya sekitar sejam lebih bolak- balik. Miris? Ya.

"Padahal udah hampir tiga bulan lebih Hani ngirim Cerpen ini ke PR," ucapku pada mama saat aku sudah berhasil menggenggam koran edisi 12 Juni 2016.

"Mana sini mama mau baca."

Senang rasanya saat kedua orang tuaku membaca hasil karyaku.  Kalau bapak, berhubung ia baru pulang dari Tasikmalaya sekitar jam delapan malam, jadi bapak baru bisa membacanya di malam hari.

"Nanti bapak laminating."

Aku tersenyum mendengar ucapannya.

Hei, karya sekecil apapun, jika itu membuat hatimu dan orang tuamu bahagia, itu tak masalah.


Share:

Senin, 30 Mei 2016

Untukku, Si Pencari Tempat Magang #3

Ada satu cerita yang ingin kusampaikan.

Kejadian ini baru saja terjadi. Tadi, sehabis maghrib aku mengirim pesan ke Majalah Kawanku melalui inbox message mereka mengenai apakah hari ini pengumuman seleksi magang di Kawanku sudah bisa diumumkan?

Ya , kurang lebih seperti itu.

Kau tahu, aku menunggu semua itu hingga hari senin ini. Aku menunggu penantian magang itu sampai hari ini. Dan kuharap pengumuman itu sudah bisa diumumkan walaupun aku tidak diterima di sana.

Aku menulis di cerita sebelumnya bahwa aku akan mulai magang di Bantenhits tepat tanggal 6 Juni nanti jika aku tidak diterima di manapun.

Sambil menunggu jawaban dari Majalah Kawanku, kusempatkan diri memainkan semua aplikasi di ponsel adikku, kusempatkan diri mendengarkan lagu Haris J. yang menenangkan di youtube, kusempatkan juga diriku mengontrol jantungku agar tidak berdetak terlalu cepat atas jawaban  yang akan mereka berikan padaku nantinya.

Aku kembali membuka facebookku. Ah, ada satu message. Pasti dari Majalah Kawanku, ucapku dalam hati dengan keyakinan dan kepercayaan diri yang setengah tinggi.

Namun air wajahku berubah keruh. Tidak, apa yang harus kulakukan dengan ini? Bisakah waktu berjalan lambat? Bisakah aku memundurkan tanggal magangku di Bantenhits?

Semua pertanyaan itu yang muncul dalam otakku setelah aku membaca balasan mereka.

Mereka bilang, tulisanku sudah masuk ke ruang HRD dan sedang dipertimbangkan. Kalau tulisanku cocok dengan kriteria yang mereka cari, aku akan dihubungi kembali minggu depan. Terakhir, mereka meminta maaf padaku karena aku harus menunggu lagi untuk hasil pengumumannya.

Kupikir, bagaimana mungkin aku menunggu pengumuman mereka sedangkan aku sudah mulai magang di Bantenhits minggu depan? Kenapa harus minggu depan? Kenapa tidak besok saja jika tulisanku sudah masuk ke bagian HRD?

Hei sobat, kekesalanku hari ini berdampak buruk pada diriku dan pikiranku. Aku harus memutar otak, bagaimana caranya agar aku bisa menunggu hal yang kunantikan sejak lama. Kupikir mungkin aku sudah melakukan kesalahan fatal hingga hal yang kunanti itu tak kunjung datang.

Well, akhirnya kuputuskan untuk diam dan berdoa. Manakah yang lebih baik untukku. Di mana tempat yang baik menurutku dan Allah tentu saja. Jika tempat magangku yang akan datang benar-benar tempat yang harus kupilih, akan kujalani semuanya dengan sepenuh hati.

Aku jadi ingat dosenku yang  mengatakan bahwa segala sesuatu yang kita tempati, harus kita jalani dengan ikhlas.

Hei, tentu saja tempat yang baik dan memiliki sifat positif untukku dan orang banyak.

Satu pesan dariku yang sedang berusaha membersihkan pikiran dan hati dari kehitaman semata, tetap berdoa dan berharap semoga apa yang kita dapatkan akan menjadikan diri kita menjadi manusia berguna.

Mungkin kebanyakan orang yang membaca tulisan ini akan berpikir bahwa pencarian magangku  ini hanya hal sepele. Namun tidak bagiku yang benar-benar ingin melakukan sesuatu untuk perubahanku nantinya. Ada satu tujuan kenapa aku ingin magang di Majalah Kawanku. Ya, satu tujuan yang tak akan bisa kuceritakan pada siapapun. 

Oh, aku menulis ini sambil mendengarkan lagu Haris J - You Are My Life. Selamat malam.
Share:

Sabtu, 28 Mei 2016

Untukku, Si Pencari Tempat Magang #2


Kisah ini  lanjutan dari aku yang masih dalam pencarian tempat magang. Setelah aku menceritakan bagaimana hebatnya aku yang belum diterima di manapun, kini aku tahu bahwa aku bukan tidak diterima. Aku hanya belum diterima saja.

Baru sekitar dua hari yang lalu aku mendapatkan informasi, pengumuman INews TV akan diumumkan tepat tanggal 1 Juni nanti.

Untuk majalah Kawanku sendiri, kemarin aku baru saja mendapat pesan balasan mengenai kapan pengumuman lolos atau tidaknya aku di sana. Mereka bilang, akan ada informasi lanjutan nanti hari senin. Dan yang lebih membuatku bahagia lagi, mereka bilang bahwa Kawanku memang sedang memiliki kuota untuk anak magang.

Well, itu yang membuatku kembali berharap pada mereka.

Bayangkan saja, selama ini aku stress dan berpusing ria hanya karena memikirkan masalah tidak adanya konfirmasi lanjutan dari kedua media yang ingin sekali kujadikan tempat magang.

Hei, namun nyatanya mereka memang belum memutuskan siapa saja yang akan diterima untuk magang di sana.

Selesailah sudah rasa cemasku menunggu pengumuman. Sambil menunggu jawaban, sudah kuceritakan di tulisan sebelumnya tentang aku yang akan mencari tempat magang di daerahku sendiri, Tangerang.



Kuceritakan kisah menyenangkanku kemarin saat aku berkunjung ke Bantenhits.com (Sekali-kali bukalah situs ini, terutama untuk penduduk Banten).

 Mudahnya aku melamar magang di sana, aku langsung disambut baik oleh pemilik media, namanya Ambadini. Aku memanggilnya Mba Dini.

Sehari sebelum aku berkunjung ke kantor Bantenhits, aku menyempatkan diri untuk pergi ke rumahnya. Ya sekadar memperkenalkan diri saja, tidak salah kan?

Aku memberitahunya bahwa aku sedang mencari tempat magang, aku dari jurusan jurnalistik, aku yang siap untuk ditempatkan di manapun. Mba Dini bilang, berhubung aku dari jurusan jurnalistik, aku ditempatkan di Bantenhits.com saja, situs berita daerah Banten yang baru berjalan selama tiga tahun.  Akhirnya aku diterima untuk magang di sana.

Kemarin, aku bersama Vina, yang juga anak magang di Banten TV, memutuskan untuk pergi bersama ke kantor Bantenhits yang ada di daerah Metropolis, dekat Tangerang City.

Degdegan? tentu saja.

Selama aku menempuh pendidikan di dunia jurnalistik, inilah saatnya aku mampir ke kantor yang akan kujadikan tempat magang jika aku tidak diterima di INews ataupun majalah Kawanku. Hei, aku harus punya rencana B dalam pencarian tempat magang ini.

Kantor Bantenhits ada di bawah apartemen, ruangan yang tidak terlalu besar itu didominasi warna biru dan merah.

Vina mengetuk pintu kantor karena memang pintu itu seringkali dikunci.

"Biasanya sih ada orang yang nginep di dalem," katanya sambil sesekali mengetuk pintu.

Dari dalam, keluar sosok laki-laki tinggi dengan tampang berantakan juga rambut atasnya yang ia kuncir ke belakang. Oh ternyata dia yang menjadi kuncen kantor media hari itu.

Dia yang kutahu namanya Yogi setelah aku berkenalan dengannya. Kami saling berbincang. Alasan kami nyambung dalam pembicaraan, karena kami  sama-sama mahasiswa jurnalistik yang awalnya tidak minat ke dunia jurnalis.

"Gue dulu pernah nazar, gue mau masuk jurusan apa aja kecuali Jurnalistik!" kata Yogi sambil memamerkan deretan gigi rapihnya.

"Magang juga di sini?" tanyaku.

"Iya magang. Magang yang ketagihan." Lagi-lagi dia tertawa.

Kupikir mungkin jika aku magang di satu media, semoga aku betah di sana dan akan kembali ke sana. Seperti Yogi yang magang di Bantenhits, dia pun kembali ke media itu untuk melanjutkan aktifitas yang dulu tidak ia minati.

Dua jam kurang aku menunggu Bang Deni. Dia yang akan kutemui nanti untuk membahas prosedur magangku di sana dan apa saja yang kubutuhkan.

"Hai, Hani ya?" satu laki-laki tinggi memakai kaca mata masuk ke dalam kantor dengan gaya santainya.

Aku mengangguk dan tersenyum. Pasti Bang Deni.

"Ayo, apa aja yang kamu butuhin?" tanya Bang Deni.

"Ini Bang, aku butuh data dari Bantenhits ini buat ngerjain desain job training aku."

Kutunjukkan kertas yang akan menjadi tuntunanku dalam menggerjakan desain job training nanti.

Setelah dia memberikan sejumlah data yang kucari, kami berbicara panjang lebar ke sana kemari mengenai dunia jurnalistik. Bang Deni mengaku bahwa dia bukan dari jurusan jurnalistik sebelumnya. Dia jurusan ekonomi waktu kuliahnya dulu.

Sudah dua orang yang kutemui dalam pencarian tempat magang ini wartawan yang notabene bukan dari dunia jurnalistik. Sebelumnya, Pak Agus yang kutemui di Republika mengambil jurusan pertanian. Kemarin, Bang Deni yang awalnya mengambil jurusan ekonomi.

Masa depan memang tidak bisa ditebak.

"Kamu nggak mau kan masa depan kamu keluar dari jalur jurusan kamu."

Ucapan Bang Deni berbentuk pernyataan. Aku mengangguk membenarkan.

Awal percakapanku dengan Bang Deni, aku bertanya lebih dulu bagaimana tanggpaannya tentang judul media online yang terkadang menipu, atau bisa disebut juga dengan clickbait (Ada di tulisanku sebelumnya berjudul Kuraba Dunia Media Sosial).

Bang Deni tidak terlalu memusingkan hal itu. Ia memang membenarkan bahwa terkadang judul seperti itu memang membuat kesal si pembaca, namun apa daya, judul media online sekarang juga mengikuti jamannya. Kalau tidak ada judul seperti itu, tidak mungkin media itu laku.

Aku mengangguk. Aku juga menceritakan dosenku yang menentang habis-habisan tentang clickbait tersebut. Di sisi lain, aku juga menceritakan dua teman kampusku yang menolak bahwa judul clickbait sudah keluar dari kiprah kepenulisan jurnalistik. Mereka bilang, kalaupun memang judul tersebut mengandung unsur clickbait yang sensasional, selama isi dari berita tersebut sama dengan judul, itu tak jadi masalah.

Kami lanjut membahas tentang sekarang, mengenai situs berita media sosial sudah dengan gamblangnya membeberkan identitas korban. Terutama yang sekarang sedang marak, pelecehan seksual terhadap anak kecil.

Bang Deni membenarkan hal tersebut.

"Kalau kita, kita bakal menaruh inisial terhadap korban. Tapi kalau pelaku, kita bakal membeberkan si pelaku itu. Bukan apa-apa, itu jadi bentuk aware media kepada masyarakat. Nah kecuali kalau korban dan pelaku dalam satu kampung yang sama. Kalau itu, kita nggak bakal nyantumin nama kampung tersebut."

Aku mengangguk.

"Kamu bisa baca web kita."

"Iya Bang, pake inisial kok kemaren aku baca-baca berita di Bantenhits.com," jawabku.

"Nah ayo, kamu mau nanya apa lagi? Saya bukan basic dari dunia jurnalistik, jadi kamu kalau mau tau lebih lanjut tentang kepenulisan, kamu tanya aja sama Bang Darus. Dia anak sastra yang pasti tau tentang kepenulisan."

Aku juga bercerita tentang aku yang tidak memiliki sensitifitas tinggi mengenai peristiwa yang terjadi. Tapi Bang Deni selalu memberiku motifasi tinggi untuk belajar melakukan itu. Padahal kami baru bertemu sekali, namun rasanya dia sudah menjadi mentorku hari itu.

Dia bilang, namanya juga belajar.

"Coba kamu nanti baca koran dulu sebelum dateng ke media tempat magangmu. Kamu lihat apa isu yang sedang hangat. Kamu tilik, apa pertanyaan yang belum ditanya wartawan tentang isu tersebut. Nah koran itu sebenarnya bisa jadi bahan referensi kamu untuk menggali berita lebih lanjut."

Inilah, aku lemah dalam hal membaca koran. Di kampus saja aku hanya membeli koran jika ada tugas yang diberikan dosenku. Kurasa mulai dari sekarang, aku harus rajin membaca berita di pagi hari agar nilai radar kepekaanku terhadap sekitar bisa berkembang.

Mungkin bisa dibilang pilihanku ini cukup terlambat, tapi daripada tidak sama sekali?

Bukan hanya tiga masalah itu. Aku juga bercerita tentang aku yang sekarang sedang menyusun proposal penelitian untuk tugas kuliah Metodologi penelitian. "Aku rencananya mau ngambil masalah yang judul clcikbait Bang," ucapku.

"Ya udah, itu juga bagus tuh."

Akhir perjumpaan, Bang Deni bilang, dia tidak akan memberikan konsekuensi untuk anak magang sekalipun. Salah tetap salah.

"Kita nggak bakal nyuruh kamu buat minta fotocopy-in kertas kok. Ya, paling nyuruh minta bikinin kopi doang. Hahaha.."

Well, itulah perjalananku kemarin dalam pencarian tempat magang. Setidaknya ada satu media yang bersedia menampungku jika aku tidak diterima di dua media yang sedang kutunggu pengumumannya itu.

Sekarang aku baru sadar, perjalananku dalam mencari tempat magang ini membuatku kembali merasakan adanya keinginan untuk kembali menulis.

Dua patah pesan dariku, tetaplah mencari dan menulis.
Share:

Selasa, 24 Mei 2016

Untukku, Si Pencari Tempat Magang

Kuceritakan bertubi-tubi kisah tentang mencari sesuatu yang kukira itu mudah. Aku banyak santai, aku banyak diam, aku banyak meremehkan.

Oh, masih lama, nanti juga dapet.

Itu pikiranku.

Mari kuajak kau berkeliling mencari sesuatu yang selama ini mengganggu pikiranku. Dimuali dengan siapa aku dan mengapa aku mencari hal tersebut.

Aku Hani Widiani, mahasiswi jurnalistik UIN Bandung semester 6. Well, mengingat aku ada di penghujung semester, aku diwajibkan untuk mengisi liburan 3 bulanku dengan melakukan Job Training atau biasa disebut PKL (Praktik Kerja Lapang). Berhubung aku mengambil jurusan jurnalistik, alamat kuharus mengambil jobtre (sapaan hangat PKL) di media yang bonafit, kata dosenku.

Pusing? Ya.

Awal April, aku sempat bertanya ke INews Jakarta, apakah mereka menerima anak magang nantinya?

Setelah mendapat jawaban iya, tanpa babibu lagi aku langsung meluncur ke Jakarta. Kuharap aku berhasil.

Hei, namun nyatanya di sana aku harus menunggu selama 2 jam lebih hanya untuk memberikan CV dan surat keterangan magang dari kampus. Sampai akhirnya orang yang akan kutuju, yang katanya hari itu akan masuk, ternyata tidak masuk kantor karena masih di rumah sakit.

Kecewa? Tentu. Tapi ya namanya juga sakit, siapa yang mau menyalahkan Tuhan?

Akhirnya kuserahkan berkasku pada satpam. Kuhanya bisa berharap, semoga satpam benar-benar memberikan CV dan surat magangku pada orang yang kutuju nantinya. Sekian. Dan selama sebulan lebih tak ada panggilan lagi dari INews.

Aku benar-benar berharap aku diterima di sana. Namun sepertinya Allah masih menyuruhku untuk berusaha lebih keras lagi.

Bukan hanya di INews aku mengirim surat magang di bulan April. Ada Detik.com dan majalah GoGirl. Lagi-lagi, tak ada panggilan.

Bulan Mei pun tiba. Pertengahan bulan aku dan Gio (temanku) berencana untuk mengajukan magang ke Majalah Kawanku, majalah remaja perempuan. Bertanyalah aku melalui message facebook Kawanku. Pertanyaannya hampir sama dengan pertanyaanku ke INews.

Untuk mendapat jawaban mereka, aku harus menunggu sekitar 3 sampai 4 hari. Well, aku bahagia saat mereka menjawab pertanyaanku. Aku hanya disuruh mengirim CV dan contoh tulisanku melalui inbox facebook Kawanku. Selesai, kukirim dua berkas yang mereka minta.

Kutanya, bagaimana pengumuman lolos atau tidaknya?

Mereka jawab, nanti akan dikirim melalui e-mail.

Sudah. Kucoba untuk menunggu sampai hari ini dan detik ini pula. Hampir seminggu belum ada e-mail lolos atau tidaknya dari Kawanku.

Sambil menunggu e-mail balasan, aku memberanikan diriku dan Ibnu (temanku) pergi ke kantor Koran Republika.

Perasaanku? Dagdigdugdeeerrrr.

Sampai di sana, kami bertemu dengan Pak Agus. Beliau ramah, sangat ramah dan mewanti-wanti kami sebelumnya. Aku sempat takut saat beliau berkata : "Kami melakukan magang selama 3 bulan. Tidak ada libur sama sekali."

Waw! Aku hanya diam dan mengangguk. Toh konsekuensi dari anak magang memang seperti itu. Sebelumnya kami ditanya, apakah kami memiliki minat besar untuk menjadi reporter?

Ibnu saat itu menjawab bahwa ia ingin mengubah dunia dengan tulisannya.

Sedangkan aku? Aku yang notabene tidak terlalu senang menulis berita hanya bercerita bahwa dulu aku memang suka dunia menulis, tapi bukan menulis berita. Aku hanya senang menulis cerita.

Kulihat wajah Pak Agus, takut-takut beliau tertawa remeh atau menyalahi jawabanku. Namun nyatanya tidak, beliau tetap memperhatikan ceritaku.

Bohong jika aku berkata bahwa aku bisa menulis berita panjang. Bohong jika aku berkata bahwa aku menyukai dunia perpolotikan atau ekonomi atau hal -hal berbau negara. Aku memutuskan bercerita tentang aku yang suka dunia menulis saja.

Pak Agus mengangguk dan kembali membuka CV mlikku. Kukira ada yang salah dari itu, sampai akhirnya beliau bertanya, di mana nomor kontak yang bisa saya hubungi?

"Itu pak, ada di bawah foto. CV saya formatnya kaya buronan pak," jawabku mencoba bercanda.


"Baik, nanti saya hubungi."

Hei hei, tenang dulu kawan. Maksud hubungi di sana, ya kalau aku diterima. Kalau tidak, ya sudah, berarti idak  dihubungi.

Sampai sekarang, aku menulis hasil pejalanan mencari magangku ini, aku masih belum diterima di manapun. Mungkin ada yang salah dalam diriku, mungkin aku yang terlalu takut, atau mungkin aku yang terlalu banyak berpikir tentang hal-hal yang belum tentu terjadi.

Saat ini juga, aku akan kembali mencari magang di Tangerang, kota asalku. Walaupun aku ingin sekali menginjakkan kakiku di gedung INews TV dan Majalah Kawanku, namun jika ada yang lebih baik, semoga itu bisa menjadi tempat sempurna bagiku.

Kuakhiri ceritaku, Si Pencari Magang.

Sampai jumpa lain waktu. Akan kuceritakan di mana dan bagaimana nantinya aku mendapatkan magang di salah satu media.

Pesanku hanya satu, jangan takut.

Share: