Rabu, 07 Desember 2016

Hadirnya Dua Mangkuk Ramen



Gerobak Ramen, 19.30 WIB.

Malam itu  aku memutuskan untuk bertemu sahabatku. Dia ingin mencicipi kembali rasanya ramen sambil berbincang ria denganku. Malam yang dingin, nikmat sekali rasanya jika makan ramen. Kuahnya yang kental dan sambalnya yang cukup membuat perutku sakit menjadi santapan kami malam itu.

Aku memesan original ramen dan lemon tea dingin. Sedangkan Nida, sahabatku, memesan curry ramen dan green tea sebagai penghilang dahaga.

Sebelum pesanan sampai, kami berbincang mengenai skripsi dan semua hal yang berkaitan dengan penelitian. Mengingat kami sudah masuk ke babak final di kuliah. Doakan semoga kami bisa lulus tepat pada waktunya.

Harum khas ramen Gerobak Ramen membuat perutku semakin bunyi. Di depanku sudah terhidang pesanan kami. Sambil makan, sesekali kami berbincang tentang suatu hal yang berkaitan dengan Islam, penistaan agama, aksi demo damai, keajaiban super damai 212, juga tentang kami yang tidak tahu hidup di ranah apa.

"Sekarang tuh aku gak tau harus percaya sama siapa," ujar Nida tiba-tiba.

"Kenapa emang?"

"Hon, kita gak tau kisah sebenarnya dari semua hal ini. Kita gak tau apakah ada orang-orang yang mengangkat isu ini sebagai keuntungan dalam hal politik atau enggak."

Pembicaraan kami semakin serius.

Aku juga setuju dengan ucapannya. Sudah bertebaran berita di media sosial tentang hal itu. Si dia yang disalahkan, si ini yang ditangkap, si itu yang dilaporkan, si dia yang mendukung tapi menusuk, dan masih banyak lagi 'si' yang lainnya.

Di sana mengaku benar, di sini mengaku benar. Semua bisa tertutup dengan bau harum bernama agama. Aku bahkan sempat tak yakin mana yang benar dan mana yang salah. Aku bukan hanya berbicara tentang gubernur Jakarta, tapi semuanya termasuk media dan orang-orang.

Aku menyeruput ramen sebagai penetralisir otakku. Nikmatnya. Angin malam yang dingin saja bisa dikalahkan oleh semangkuk ramen pedas.

Aku terdiam saat itu. Aku berpikir, salahkah aku jika aku memiliki persepsi seperti itu?

Namu akhirnya aku sadar dan memutuskan untuk meyakini satu hal yang pasti. Jika Allah memberi jalan, maka jalani itu semua. Aku akan selalu percaya bahwa tak ada yang sia-sia di dunia ini. Pasti ada hikmah dibalik itu. Yakini saja, hikmah pasti tersembunyi di balik suatu kejadian. Entah itu negatif atau positif.

Akhirnya aku memutuskan untuk tidak membenarkan aku menyetujui ucapan sahabatku itu. Lebih baik aku mempercayai diriku dan Allah, menikmati hangatnya malam, bersatu dengan angin segar dan lelehan kuah kental ramen di mulutku.

Sekarang yang sedang gencar diberitakan ada Sari Roti dan Metro TV. Silahkan amati beritanya dengan baik, maka kita akan tahu mana yang salah dan mana yang benar.


Share:

1 komentar: