Sabtu, 04 Oktober 2014

Snow, Shoes, White


Seorang wanita cantik, dengan kulit putih dan bibir yang kian memerah , mata bulat, dan rambut pirang sebahu. Wanita itu mulai mengeratkan coat agar badannya terlindungi dari serangan butiran putih yang turun dengan lembut dan teratur. Salju. Asap dingin yang keluar dari mulut sang wanita cantik, membuat dirinya harus mengusapkan kedua pergelangan tangannya untuk mengurangi dingin yang mulai masuk sampai tulang rusuknya.

Menunggu seseorang merupakan rutinitasnya kini setiap salju turun. 4 tahun sudah wanita cantik itu hanya berdiam diri di bawah pohon rindang yang sebagian sudah tertutup oleh salju. Menunggu adalah hal yang membosankan, tapi tidak untuk wanita itu. Alasannya hanyalah sebuah kepercayaan. Ya, percaya bahwa suatu saat nanti ia akan melihat senyuman lembut yang ia suka, akan melihat cengiran bodohnya, akan mendengar suara berat itu kembali. Segalanya hanya terkait dengan sebuah kepercayaan dalam hati.

Salju mungkin akan mengejeknya karena kegiatan menunggunya yang tak kunjung berakhir. Salju mungkin akan tersenyum miris akan dirinya yang masih mempercayai perkataan yang suatu saat mungkin akan menjadi kebohongan terbesar. Salju mungkin akan tertawa karena dirinya yang memang terlalu bodoh. Tapi inilah kenyataan. Ia masih dan akan tetap menunggu. 

'Aku akan kembali dipertengahan salju turun. Kau harus menungguku, kau mengerti?' Kata-kata terakhir itu selalu terngiang di telinganya bak sebuah bisikan yang tak akan pernah ingin pergi darinya.

Wanita itu masih menggosokkan kedua pergelangan tangannya. Ia memainkan kakinya dengan salju yang sebagian sudah menutupi sepatu putihnya. Sepatu yang akan selalu ia pakai ketika ia harus menunggu seperti ini. 

'Ini sepatu untukmu. Aku memilih warna putih, karena aku menyukai salju. Aku memiliki sepatu yang sama denganmu. Jadi, jaga sepatu ini untukku'

Wanita itu kembali melihat persimpangan jalan. Nihil. Masih belum ada tanda-tanda seseorang akan datang menghampirinya. Kekecawaan yang selalu ia rasakan selama 4 tahun terakhir ini terkadang membuatnya harus berpikir dua kali, untuk tetap menunggu atau pergi dan tak akan pernah kembali lagi kemari.

Tapi sang raga tidak sependapat dengan pikirannya. Sejauh apapun ia mencoba  menguatkan hatinya untuk pergi dan menghilangkan kepercayaannya, kakinya tetap akan membawanya kemari. Tenggelam dalam rasa sebuah kepercayaan. 

Hari sudah mulai gelap, jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Matanya yang kian sayu membuatnya terdiam menahan sakit. Harus berapa lama lagi kepercayaan ini  bersarang di dalam hatinya, sedangkan seseorang yang ia tunggu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya sedikutpun. Ia memutuskan untuk menyerah. Wanita cantik itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku coat lalu berbalik. Entah, apakah jalan yang dipilihnya kali ini benar atau tidak. Tapi ia lelah.

Ia memutuskan pergi meninggalkan tempat itu dengan kepala yang tertunduk, seakan aspal terlihat begitu menarik di matanya kini. Tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat sepatu yang sama persis dengannya sudah bersentuhan dengan ujung sepatu putihnya. Diam. Hanya salju yang tetap setia turun menghujam tubuh kedua orang tersebut.

'Kau kembali' 

Setelah 4 tahun, akhirnya wanita cantik itu dapat tersenyum menantikan jawaban dari sebuah kepercayaan yang memang datang menghampirinya. Kekecewaan mulai menghilang, berganti dengan ketenangan hati.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar