Senin, 14 Desember 2015

Mafia dan Para Pencari Rahasia

Ada banyak sekali bumbu di dunia ini. Bumbu kebahagiaan, kesedihan, penasaran, kekhawatiran, dan masih banyak lagi. Tapi ada satu bumbu yang membuat kita, manusia, tertarik. Rahasia.

••••••••

Aku akan menceritakan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku. Kejadian ini baru saja aku alami. Dua hari lalu. Rasanya ingin kembali ke hari, menit, dan detik itu juga. Sayang, hanya jarum jam saja yang dapat diotak-atik. Tapi tidak untuk waktunya.

Well, kita kembali ke alam sadar.

Minggu, 13 Desember 2015.

Hari itu aku bersama mereka -Mafia- sedang melakukan misi rahasia. Misi yang mungkin tak akan terulang kembali. Jika kita tidak mengulangnya di kemudian hari, tentu saja. Tapi semoga tidak. Aku harus mengulang hari itu, di waktu yang berbeda. 

Bermodalkan kain hitam panjang. Sangaaatt panjang. Guntingan huruf-huruf lucu berwarna-warni, lapisan koran dibentuk menjadi sebuah mangkok persegi. Sederhana. Namun kesederhanaan itulah awal misi rahasia kita.

Boleh aku mengubah kata menjadi 'kami' ? Sebagai bentuk kebersamaan kami. Boleh. Karena aku penulisnya, dan kalian yang penasarannya.

Ruangan itu berdinding putih dan memanjang. Cukup untuk masuk lebih dari 40 orang. Kami menunggu mereka datang. Mereka. Para Pencari Rahasia. 

Aku melihat dua orang laki-laki sudah memasuki ruangan. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB. Apa bumbu rahasia kami kurang gurih untuk dinikmati? Begitulah rasa khawatir yang hinggap di diri kami. Tentu saja aku juga ikut. Resah. 

Dua laki-laki yang masuk tadi hanya diam. Memainkan ponsel mereka. Tubuh keduanya sama-sama tinggi. Hanya saja, yang satu kurus. Yang satu lagi agak gemuk. Bukan gendut. 

13.30 WIB, mereka masih belum juga datang. Oh ayolah Para Pencari Rahasia. Aku ingin kalian datang untuk setidaknya mencicipi saja. Apakah sesulit itu? 

"Kasih saya waktu sampai jam setengah empat," ucap Fei, teman mafiaku. Aku sebut mafia, karena kami sedang melakukan misi rahasia.

Ups, aku belum memberitahu kalian tentang mafia ini sebelumnya. 

Kami adalah 15 mafia pemilik rahasia besar. Kami memakai kemeja hitam. Karena ketua kami memerintahkan seperti itu. Ketua, siapa yang mau melawannya? 

Baik. Kembali ke cerita.

Fei mengayuh sepedahnya. Aku tak tahu ke mana laki-laki itu akan pergi. Tapi, biarkan saja. Toh ini lingkungannya. Dia yang lebih paham. Kami hanya menunggunya. Menunggu kabar baik darinya. Kurasa ia berkeliling mencari Para Pencari Rahasia. Aku hanya menebak.

Tepat pukul 15.30 WIB, Fei kembali. Ia membawa kabar baik. Para Pencari Rahasia itu berdatangan. Mereka membawa kertas dan pulpen di tangan mereka. Walau sebagian ada yang datang dengan tangan kosong. Tapi tak apa. Setidaknya mereka sudah mencicipi bumbu yang kami buat selama beberapa hari.

Dua mafia perempuan, masuk menyerbu Para Pencari Rahasia. Gin dan En. Itu nama mereka berdua. Tenang saja kawan, mereka mafia lembut dan ceria. Tak akan menyakiti siapapun. Karena bumbu rahasia ini, memang merekalah yang memulainya. Beunta, Baca, berkarnya. Itu tiga kata yang sudah aku keluarkan untuk misi rahasia ini. 

Ah, untuk kalian yang tidak tahu beunta, itu sama saja dengan buka mata atau melihat. 

Rahasia pertama, Fei yang membuka kartunya. Tentang jati diri. Para Pencari Rahasia itu terus menatap Fei dengan kerutan di dahi dan mata yang kian menyipit tajam. Serius. Santai saja kawan. Ini baru permulaan.

Kartu kedua. Ibn yang membuka. Tanpa basa-basi, mafia lain memberi Para Pencari Rahasia itusebuah kertas putih. Ini untuk visi yang akan kita jalankan. Menemukan misi rahasia.

Kartu ketiga. Hae yang membuka. Laki-laki berbadan tinggi itu ketua kami, para mafia. Hamya dia satu-satunya yang memakai kemeja hitam dengan kancing atas dan bawah yang terbuka. Di dalamnya, ia memakai kaos putih. Ya, namanya juga ketua. Oh satu lagi. Dan hanya dia yang membawa ponsel saat itu. Lagi-lagi aku hanya bisa bilang, dia ketua. 

Kartu keempat. Maeng yang membuka. Dia juga mafia berbadan timggi. Namun kurus dan kepalanya tak memiliki rambut. Ada. Tapi sedikit. Ia memiliki kekuatan. Keterampilan tangannya taka akan bisa dikalahkan oleh mafia lain. Penasaran? Lihatlah Para Pencari Rahasia itu. Mata mereka tak berkedip. Terpesona. Bahkan aku yang satu kelompok dengah Maeng saja, masih terkagum-kagum dengan kekuatannya itu.

Untuk menguak suatu rahasia, pasti ada tantangannya. Di sanalah dua mafia perempuan bernama Fau dan Ochin datang. Mereka membawa tantangan untuk Para Pencari Rahasia. Tantangannya, satu tali rahasia, untuk satu orang menjadi banyak orang. Seperti itu kira-kira.

Waktu memang tak bisa dikalahkan. Sudah pukul 17.00 WIB. Waktunya mereka mengetahui misi rahasia kami. 

"Sekarang aku mau jadi penulis."

"Aku jadi suka kaligrafi."

"Aku mau jadi designer."

"Ternyata  hobi kita bisa menghasilkan uang."

Rahasia, unlock! 

Para Pencari Rahasia itu menemukan rahasianya masing-masing. Jati diri mereka di masa yang akan datang. Jika tidak ada masa kini, maka tidak akan ada masa depan. Bukankah seperti it,  para mafia?

"YA!"

••••••••••••••••••••••••••••••••••••MAFIA•••••••••••••••PPR••••••••••••••••••••


NB : Di bawah ini, ada link dari tokoh-tokoh cerita di atas. 

https://drive.google.com/folderview?id=0B7fH-pspKylUVWMxX2x2a2lfc2c&usp=sharing




Share:

0 komentar:

Posting Komentar