Jumat, 02 Desember 2016

Kata Sederhana Bernama Ciamis




Hai sobat, kita bertemu lagi. Semoga kalian yang sudi membaca tulisan ini dalam keadaan sehat. Di sini, Cibiru, Bandung, awan sedang mendung tanda hujan akan datang.

Kali ini aku akan menulis satu kata bernama Ciamis.

Sobat, tepatnya sekitar jam 10 pagi, setelah pulang dari tahfidz juz ama, aku selalu mengecek dan menunggu berita tentang demo 212.

Dari kemarin, aku tahu berita tentang shaf depan yang sengaja dikosongkan untuk menyambut datangnya warga Ciamis yang rela berjalan kaki. Kemarin pun aku melihat salah satu video santri Ciamis yang sedang siaran langsung melalui facebook-nya. Dia bilang, dia dan rombongan tidak bisa melanjutkan perjalanan karena bus yang disewa tiba-tiba membatalkan secara sepihak.

Bukan hanya warga Ciamis, bus dari semua daerah juga rata-rata diputuskan secara sepihak unuk tidak memberangkatkan mujahid ke Jakarta. Aku selalu ingin berpikir positif, namun nyatanya semua pikiranku hanya kembali pada permainan politik.

Aku selalu mencari, apakah ada video santri-santri Ciamis ketika sampai di Jakarta?

Kemarin aku sempat mencari di beberapa media sosial, namun nihil. Atau mungkin aku yanh tidak begitu teliti mencarinya.

Mari kulanjutkan ceritaku hari ini.

Setelah buka facebook, dengan sendirinya, di ututan paling atas aku menemukan video berjudul "Detik-detik Warga Ciamis Datang." Kalau tidak salah itu judulnya.

Aku membukanya karena memang ingin sekali aku melihat bagaimana wajah mereka dan bagaimana sambutan masyarakat terhadap mereka. Mengingat, kejadian sebelumnya warga Ciamis yang berjalan kaki benar-benar ditunggu oleh warga, termasuk Bandung.

Tak terasa air mataku meleleh. Sedikit lalu menjadi banyak. Kulihat semua orang memberi mereka jalan. Seperti lautan terbelah dua, semua mujahid 212 menyingkir, memberi mereka, mujahid Ciamis itu jalan sambil menyuarakan takbir dengan lantang.

Semua media geger memberitakan mujahid Ciamis yang benar-benar melakukan perjalanan mereka. Bahkan berita mereka sudah masuk ke sebagian media internasional.

Sambil berjalan, mujahid Ciamis itu ada yang menangis sambil membawa bendera merah putih, terus berteriak takbir, ada juga yang wajahnya sudah terlihat lelah. Namun lelah mereka terbayar dengan sambutan luar biasa dari mujahid lain yang sudah menunggu mereka. Pelukan dan ciuman pipi pun diberikan mujahid 212 kepada mujahid Ciamis.

Aku yang di sini, hanya bisa menangis sambil tersenyum. Kata sederhana bernama Ciamis membuat bulu kudukku merinding. Mereka membangun semangat mujahid lain untuk terus mendukung agamanya walau ada halangan dan rintangan yang mereka dapat.

Lihat betapa mereka, mujahid Ciamis sangat ditunggu kedatangannya.

Salamku dari Bandung.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar