Kuceritakan bagaimana kami, teman kelasnya yang dari Bandung benar-benar pergi ke Pangandaran untuk menghadiri akad nikah Elang Ratna Sari. Mungkin akan kupanggil dia dengan nama Elang saja.
Kemarin, 25 Maret 2016, sembilan wanita Bandung yang menimba ilmu di kampus yang sama, jurusan yang sama di tahun yang sama pula, sudah bersiap pergi ke pangandaran pukul 17.30 WIB.
Biar kuberitahu nama panggilan mereka saja. Imas dan Hamidah, dua wanita yang tidak kuat berkendara jauh. Gio yang asmanya sedang kambuh saat itu. Febi, Faula, Gina, dan aku yang duduk di bangku belakang. Mungkin kalian sudah sering mendengar istilah dapur yang selalu berisik.
Perjalanan dimulai dengan lancar namun macet. Sampai di Rancaekek, semua berubah seperti negara di film Avatar, menggemparkan dan petjah.
Mobil kami mulai memasuki kawasan Bandung yang terkenal dengan kata banjir. Bahkan banjir sudah masuk ke dalam knalpot. Terpaksa mobil kami didorong oleh warga yang ada di pinggir jalan. Mereka saling membantu satu sama lain.
Hei, kami selaku wanita kuat pun akhirnya turun tangan saat mobil benar-benar mogok. Menurutku ini akan menjadi pengalaman berharga yang pernah kumiliki di semester 6 ini.
Hai Elang, kami berjuang untukmu, itu yang kami pikirkan saat itu. Apapun akan kami lakukan agar mobil itu jalan kembali.
Namun sayang, Allah masih menguji kesabaran kami. Terjadi kesalahan dalam mesin, yang aku pun tak tahu apa yang salah dengan mesin mobilnya. Dengan senang hati kami tetap di luar mobil untuk berjaga-jaga.
Berkat doa dan kerja keras, akhirnya mobil kembali berfungsi. Pukul 21.00 WIB kami melanjutkan perjalanan. Kupikir itu semua adalah ujian yang memang harus kami alami untuk mencapai kebahagiaan nanti di ujung sana.
Jadi ingat kata-kata Gina, "Semoga weh ini teh awal buat kesenangan nanti."
Selama perjalanan kami tidak luput dari membicarakan tentang jodoh, putus cinta, gosip gagal nikah, Imas yang mulai tidak enak badan, sampai masalah hal sepele yang tidak mesti diperbincangkan pun bisa dijadikan sebagai bahan lelucon.
Kalian tahu? Diantara kami yang berkunjung ke Pangandaran, tidak ada satu pun yang tahu di mana rumah Elang. Sungguh.
Kami harus menghubungi Elang beberapa kali dan bertanya ke warga di mana letak Puskesmas Kalipucang, Banjaran. Karena letak rumah Elang dekat dengan Puskesmas tersebut.
Kami berkendara sangat jauh sekali. Dari mulai kawasan terang, kawasan gelap tanpa mobil satu pun, sampai kawasan terang kembali sudah kami lalui.
Tepat pukul 01.00 WIB kami menemukan rumah calon pengantin perempuan, Elang. Wah, aku melihat wajahnya yang semakin bersinar, wajahnya yang semakin dewasa, senyumannya yang menyiratkan kebahagiaan menambah kesan manis untuk hari esok, hari spesialnya.
Hah, perjalanan ini memakan waktu yang cukup lama hingga kami tertidur dengan pulas di rumah Elang. Sebenarnya kami sedikit merasa bersalah saat tahu Elang masih velum tidur karena menunggu kami datang. Seharusnya calon pengantin tidur lebih awal untuk menanti hari bahagianya. Maaf.
Keesokan harinya, tepatnya hari ini, kami sudah bersiap dan menunggu pengantin laki-laki datang. Calon suami Elang bernama Anggun Cahya Gumilar. Kami menunggu keluarga pihak sana.
Kuberitahu hal paling menarik sekaligus membahagiakan dalam hidupku. Di acara akad nikah temanku sendiri, aku menjadi qari -Pembaca Al-quran- di sana. Dan itu pengalaman pertamaku, membaca quran di hadapan banyak orang!! Dan ini di hadapan keluarga pihak laki-laki!! Bayangkan bagaimana gemetarnya tagan dan kakiku saat maju untuk membaca ayat quran.
Bukan hanya aku yang turut berpartisipasi dalam pernikahannya. Semua temanku juga turut andil dalam acara. Faula sebagai pembaca sholawat dan pemegang kamera. Gina dan Gio pun sama, tugas mereka mengambil video saat pihak laki-laki datang. Imas mengambil foto, Hamidah yang kusuruh untuk memberi sinyal pada Gina dan Gio, juga Febi dan Ema yang....???? Mmmm.. Aku tak tahu pekerjaan mereka berdua itu sebenarnya apa -_-
Selama ini aku hanya melihat Anggun dari foto saja. Ingin sekali aku tertawa saat melihat wajah tegangnya, jemarinya yang ia mainkan untuk mengusir ketegangannya, juga wajah innocent yang ia keluarkan untuk tetap stay cool. Nilai seratus untuk Anggun!
Pukul 09.20 WIB, ijab qabul di mulai. Anggun mengucapkan janjinya dengan lancar. Sah!
Hei, temanku sudah menikah hari ini!!!
Saat pembacaan ijab qabul itu, Gina menangis. Aku tak tahu kenapa dia mengeluarkan air mata.
Saat ijab qabul, Elang masih di dalam kamar. Setelah ijab qabul selesai, wanita cantik nan istimewa itu keluar dari sarangnya. Dia cantik dengan kebaya putihnya. Dia terlihat dewasa dengan make up yang dipoles di wajahnya. Kulihat Anggun mencium kening Elang. Hei, bukankah mereka sudah muhrim sekarang? Ya, tentu saja!
Tak ada kegiatan penting kecuali berfoto ria bersama pengantin. Tak bisa kami ucapkan kata indah selain selamat menempuh hidup baru dan bawalah bahtera rumah tangga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.
Tidak seru rasanya jika kita ke Pangandaran, namun tak mengunjungi sang pantai untuk sekedar berkenalan.



0 komentar:
Posting Komentar